GPMI: Kota Serang Darurat Maksiat

SERANG, (KB).- Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) Kota Serang menyatakan saat ini Kota Serang sudah darurat maksiat, hal itu terlihat dengan nyata ditempat-tempat terbuka seperti Alun-alun Kota Serang, dimana perempuan malam berkeliaran dengan leluasa tanpa malu.

“Waduh angkanya sudah luar biasa, saya bilang sudah darurat. Teman-teman bisa nongkrong di Alun-alun bagaimana berkeliaran perempuan jalanan,” kata ketua umum GPMI Kota Serang, Ipul Syaifullah usai rapat pengurus disalah satu rumah makan di Kota Serang, Jum’at (5/10/2018).

Menurutnya, Kota Serang yang merupakan kota yang terkenal religius, saat ini sudah mulai berkembang tempat-tempat prostitusi. Meskipun mayoritas Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kota Serang merupakan pendatang. Tetapi hal itu bisa mengkontaminasi masyarakat Kota Serang asli.

“Tempat-tempat prostitusi merajalela dan nyaris tak terelakan perkembangannya dan butuh orang yang memiliki keberanian untuk di eliminir,” ucapnya.

Selain itu, Narkoba yang dulu sangat tabu bagi masyarakat Kota Serang. Saat ini, kata Ipul, sudah bukan hal yang aneh lagi saat mendengar masyarakat Kota Serang ditangkap akibat kasus Narkoba. Untuk itu menurutnya GPMI hadir sebagai organisasi yang akan konsentrasi ke ranah itu.

“Misi kita dibentuk GPMI itu bagaimana gerakan ini bisa mewarnai kaum muslimin di Kota Serang, untuk meminimalisir tingkat pelaku maksiat di Kota Serang yang saat ini sudah sangat memprihatinkan,” tuturnya.

Dalam pergerakannya, Ipul menegaskan, GPMI tidak akan menabrak hukum di Indonesia. Tetapi, bagaimana melakukan pendekatan kepada pelaku dengan selalu berkoordinasi dengan stakeholder lainnya seperti MUI dan Kepolisian.

“Kita akan edukasi, pendekatan personal approach dengan MUI dengan Bazda bagaimana Kota Serang bersih dari pelaku-pelaku itu dengan kepolisian juga kita hearing ke dewan,” katanya.

Menurutnya, selama ini pelaku hanya ditangkap dan kemudian dilepas kembali tanpa ada pembinaannya, sehingga ia mengharapkan pemerintah daerah hadir untuk melakukan pembinaan agar mereka tidak kembali turun ke jalan melakukan aktifitas prostitusinya.

“Negara ini harus hadir, (Pemkot) saya lihat kurang maksimal karena tidak ada anggaran untuk membina mereka, mereka ditangkapin tapi tidak dibina,” ujarnya. (Masykur)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here