Rabu, 19 Desember 2018

Ganti Rugi Tol Serang-Panimbang di Cikeusal, 93 Bidang Lahan Belum Bisa Dibayar

SERANG, (KB).- Sebanyak 93 bidang lahan di Kecamatan Cikeusal yang masul lokasi pembangunan Tol Serang-Panimbang belum bisa dibebaskan oleh tim pejabat pembuat komitmen (PPK) pembebasan lahan tersebut. Hal tersebut, karena lahan tersebut belum disertai dengan dokumen kepemilikan yang lengkap.

Dari total 254 bidang yang akan dibebaskan, saat ini baru 151 bidang tanah yang sudah memiliki kelengkapan dokumen kepemilikan. Hal tersebut terungkap saat Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa melakukan pemantauan di Desa Cikeusal, Kecamatan Cikeusal, Kamis (7/6/2018).

Ia mengungkapkan, rencananya akan ada 254 bidang tanah yang akan dibayar. Namun, setelah dicek ternyata yang memenuhi kelengkapan warkat kepemilikan baru 151 bidang. “Itulah yang nanti akan dibayar. Sisanya sekitar 93 bidang masih harus dilengkapi (dokumen kepemilikannya),” kata Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa kepada Kabar Banten, Kamis (7/6/2018).

Ia berharap, setelah lebaran dokumen kepemilikan tersebut sudah lengkap. “Jadi, sekarang belum bisa (dibayar) nanti jangan-jangan tanahnya punya orang, harus ada buktinya, bahwa itu milik saya (warga), jangan sampai mengaku-ngaku saja kepemilikannya. Harus ada saksi dan keluarga juga yang menguasakan, kalau tanah keluarga enggak bisa dijual orang per orang harus dikuasakan,” ujarnya.

Setelah lengkap, ucap dia, akan dihitung berapa luasnya dan dikalikan dengan harga dari tim appraisal. Di mana per meter tanah di Cikeusal Rp 80.000. Jumlah tersebut, kemudian ditambah dengan harga bangunan serta tanaman yang ada di lokasi. “Itu baru di Cikeusal, yang lain menyusul, masih dalam tahap approve appraisal, kan beda jalur perkotaan mah harganya agak mahal,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, dia berpesan kepada warga, agar tanah yang diganti rugi tersebut dibelikan lagi pada tanah. Jangan sampai uang hasil ganti rugi tersebut digunakan untuk berfoya-foya yang tidak bermanfaat. “Sayang uangnya. Yang tadinya rumah, kemudian tergusur harus jadi rumah lagi,” tuturnya.

Kemudian, kata dia, uang yang dibayarkan jangan disimpan tunai, namun masukan ke rekening. Sebab, jika tunai dikhawatirkan akan habis untuk kebutuhan. “Saya berpesan kepada mereka jangan terkecoh dengan spekulan tanah, jangan dijual, kenapa, dengan adanya jalan tol dan interchange otomatis jalur itu nanti akan ada peningkatan harga tanah. Kalau tidak terpaksa amat sekali jangan dijual,” ujarnya.

Sebab, ucap dia, biasanya jika tanah ada informasi pembangunan, para spekulan dari kota akan datang dan kemudian berbelanja tanah dengan harga murah. Dengan aktivitas tersebut, tentu saja masyarakat yang dirugikan. Disinggung terkait ganti rugi SD, dia menuturkan, untuk SD masih belum dilakukan. Untuk pembayaran kali ini baru dilakukan pada tanah masyarakat. “Kalau sekolah enggak ada masalah, nanti mereka bangun lagi, kami bilang juga gitu jangan ngasih duitnya nanti jadi sorotan enggak bagus. Tapi, dibangunkan gedung baru saja,” tuturnya. (DN)*


Sekilas Info

Kelanjutan Pembangunan RSUD Kota Serang Ditanggung Pemkot

SERANG, (KB).- Pembangunan tahap kedua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Serang diperkirakan tidak akan tercapai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *