Minggu, 19 Agustus 2018

FILANTROPI DAN HAJI

Calon haji jamaah Indonesia bersama-sama dari negara lain mulai berdatangan di Tanah Suci Mekkah. Mereka tujuannya sama, yaitu menunaikan ibadah haji karena Allah SWT. Dalam rangka evaluasi diri dan meningkatkan spiritualitas-diri, tulisan ini menyajikan respon kaum sufi tentang ibadah haji dan filantropi (cinta kasih, kedermawanan). Tentu saja sebutan “kaum sufi” dalam tulisan ini tidak mencakup semua sufi, tetapi hanya beberapa sufi.

Simbol Kesalehan

Berhaji ke Baitullah di Tanah Suci dipandang sebagai simbol “kesalehan personal” sedangkan berderma untuk sesama atau membantu fakir miskin dianggap sebagai simbol “kesalehan sosial.” Dalam kaitannya dengan dua kesalehan ini seringkali kaum sufi diposisikan sebagai figur yang lebih mengutamakan kesalehan personal daripada kesalehan sosial. Bahkan, kadangkala kaum sufi difonis sebagai figur yang anti sosial atau anti kesalehan sosial dan hanya fokus pada kesenangan spiritual-personalnya sendiri.

Penilaian itu mungkin saja ada benarnya, tetapi tidak mungkin semua kaum sufi seperti itu. Generalisasi semacam itu selalu menghasilkan simplifikasi (penyederhanaan), yang sudah tentu menafikan adanya kompleksitas (keragaman) figur-figur kaum sufi itu sendiri. Padahal, sebagaimana akan dilihat, banyak sufi yang lebih mengutamakan kedermawanan daripada berhaji ke Baitullah.

Filantropi “Kaum Sufi” 

Beberapa contoh filantropi (cinta kasih, kedermawanan) “kaum sufi” dapat dilihat berikut. Misalnya, Al-Qusyairī dalam kitabnya Al-Risālah menampilkan cerita tentang kemurahan hati seorang budak yang lebih mengutamakan seekor anjing liar dibanding terhadap dirinya sendiri. Dikisahkan bahwa ‘Abd Allāh bin Ja‘far pernah memasuki sebuah kebun milik seorang tuan tanah.

Di dalam kebun itu terdapat seorang budak yang diberi tugas untuk mengurus kebun tersebut. Budak itu bekerja giat, tanpa mengenal lelah. Tatkala waktu makan tiba datanglah seorang utusan tuannya yang datang membawakan makanan untuknya. Suruhan itu segera pulang kembali. Sewaktu budak itu akan menyantap makanan masuklah seekor anjing liar dan mendekatinya.

Sejenak budak itu memandangi anjing liar yang mendekatinya, lalu melemparkan makanan ke arahnya. Budak itu memberikan lagi makanannya ke anjing itu hingga seluruh jatah makannya habis. ‘Abd Allāh yang memperhatikan kemurahan hati sang budak pelan-pelan mendekati sang budak. “Wahai anak muda,” ‘Abd Allāh memulai percakapan, “berapa kali sehari engkau dikirimi makanan dari tuanmu?” Budak itu balik bertanya, “Apa yang hendak engkau ketahui?” ‘Abd Allāh bertanya: “Kenapa engkau lebih mengutamakan anjing ini dibandingkan terhadap dirimu sendiri?” Budak itu menjawab: “Tempat ini memang bukan bumi anjing, tetapi dia datang dari tempat yang sangat jauh. Tentu saja dia sangat lapar dan aku tidak tega melihatnya.

Oleh karena itu, kuberikan makanan itu kepadanya.” ‘Abd Allāh berkata di dalam batinnya: “Betapa dermawannya budak ini. Dia lebih dermawan dibanding saya.” ‘Abd Allāh lalu pergi ke rumah tuan budak itu. Singkat cerita, ‘Abd Allāh membeli budak, kebun dan seluruh isi kebun itu. Setelah itu, ‘Abd Allāh memerdekan badak itu dan menghadiahkan kebun tersebut kepadanya.

Hikayat kedermawanan ditampilkan pula oleh Al-Malîbârî dalam kitabnya Irsyâd al-`Ibâd ilâ Sabîl al-Rasyâd. Kisahnya, di Basrah terdapat seorang laki-laki durjana yang kerjaannya mabuk-mabukan, membuat kerusakan di atas bumi dan membuat onar di masyarakat. Ketika laki-laki ini meninggal dunia, maka tidak seorangpun yang mau menyalatkannya dan membawa jenazahnya.

Terpaksalah isterinya membayar beberapa orang untuk membawa jenazah suaminya ke mushalla. Ternyata, di mushalla tidak seorangpun yang sudi menyalatinya. Akhirnya, jenazah laki-laki itu dibawa ke hutan untuk dikubur di sana. Tanpa disangka, sebelum dikuburkan datanglah seoang ahli zuhud yang menyalati jenazah laki-laki itu. Walhasil, orang-orang pun berdatangan untuk menyalati jenazah laki-laki tersebut.

Seusai shalat jenazah tersebut orang-orang bertanya kepada ahli zuhud yang bersedia menyalati jenazah dimaksud. Ahli zuhud itu mengatakan bahwa dia diperintah melalui mimpi di dalam tidurnya supaya mendatangi jenazah yang tidak seorang pun di sisinya kecuali isterinya dan dia juga diperintah untuk menyalatinya dikarenakan dosa-dosanya telah diampuni oleh-Nya.

Orang-orang lalu bertanya kepada isteri laki-laki itu tentang amal baik yang pernah diperbuat oleh almarhum selama hidupnya. Isteri laki-laki itu menjelaskan bahwa almarhum suaminya meski dia orang yang durjana atau bejat moralnya, tetapi di rumahnya tidak pernah sepi dari anak yatim yang disayanginya melebihi sayangnya terhadap anak kandungnya sendiri.

Kadangkala tatkala sadar suaminya pun menangis sambil berkata: “Wahai Tuhanku, di pojok manakah Engkau akan menempatkan diriku yang durjana ini? Di dalam neraka Jahannam?” Orang-orang akhirnya tahu akan kebaikan hati laki-laki yang selama ini mereka benci ini. Ternyata, dia orang pengasih terhadap anak yatim.

Kesalehan Sosial

Praktik kedermawanan “kaum sufi” di atas lebih merupakan praktik filantropi “kaum sufi” terhadap orang lain yang, boleh jadi, tidak ada kaitannya dengan “kesalehan sosial” versus “kesalehan individual.” Praktik kedermawanan berikut merupakan contoh “kaum sufi” yang lebih mengutamakan filantropi (kesalehan sosial) dibanding “kesalehan individual” (berhaji ke Baitullah). Misalnya, anekdot atau kisah sufistik berikut. Kisah yang berkaitan dengan berhaji ke Baitullah ini berasal dari seorang zahid ternama pada masanya, yakni `Abd Allāh ibn al-Mubārak dari Khurasan. Ia, sebagaimana dituturkan oleh Al-Malîbârî, bercerita tertidur di Masjid al-Haram setelah selesai menunaikan ibadah haji.

Di dalam tidurnya itu beliau bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan saling berbincang. Malaikat yang satu, (sebut saja Malaikat A), bertanya kepada malaikat yang lainnya, (katakanlah Malaikat B): “Berapa banyak orang yang berhaji tahun ini?” Malaikat B menjawab: “600.000 orang.” Malaikat A bertanya lagi: “Berapa orang dari 600.000 orang itu yang hajinya diterima?” Dijawab Malaikat B: “Tidak seorangpun di antara mereka yang hajinya diterima.” Kemudian Malaikat B meneruskan: “Namun, ada seorang tukang sol sepatu di Damasykus yang bernama Muwaffaq. Ia tidak datang ke Baitullah untuk berhaji, tetapi hajinya diterima dan berkat hajinya Muwaffaq inilah semua orang yang berhaji tahun ini diterima hajinya.”

Setelah mendengar informasi Malaikat B itu Ibn al-Mubârak langsung terbangun. Beliaupun penasaran ingin bertemu dengan tukang sol sepatu tersebut. Oleh karena itu, beliau pergi ke Damasykus mencari Muwaffaq. Walhasil, beliau berjumpa dengan Muwaffaq. Kemudian, beliau bertanya kepada Muwaffaq: “Kebaikan apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkan derajat haji yang mabrur dan berkat haji engkau inilah haji keseluruhan jamaah haji tahun ini diterima?” Muwaffaq menjelaskan bahwa dirinya sangat berkeinginan menunaikan ibadah haji. Namun, dia mengakui bahwa dirinya tidak mampu untuk menjalankan ibadah haji itu dikarenakan kemiskinan yang dialaminya.

Oleh sebab itu, dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari pekerjaannya mengesol sepatu. Akhirnya, terkumpullah uang 300 dirham. Uang itu cukup untuk biaya melaksanakan ibadah haji. Muwaffaq pun berniat menunaikan ibadah haji. Hanya saja isteri Muwaffaq sedang nyidam. Isterinya mencium bau makanan dari tetangganya dan menginginkan makanan itu. Muwaffaq lalu mendatangi rumah itu dan menceritakan keinginan isterinya pada seorang wanita, si empunya rumah itu. Wanita itu mengatakan kepada Muwaffaq bahwa dirinya terpaksa untuk melapangkan keadaannya disebabkan anak-anak yatimnya sudah tidak makan sesuatupun selama tiga hari ini.

Kemudian wanita itu keluar rumah dan melihat ada bangkai seekor keledai.
Wanita itu memotong sepotong daging bangkai keledai itu dan memasaknya. “Daging bangkai ini halal bagi kami, tetapi haram bagi kamu.” Demikian wanita itu menegaskan kepada Muwaffaq. Mendengar penegasan wanita itu Muwaffaq langsung pulang ke rumah mengambil uangnya yang 300 dirham yang akan dipergunakan untuk menjalankan ibadah haji. Muwaffaq mendatangi kembali rumah wanita itu sembari membawa uangnya.

Muwaffaq memberikan uang 300 dirham itu kepadanya sembari mengatakan: “Nafkahkanlah uangku ini untuk anak-anak yatimmu.” Di dalam batinnya pun Muwaffaq menyatakan kepada dirinya sendiri: “Inna al-hajja fî bâbi dârî, fa’aina adzhabu (sesungguhnya haji itu berada di pintu rumahku, maka kemana lagi aku harus pergi berhaji)?” Kisah itu menyatakan bahwa orang yang telah mampu berhaji ke Baitullah tetapi memilih tidak berhaji disebabkan kepeduliannya terhadap tetangganya, maka ia telah dianggap menunaikan “ibadah haji” dan “haji”nya itu dipandang mabrûr.

Bahkan, berkat “haji”nya orang semacam Muwaffaq inilah hajinya orang-orang yang berhaji ke Baitullah diterima oleh Allah. Artinya, kalau masih ada orang lain, apalagi tetangga, yang sekedar untuk makan saja tidak ada dan tidak ada yang memperhatikan nasib orang itu, maka orang-orang yang berhaji ke Baitullah yang seharusnya memperhatikan nasib orang-orang miskin itu akan berakibat hajinya tidak diterima.

Akan tetapi, kalau ada yang memperhatikan nasib orang-orang miskin (fakir) itu, maka hajinya orang-orang yang berhaji ke Baitullah insya Allah diterima. Dengan demikian, dari perspektif sufistik, orang yang memilih memperhatikan nasib anak-anak yatim atau orang-orang fakir miskin lebih utama daripada yang memilih berhaji ke Baitullah.

Walau begitu, tidak satupun kaum sufi yang menentang haji atau tidak mewajibkan berhaji ke Baitullah. Minimal, mereka berhaji sekali, seperti Sahl bin ‘Abd Allāh al-Tustarī, Abū Yazīd al-Bisthāmī dan al-Junaid. Mereka ini memilih hanya berhaji sekali atas dasar bahwa Rasulullah pun tidak pernah berhaji kecuali sekali selama hidupnya. Akan tetapi, banyak sufi yang melakukan haji hingga tiga kali, bahkan lebih dari tiga kali.

Al-Hallāj melaksanakan haji sebanyak tiga kali, Hāsan al-Qazzāz al-Dināwārī menjalankan haji dua belas kali, Abū Bakar al-Duqqī sembilan kali, Abū Abd Allāh al-Jallā’ delapan belas kali, dan Ibn Khafīf enam puluh kali. Dengan demikian, tidak ada sufi yang tidak mewajibkan haji ke Baitullah, meski “kesalehan sosial” lebih diutamakan daripada “kesalehan personal.” Wallāhu a‘lam. (Dimyati Sajari/ Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Email: [email protected]).


Sekilas Info

Bisnis dan Muslim

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA Mendengar kata dan istilah “BISNIS” sebagian masyarakat pedesaan sering masa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *