Di Provinsi Banten, Gerakan Radikal tak Terorganisir

SERANG, (KB).- Berdasarakan data Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Banten, Banten menjadi salah satu daerah terbilang rawan disusupi oleh gerakan radikal. Hal tersebut dilihat dari banyaknya warga Banten yang tertangkap Densus 88, karena diduga masuk ke dalam jaringan teror. Sekretaris FKPT Banten, Amas Tadjuddin mengatakan, gerakan radikal di Banten tidak terorganisir dalam organisasi, seperti ISIS.

Namun, secara personal, banyak warga yang terang-terangan mendukung gerakan radikal tersebut. Data tersebut juga didukung oleh adanya warga Banten yang diduga terlibat gerakan teror di Filipina, beberapa waktu lalu. “Ada warga Banten yang diduga terlibat dalam gerakan radikal di Filipina,” katanya seusai diskusi pencegahan terorisme melalui media massa yang digelar FKPT Banten di salah satu hotel Kota Serang, Senin (19/6/2017).

Dalam sejarah, di Banten sudah tumbuh gerakan radikal, seperti banyaknya ASN yang masuk ke dalam organisasi Negara Islam Indonesia (NII) pada 80-an. “Sesungguhnya, gerakan radikal itu sangat berpotensi berkembang di Banten. Karena, dilihat dari faktor kesejarahan sesungguhnya kelompok anti Pancasila yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia di Banten sudah tumbuh subur,” ujarnya.
Meski demikian, pendukung gerakan radikal di Banten cenderung tidak berkembang. Kebanyakan yang mendukung gerakan radikal hanya meneruskan paham turunan, belum melebar ke pihak lain. “Mereka yang sejak awal menjadi pejuang NII. Kalau bicara NII sudah berakar urat di Banten,” ucapnya.

Ia menuturkan, pola perekrutan gerakan radikal paling banyak dilakukan, yaitu melalui pertemanan, pertemanan dinilai paling ampuh untuk mengubah pola pikir seseorang. “Pertemanan menjadi cara paling ampuh, selanjutnya melalui iming-iming, diajak bekerja dengan honor tinggi ternyata direkrut jadi pengantin untuk melakukan bom bunuh diri,” tuturnya.  Perkembangan gerakan radikal dapat dipicu oleh dendam, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan ideologi. Oleh karena itu, penyelesaian gerakan radikal akan tuntas apabila masalah tersebut juga dapat diselesaikan. “Jadi, kalau ditangkap dipenjarakan tidak akan pernah selesai,” katanya.

Ia mengajak seluruh warga Banten sama-sama terlibat dalam upaya pencegahan gerakan radikal dengan cara menyadarkan warga yang terindikasi berpaham radikal. “Mereka yang berpaham radikal bukan musuh kami, tapi mereka orang yang harus kami sadarkan pola pikirnya,” ujarnya.  Sementara, Kepala Kesbangpol Provinsi Banten, Rusdjiman memastikan Idulfitri 1438 Hirjiah akan berjalan dengan damai, tidak diganggu oleh aksi terorisme.  “Sejauh menjelang pelaksanaan Lebaran di Banten tidak ada potensi munculnya gerakan radikal. Banten masih aman, meskipun ada beberapa warga yang mendukung gerakan radikal ini,” ucapnya. (H-51)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here