Galian C Disebut Salah Satu Penyebab, 2.187 Hektare Lahan di Kota Serang Kritis

SERANG, (KB).- Terhitung sebanyak 2.187 hektare lahan kritis terdapat di Ibukota Banten, Kota Serang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang menyebut selain karena kontur tanah yang berbukit, lahan kritis tersebut salah satunya juga disebabkan oleh keberadaan galian C di Taktakan.

Kepala DLH Kota Serang Ipiyanto mengatakan, kontur tanah di Taktakan yang mayoritas perbukitan dan lereng sudah menjadi penyebab lahan tersebut kritis. Kemudian, ada pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan, salah satunya galian C.

“Ada beberapa lahan yang melakukan aktivitas pengupasan, tapi tidak dilakukan penanaman ulang. Entah dengan berbagai kepentingan istilahnya, galian C harusnya dilakukan penanaman kembali,” kata Ipiyanto saat dihubungi, Jumat (10/1/2020).

Ia mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan peneguran, bahkan Pemkot sudah melakukan beberapa kali upaya penutupan terhadap adanya galian C itu. Namun, kewenangannya ada di Distamben Provinsi Banten.

“Iya (galian C) salah satu penyebab, akan mengubah terhadap lingkungan kalau tidak melakukan penataan kembali,” ucap dia.

Ia menyatakan sudah melakukan imbauan kepada warga, agar segera melakukan penanaman ulang. Namun, warga juga kebingungan karena pemiliknya bukan warga Taktakan.

“Kita paling-paling hanya mengimbau. Kadang kita bingung juga pemilik tanah sama pengurus tanah tidak tahu, kita menunggu pemiliknya ada di Jakarta,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang Diat Hermawan mengatakan, terkait adanya lahan kritis di Taktakan, Kota Serang. Pihaknya sudah melakukan mitigasi non struktural yang menjadi kewenangannya.

“Kami larinya ke mitigasi, mitigasi kan ada dua jenis ada mitigasi struktural ada non struktural. Kita lakukan non struktural, seperti sosialisasi, imbauan bahkan sosialisasi kita sampai tingkat dini sampai anak-anak sekolah. Kalau mitigasi struktural bukan dikami, karena berhubungan dengan fisik,” kata Diat saat ditemui di BPBD Kota Serang.

Ia membenarkan jika wilayah Kecamatan Taktakan merupakan wilayah lahan longsor atau pergerakan tanah. Dari delapan jenis kebencanaan, ujar dia, terdapat lima jenis kebencanaan, mulai dari kekeringan, banjir, pergerakan tanah/longsor, gempa, cuaca ekstrim atau angin puting beliung.

“Kalau sisanya seperti gunung meletus atau akibat kejadian industri itu tidak berpotensi di Kota Serang, tapi jika terjadi itu Kota Serang akan terdampak,” ucap dia.

Dengan personel yang minim yang ada di BPBD, ujar dia, pihaknya terus melakukan upaya mitigasi. Selain itu, pihaknya juga merasa terbantu dengan upaya kecamatan yang meminta kelurahan terus melakukan sosialisasi.

“Kalau tidak salah pak camat menginstruksikan juga ke pak lurah melakukan mitigasi, kami juga sangat terbantu. Karena potensi kita cuma 12 orang tim reaksi cepat (TRC) yang siaga 24 jam,” ujarnya.

Diketahui, berdasarkan peta sebaran lahan kritis di Kota Serang pada tahun 2017 dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten. Terdapat total 2.187, 25 hektar lahan kritis. Sebaranya terdapat di Kelurahan Cilowong, Pancur, Sayar, Sepang, Takatakan dan Umbul Tengah. (Masykur/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here