Geladi Simulasi ARDEX 2018 di Kawasan Industri Kota Cilegon

Gempa bumi hebat melanda Kota Cilegon, tidak lama kemudian gelombang tsunami menghantam pesisir pantai. Industri sepanjang bibir pantai pun terkena dampak, bahkan sejumlah pabrik kimia meledak. Cairan kimia serta gas beracun dari pabrik kimia berhamburan seiring tsunami meluluhlantahkan pabrik. Minimnya peralatan serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) perusahaan tidak mampu membendung material-material berbahaya merembet ke permukiman warga.

Akibatnya, ratusan warga mengalami keracunan akibat terkena material-material berbahaya dari pabrik kimia. Situasi ini pun tak mampu ditangani oleh perangkat-perangkat penyelamatan daerah, mengingat dampak dari bencana alam dan bencana industri yang terjadi betul-betul parah. Pada akhirnya, pemerintah pun melayangkan permohonan bantuan kepada negara-negara lain. Bencana alam dan industri yang melanda Kota Cilegon pun tertangani.

Demikian skenario simulasi pra latihan geladi posko atau Command Post Exercise (CPX) dan geladi lapangan atau Field Training Exercise (FTX), yang dilaksanakan di lapangan belakang PT Cabot, Kawasan Industrial Estate Cilegon (KIEC), Rabu (31/10/2018). Kegiatan tersebut dalam rangka persiapan menghadapi ASEAN Regional Disaster Emergency Respons Simulation Exercise (ARDEX) 2018, pekan depan.

Wakil Direktur Latihan BNPB untuk Latihan CPX dan FTX Bagus Cahyono mengatakan, tujuan dalam pra latihan ini untuk mengetahui kesiapan dari personel, pelaku, pengendali, perencana, pengawas latihan. “Untuk mengecek kesiapan sarana pendukung, alat komunikasi dan perlengkapan lainnya. Kita juga ingin melihat seperti apa dinamika latihan sesungguhnya. Nanti akan lebih seru pada saat pelaksanaan puncak pada 5-10 November,” kata Bagus kepada awak media, Rabu (31/10/2018).

Bagus menambahkan, dalam skenario pra latihan tersebut perangkat unit penyelamatan daerah mulai tingkat kota, provinsi dan pusat tidak mampu mengatasi bencana kimia tersebut. Sehingga akhirnya pemerintah pusat melalui BPBN meminta bantuan kepada negara-negara tetangga yang berada di lingkup ASEAN.

“Ini seolah-olah bencana industri tidak bisa tertangani oleh kita sendiri. Negara kita meminta bantuan dari negara lain. Kita berlatih, karena di negara ASEAN ini ada protokol bagaimana melakukan respon bencana yang ada di kawasan ASEAN. Nah itu kita praktikkan di sini. Ini kan bahaya bencana bahan kimia beracun, kan tidak semua negara ASEAN yang siap memiliki kemampuan ini,” tuturnya.

Sementara itu, Komandan Latihan Letkol Arm Rico Ricardo Sirait menyatakan, simulasi bencana ini sangat penting untuk Cilegon. Itu karena bencana alam bisa berakibat fatal bagi industri kimia di Cilegon. “Tidak ada yang menginginkan bencana, tapi bencana bisa datang kapan saja. Kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk atas bencana tersebut. Apa lagi komplikasi bencana di Cilegon bisa saja terjadi karena geografis Cilegon berada dekat dengan laut dan gunung berapi. Belum lagi banyaknya industri kimia membuat kemungkinan bencana lainnya akan datang. Sangat beruntung kita ditunjuk sebagai tuan rumah,” ucapnya.

Tidak hanya untuk melatih petugas, latihan ini juga akan melibatkan pihak industri dan masyarakat. “Selain latihan penanggulangan, peserta juga dilatih bagaimana menghindari bencana,” tutur Dandim 0623/Cilegon ini. (Sigit Angki Nugraha)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here