“Fiqih Mudik”

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Mudik atau pulang kampung suatu tradisi masyarakat Indonesia yang erat sekali hubungannya dengan bulan suci ramadhan yang diakhiri dengan hari raya idul fitri.

Mudik atau ada sebagian menyebutnya disingkat dengan isrilah “PulKam” Pulang Kampung merupakan adat kebiasaan yang entah siapa pelopor dan penggagas mula mulanya kegiatan tahunan ini. Selama ini tradisi mudik dan pulang kampung ya sudah ada dengan sendirinya.

Tradisi mudik dan pulang kampung kalau difahami dari sisi maknanya, maka kemungkinan besar pelaku pulang kampung adalah sahabat sahabat kita, para orangtua kita yang hidupnya di dalam perantauan merasakan rindu dengan kampung halamannya, maka kerinduan ke kampung halaman itu mendorong mereka untuk membuat agenda dan rencana untuk pulang kampung.

Budaya mudik dan pulang kampung merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilakukan oleh para perantau yang hatinya selalu terpaut dengan keluarga di kampung halamannya. Sehingga walaupun dengan kesulitan yang berlapis lapis mereka tetap berusaha untuk mudik dan pulang kampung. Ada yang menggunakan kendaraan bajaj karena sanggupnya dengan mengendarai bajaj. Ada yang dengan kendaraan beroda dua yaitu dengan menaiki motor beroda dua dengan jumlah penumpang yang melebihi kapasitasnya. Dengan barang barang bawaan yang bermacam macam dengan maksud ingin membahagiakan orangtua di kampung bersama keluarga lainnya.

Ada hal yang terlupakan dalam masalah mudik dan pulang kampung. Hal ini saya mendapatkan peringatan dari pak ustadz Dzul Birri. Beliau menyampaikannya pada pengajian malam jumat kliwonannya.

“lebaran kurang sepuluh hari lagi, akang akang kapan mau mudik dan pulang kampungnya. Barang bawaan dan oleh oleh sudah siap diangkut? tanya pak ustadz Dzul Birri kepada jamaahnya.

“Saya besok malam pulang kampungnya pak ustadz” kata kang Cecep sekalian minta izin dan mohon pamit.

“Kemana mudiknya, naik apa kang Cecep?” tanya pak ustadz Dzul Birri

“Saya pulang kampungnya ke Kuningan pak ustadz, kebetulan ibu tinggal di kampung jadi saya harus mudik” , jawab kang Cecep sambil berusaha menjelaskan alasan pulang kampungnya.

“Klo barang bawaan tidak perlu saya tanyakan, kang Cecep pasti lebih faham dan lebih teliti apa yang harus dibawa sebagai barang yang dijadikan oleh oleh lebaran buat orangtua di kampung dan keluarga lainnya. Kalau di kang Cecep belum sampai tujuan, lama perjalanan karena macet ataupun sebab lainnya sehingga waktu shalat datang, bus yang dinaiki kang Cecep masih belum bergerak di tengah tengah kemacetan perjalanan mudik, itu bagaimana solusinya supaya kang Cecep bisa shalat?”

“Yaitu pak ustadz saya juga bingung dan belum mwngerti bagaimana caranya saya harus berwudhu, dan bagaimana saya harus mengerjakan shalat. Mudik tahun lalu shalat dzuhur dan shalat ashar saya lewat karena selain susah tidak ada air dan posisi saya masih di atas bus. Jadi saya tidak shalat pak ustadz, mhn izin bila pak ustadz berkenan untuk menjelaskan, seandainya besok saya waktu shubuh masih di atas bus karena macet dalam perjalanan, bagaimana saya harus mengerjakanmya?” tanya kang Cecep

“Saya juga ingin bertanya seperti itu pak ustadz” kata kang Asep yang akan mudik ke daerah Pangandaran

“Kalau barang bawaan pinter pinter ngepaknya, susah juga tetap dibawa, makanan lontong, buras, ketupat, kue kue kering lainnya juga disiapkan dan dibawa tidak pernah ketinggalan. Giliran shalat ketinggalan tidak merasa rugi. Apalagi shalat teraweh sepertinya sengaja ditinggalkan dengan alasan shalat sunnah. Padahal rugi besar, ibadah ramadhan disepelekan. Kalau posisi kendaraan macet di tengah perjalanan sedangkan waktu shalat datang, shalat saja di atas kendaraan karena untuk ke masjid tidak mungkin, shalat dengan sempurna juga tidak mungkin, shalat saja sambil duduk di atas bus. Bgaimana wudhunya, seandainya membawa air mineral berwudhu dengan air mineral. Tetapi kalau air mineral itu lebih dibutuhkan untuk minum, maka cukup dengan bertayammum di belakang jok kursi bus sebagaimana para jamaah haji atau jamaah umroh bertayammum di belakang jok kursi pesawat. Allah tidak menghalang halangi hamba Nya mudik dan pulang kampung. Jangankan mudik dan pulang kampungnya satu tahun satu kali, walaupun mudik tiap minggu tidak jadi.masalah silahkan saja kalau ada ongkosnya, tetapi masalah shalat dan ibadah jangan dianggap sepele apalagi masa bodoh dengan masalah shalat. Berani dan dengan sengaja meninggalkan shalat lima waktu bisa bisa mudiknya jadi haram. Padahal agama memberikan kemudahan dan kelonggoran, bagi yang musafir atau mudik dan.pulang kampung ada rukhshah keringanan dalam agama. Bila perjalanan yang di tempuhnya mencapai batas dua marhalah dalam istilah kitab fiqih atau mencapai jarak tempuh 84 KM, maka shalat bisa dijama’, digabung dua waktu shalat bisa dikerjakan dalam satu waktu dan juga boleh diqoshor yaitu diringkas yang 4 rakaatnya bisa dilakukan menjadi dua rakaat. Bila tidak dijumpai air cukup dengan bertayammum. Subhaanallah….Allah maha pemurah dan maha pengertian akan kondisi hamba hambaNya.” pak ustadz Dzul Birri berusaha menjelaskan solusi ibadah saat mudik.

Memang menjadi tontonan yang sangat memprihatinkan hati kita merasa sedih ketika kita sedang berada di terminal bus, stasiun kereta api, di bandara san di pasar pasar, terkesan ramadhan bulan yang dimuliakan oleh Allah sedikit pun hamba hamba Nya tidak memuliakan. Disana sini pemandangan yang menyedihkan, yang makan dan yang minum tidak lagi merasa risih apalagi malu. Pada saat tiba waktu shalat berlalu begitu saja.

Pada akhirnya kita hanya dapat melakukan doa di dalam hati semoga sahabat sahabat seiman kita selalu mendapat rahmat dan barokah bisa menjaga shalat wajib juga sunnahnya, puasa dan membaca alqur’annya. Semoga saja fiqih mudik dan pulang kampung semakin bertambah difahami oleh para pelaku mudik dan yang pulang kampung. Wallaahu ‘alamu bish Shawaab wa ilaihil musta’aan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here