Sabtu, 15 Desember 2018

GMNI Gelar Aksi di Depan Kantor Bupati Lebak

LEBAK, (KB).- Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Lebak menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang kantor Bupati Lebak, Kamis (6/12/2018). Aksi yang digelar mereka kali ini berkaitan dengan hari jadi Kabupaten Lebak ke 190 tahun.

Aksi yang dilakukan para aktivis berkaitan dengan peringatan HUT Kabupaten Lebak itu merupakan yang ketiga kalinya. Sebelumnya aksi serupa juga telah dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa Lebak bertepatan dengan peringatan HUT lebak pada tanggal 2 Desember lalu. Sehari kemudian, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga melakukan aksi serupa di depan kantor Bupati.

Dalam orasinya mahasiswa menyebut, seharusnya Kabupaten Lebak di usia ke 190 tahun sudah menjadi kabupaten yang maju dari segi infrastuktur, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Namun, hingga hari ini Kabupaten Lebak masih dicap menjadi kabupaten yang tertinggal dari segala sudut, termasuk sisi kemanusiaan yang masih sangat memprihatinkan dan luput dari pandangan pemangku kebijakan.

“Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya isu kekerasan perempuan dan anak. Ironisnya, para korban sangat enggan melaporkan kejadian yang dialaminya. Sebab, kurangnya sosialisasi Pemkab Lebak di bidang perlindungan. Ketidak tahuan kemana mereka harus melaporkan dan berlindung, terutama warga di pelosok dan para perempuan yang sering menjadi korban kekerasan seksual menjadi bukti tidak adanya sosialisas,” ujar seorang orator.

Selain itu, pendemo juga menyoal bidang pariwisata yang menjadi fokus dan tema HUT Lebak, salah satunya kawasan pantai selatan sebagai destinasi pariwisata yang digembar gembor akan menunjang perekonomian bagi warga sekitar.

“Persoalan yang dialami hari ini adalah dengan adanya pabrik yang beroperasi disekitar pantai akan membuat pantai menjadi tercemar, ini sangat merugikan baik dari segi pariwisata, warga dan ekosistem di laut itu sendiri. Kami dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menuntut Pemkab Lebak memberikan dan membuat tempat pelayanan serta pengaduan di setiap pelosok pelosok desa bagi korban kekerasan perempuan dan anak. Mendesak pemerintah pusat agar segera menyelesaikan dan mengesahkan RUU penghapusan kekerasan Seksual,” ujar Sandy Maulana, Korlap aksi.

Upaya persuasif Pemkab Lebak melalui Staf Ahli Bupati, Robert Chandra, untuk berdialog dengan para pendemo tak membuahkan hasil. Bahkan pendemo sempat melakukan aksi bakar ban. Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi puluhan aktivis mahasiswa dari GMNI Lebak tersebut sempat memanas.

Kondisi tersebut dipicu ketika mahasiswa mencoba merangsek kedepan pintu gerbang kantor bupati Lebak, namun dihalau oleh petugas kepolisian yang mengamankan aksi. Aksi saling dorong pun tak dapat dihindari antara petugas dan mahasiswa dari GMNI yang menggelar aksi. (Lugay/TS)*


Sekilas Info

Rencana Penertiban Batas Sempandan Pantai, Langkah Gubernur Diapresiasi

LEBAK, (KB).- Sejumlah warga Lebak Selatan (Baksel) mengapresiasi rencana Gubernur Banten yang akan melakukan penertiban Batas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *