Genap Setahun Pimpin Kota Serang, Syafrudin-Subadri Belum Memuaskan

SERANG, (KB).- Pemerintahan Kota Serang di bawah kepemimpinan Syafrudin dan Subadri Usuludin genap berusia satu tahun, Kamis (5/12/2019) hari ini. Selama setahun menjabat, pasangan yang dikenal dengan slogan ‘Aje Kendor” tersebut dinilai belum memuaskan.

Menurut Wakil Ketua DPRD Kota Serang Roni Alfanto mengatakan, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serang Syafrudin dan Subadri Usuludin sejak dilantik 5 Desember tahun lalu, mempunyai program 100 hari untuk penanganan sampah, pedagang kaki lima (PKL) dan kemacetan. Namun hingga satu tahun kepemimpinannya, masih belum maksimal.

“Penataan pasar dari Pasar Induk Rau (PIR), Pasar Lama dan penataan pedagang kaki lima (PKL) yang masih belum maksimal,” kata politisi Nasdem itu kepada Kabar Banten, Rabu (4/12/2019).

Ia mengatakan, untuk pengelolaan sampah progresnya cukup baik, seperti adanya beberapa program dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk pengelolaan sampah. Namun, untuk penataan PKL, pihaknya menilai masih belum memuaskan.

“Kalau untuk sampah sudah terlihat seperti DLH ada bank sampah, tapi PKL belum maksimal,” ucapnya.

Kemudian yang menjadi sorotannya yaitu terkait penyerahan aset dari Kabupaten Serang. Selanjutnya, dari sisi kesehatan PR yang belum selesai dilakukan yaitu menekan angka gizi buruk dan stunting yang masih banyak di Kota Serang.

“Kalau kebutuhan dasar kan stunting masih ada, itu harus dikurangi kalau bisa dihilangkan, kalau ada penurunan kita apresiasi,” tuturnya.

Menurut anggota DPRD Kota Serang dari Fraksi Gerindra, Rizky Kurniawan, banyak indikator untuk bisa mengukur berhasil atau tidaknya pembangunan sebuah daerah. Salah satunya, menurut dia, kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan yang dituangkan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

“Satu tahun tentu tidak bisa jadi ukuran sebuah pemerintahan. Tapi bisa kita lihat bagaimana progresnya. Nah kalau ukurannya dari sisi APBD, jelas bisa kita ukur seberapa efektif dan efisien APBD Kota Serang dalam setahun ini,” ucapnya.

Efisien dan efektivitas dalam kerangka APBD, menurut dia, adalah dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan mengacu pada kepentingan masyarakat.

Untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan efektivitas anggaran, maka dalam perencanaan perlu ditetapkan secara jelas tujuan, sasaran, hasil dan manfaat yang akan diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang diprogramkan.

“Nah dalam kontek ini, saya melihat Kota Serang belum terlihat fokus kemana. Dari sisi penganggaran misalnya, Pemkot Serang justru menghadapi persoalan. Serapan anggaran rendah. Padahal dengan status sebagai Ibu Kota Provinsi Banten, Kota Serang tentu memikul beban yang berat di tengah keterbatasan anggaran. Jadi bukan hanya harus ada skala prioritas. Tapi dalam menentukan skala prioritas pembangunan, juga butuh politik anggaran yang baik,” ucapnya.

Ketua Komisi III DPRD Kota Serang Tubagus Ridwan Akhmad mengatakan, untuk melakukan evaluasi terhadap pimpinan daerah, tentu harus berpijak kepada visi misi yang sudah dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang disusunnya. Meski demikian, ia menilai masih banyak persoalan yang harus diselesaikan.

“Seperti dalam bidang kesehatan tren stunting dan gizi buruk relatif meningkat, ini juga menjadi PR bagi wali kota,” kata politisi PKS itu.

Kemudian yang menjadi sorotannya adalah terkait masih belum mandirinya Kota Serang dalam anggaran. Saat ini, ujar dia, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Serang hanya berkisar 10 persen setiap tahunnya. Sehingga, rasio ketergantungan terhadap dana transfer masih tinggi. “Wali Kota gak pernah stag berpikir mencari potensi PAD,” katanya.

Padahal, ujar dia, solusi dalam peningkatan PAD Kota Serang hanya dua yaitu menggali potensi PAD dan menghilangkan kebocoran. Karena, saat ini masih banyak kebocoran PAD. “Jadi yang harus dilakukan reformasi tata kelola PAD, saya optimistis kalau kebocoran bisa diantisipasi PAD kita bisa meningkat dua kali lipat,” ujarnya.

Terakhir, kata dia, tagline ‘Aje Kendor’ yang digaungkan jangan hanya melekat di wali kota dan wakil wali kota. Tapi harus melekat ke seluruh ASN di Kota Serang. Sehingga, kinerja di tahun kedua kepemimpinan Syafrudin dan Subadri Usuludin bisa lebih cepat dan maksimal. “Jadi kalau di tahun pertama kecepatannya 180 kilometer perjam, di tahun keduanya bisa 260 kilometer perjam,” katanya.

Bangun 52 titik jalan lingkungan

Sementara itu, Wali Kota Serang Syafrudin menyatakan sudah banyak capaian yang sudah dikerjakannya selama satu tahun memimpin Kota Serang. Meski demikian, ia mengakui masih memiliki kekurangan.

Capaian selama satu tahun kerja, ucap dia, di antaranya dalam bidang infrastruktur yaitu sudah membangun sebanyak 52 titik jalan lingkungan dan sudah melakukan betonisasi dan hotmix di beberapa jalan poros.

“Saya kerja satu tahun memang harus dipertanggungjawabkan terutama apa saja yang sudah dikerjakan dalam kepemimpinan saya ini,” ujarnya.

Dalam satu tahun kepemimpinannya, ia juga mengklaim sudah memenuhi janji politiknya seperti memberikan honor guru ngaji, marbot masjid dan pemandi jenazah. Selain itu, dimasa kepemimpinannya juga sudah berhasil melakukan launching RSUD Kota Serang.

“Dari sisi kesehatan kita juga sudah menurunkan angka kematian bayi dan ibu sudah 100 persen lebuh kemudian stunting dan gizi buruk berkurang di Kota Serang,” ucapnya.

Ia menuturkan, program prioritas 100 hari kerja yang pernah disampaikan pada awal menjabat juga sudah tercapai, seperti dalam pengelolaan sampah dimana saat ini sudah tidak ada lagi tumpukan sampah di Kota Serang. Dalam mengatasi kemacetan yang difokuskan di Terowongan Terondol juga diklaim berhasil.

“PKL juga sudah kita laksanakan, yang di stadion dan Pasar Rau, sekalipun belum maksimal. Tapi sudah kita laksanakan. Saya kira kalau tercapai belum, bagaimana pun juga namanya manusia banyak kekurangan dan kelebihan,” tuturnya.

Selanjutnya pada tahun kedua kepemimpinannya, ia menyatakan akan fokus pada tiga kebutuhan dasar masyarakat yaitu infrastruktur, kesehatan dan pendidikan.

“Pada tahun kedua, saya fokus pada tiga kebutuhan dasar yakni infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Kekurangan yang menjadi tanggung jawab kami, mudah-mudahan ke depan akan kami perbaiki,” ujarnya. (Masykur/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here