Rabu, 26 September 2018

Generasi Era Disrupsi

Akhir-akhir ini kita sedang menghadapi fenomena disrupsi. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, disrupsi didefinisikan hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan fundamental atau mendasar. Yaitu evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia.

Digitalisasi adalah akibat dari evolusi teknologi (terutama informasi) yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam berusaha. Sebagian pihak mengatakan bahwa disrupsi adalah sebuah ancaman. Namun banyak pihak pula mengatakan kondisi saat ini adalah peluang.

Era disrupsi ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola dunia bisnis. Kemunculan transportasi daring adalah salah satu dampaknya yang paling populer di Indonesia.

Disrupsi (disruption) istilah yang dipopulerkan oleh Clayton Christensen sebagai kelanjutan dari tradisi berpikir “harus berkompetisi, untuk bisa menang (for you to win, you’ve got to make somebody lose)”, ala Michael Porter. Kedua profesor selebritis Harvard Business School ini telah mendominasi dunai bisnis dalam 22-37 tahun terakhir.

Kita harus bisa segera beradaptasi, dan mengenali bagaimana keadaan sekarang yang penuh dengan perubahan. Tidak lagi sekedar berubah, melainkan langsung bergeser atau menggantikan yang sudah berdiri sebelumnya dalam waktu yang cepat.

Pergeseran segmen konsumen yang sebelumnya generasi X kini menjadi generasi milenial memerlukan pengembangan dari berbagai aspek termasuk layanan. Jika kita mengikuti perkembangan selama ini yang terjadi, kita akan menyadari kalau tanda-tanda perubahan tersebut sudah terbaca sejak beberapa tahun lalu.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat tersebut memang mengejutkan beragam pihak. Ada yang senang dan ada yang merasa terancam. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Perusahaan dari segala jenjang dan industri perlu menerapkan teknologi baru guna menciptakan model-model bisnis canggih yang mampu menghadirkan nilai yang lebih besar bagi para pelanggan mereka karena ada lawan-lawan yang tidak kelihatan yang berusaha untuk menggeser kedudukan mereka.

Lawan-lawan tersebut tidak memiliki bentuk fisik yang sama dengan perusahaan-perusahaan yang besar, tetapi bisa menyaingi mereka. Dengan meluasnya gaya hidup digital, para konsumen kini dimanjakan dengan beragai pilihan dan memiliki ekspektasi yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Di era disrupsi kita harus mempunyai pilihan, membentuk ulang (reshape) atau menciptakan yang baru (create). Jika kita memutuskan untuk reshape, maka kita bisa melakukan inovasi dari produk atau layanan yang sudah dimiliki. Sedangkan jika ingin membuat yang baru, kita harus berani memiliki inovasi yang sesuai dengan kebiasaan konsumen.

Memang terdengar klise, namun apabila kita dapat membacanya situasi dengan baik kemudian melihat peluang yang ada, maka kitapun bisa bertahan di era disrupsi. Era disrupsi yang tengah kita alami ini, tidak bisa dihindari, tidak bisa lagi hanya menyalahkan keadaan tanpa merumuskan strategi untuk dapat bertahan, sehingga tetap keluar sebagai pemenang. Beberapa contoh bisnis yang menjadi korban disrupsi diantaranya adalah Kodak, Nokia, Mall dan Pusat Grosir atau Taxi Konvensional dan lain-lain.

Pakar manajemen Rhenaldi Kasali menyarankan agar manajemen BUMN memperbanyak jumlah pegawai usia muda untuk menghadapi tantangan era disrupsi. Hal ini agar manajemen BUMN memiliki banyak talenta “pendobrak zona nyaman” yang sekaligus memahami trend teknologi baru. Karena orang muda itu yang biasanya menguasai teknologi terkini, tahan banting, kerjanya sampai malam dan masih semangat mengejar impian,” kata Rhenaldi.

Generasi muda harus siap menghadapi era disrupsi dengan memiliki etos kerja, sikap terbuka, serta mampu menjadi problema solving untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat karena di tangan generasi muda terletak kunci keberhasilan Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan Presiden berkali-kali meminta Perguruan Tinggi untuk mampu menyerap manfaat perkembangan pesat inovasi teknologi. Direktur Jendral Sumber Daya IPTEK dan DIKTI Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengaku sudah menyiapkan rencana induk pengembangan ilmu pelatihan dan pendidikan tinggi hingga 2025.

Rencana induk tersebut mengacu kepada instruksi dari Menristekdikti Mohamad Nasir yang menerjemahkan keinginan Presiden Joko Widodo. Paling tidak jangan sampai ada program studi yang tidak relevan dengan tantangan masa depan.

Kemenristekdikti memprioritaskan 3 bidang studi untuk menghadapi era disrupsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yaitu bidang studi teknik, kesehatan dan tenaga kependidikan. Ketiga bidang studi tersebut diyakini dapat menopang kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam menjalani dunia pendidikan, bisnis dan usaha berbasis TIK.

Para pengusaha dan para pendidik agar tidak terperangkap dengan kesuksesan masa lalu. Jangan sampai perusahaan atau organisasi menjadi Lazy Company ataupun Zombi Company karena tidak tanggap dengan perubahan. Situasi di mana pergeseran persaingan bisnis atau persaingan kerja tidak lagi linear.

Perubahannya sangat cepat. Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif kreatif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transoprtasi, sosial masyarakat hingga pendidikan.

Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah. Berinovasi atau tertinggal. Tidak diragukan lagi disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti Uber atau Gojek, Grab dan lain-lain akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan.

Kegiatan belajar mengajar akan berubah total. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pola pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, beragam dan menyeluruh.

Fungsi guru atau pendidik pada era digital ini berbeda dibandingkan guru masa lalu. Kini guru/pendidik/dosen tidak mungkin mampu bersaing dengan mesin dalam hal melaksanakan pekerjaan hafalan, hitungan, hingga pencarian sumber informasi. Mesin jauh lebih cerdas, berpengetahuan dan efektif dibandingkan kita karena tidak pernah lelah melaksanakan tugas.

Karena itu fungsi pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, karakter, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itu yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Pertanyaannya adalah, apakah para pendidik kita saat ini telah disiapkan untuk menghadapi perubahan peran ini?

Hal ini bukan hanya persoalan mengganti kelas tatap muka konvensional menjadi kelas dunia maya. Namun yang lebih penting adalah revolusi peran pendidik sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator dalam mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter serta team work para generasi muda yang dibutuhkan pada masa depan.

Disrupsi sering dianggap ancaman tanpa kita sadari kalau teknologi telah mengubah banyak hal. Perubahan akibat teknologi ini tengah terjadi serempak di seluruh dunia, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia seperti pendidikan dan gaya hidup sampai model kepemimpinan.

Digital leadership merupakan model kepemimpinan baru yang berkembang dalam era disrupsi. Selain itu, keberanian untuk berinvestasi di teknologi terbaru dan sistem kepemimpinan yang juga menyesuaikan kondisi jaman menjadi faktor lain para generasi muda dalam menghadapi tantangan di era disrupsi. Jadilah generasi era disrupsi yang kreatif dan inovatif. (Hj. Ade Muslimat. MM/Dosen FEB Universitas Serang Raya)*


Sekilas Info

MENGENAL IDENTITAS SANTRI

Oleh: Kholid Ma’mun Mendapatkan kesempatan belajar di pesantren adalah sebuah kenikmatan yang besar, karena banyak …

2 comments

  1. Terima kasih sudah memberikan pencerahan,

  2. Sangat inspiratif bu, Salam 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *