Festival Golok Day 2019, Orang Asing pun Menjadi Pendekar Golok Banten

CILEGON, (KB).- Christoper (38), warga Prancis, bertarung gigih di atas panggung utama Golok Day Festival 2019, Sabtu (4/5/2019) malam. Golok Banten di tangan kanan ia ayunkan ke arah lawan, jurus-jurus silat maut ia lancarkan, buk, duk, beletak, lawan kemudian tersungkur dengan jurus bantingan keras.

Saat itu, puncak acara Golok Day Festival 2019 sedang digelar. Christoper dan sejumlah pesilat dari 9 negara asing diberi kesempatan untuk memperlihatkan kebolehannya dalam memainkan golok Banten.

Jawara-jawara dari Belanda, Belgia, Prancis, serta negara-negara barat lainnya tersebut cukup piawai memainkan golok Banten. Mereka tidak kalah saing dengan jawara-jawara dari Banten, Sumatera, NTB, Malaysia, juga Singapura yang ikut pada pentas pesilat internasional saat itu.

Namun begitu, tampak satu atau dua orang asing terlihat masih takut dengan sabetan golok para pesilat. Apalagi ketika sebuah golok dari seorang pesilat lokal yang sedang berlaga di atas panggung, secara tak sengaja terlempar ke arah orang asing tersebut. Matanya terbelalak ketakutan karena golok menancap dekat kakinya. “Oh My God, what a close,” katanya sambil mengusap dada.

Ketua Panitia Golok Day Festival 2019 Bambang Andrian mengatakan, Golok Day Festival 2019 merupakan bagian dari rangkaian acara HUT ke-20 Kota Cilegon. acara tersebut dibuka dengan performa Opick Tombo Ati pada Konser Mengetuk Pintu Langit. “Konser tersebut juga ada konser amalnya,” ujarnya.

Selanjutnya dilanjutkan dengan Festival Patingtung yang tujuannya mengangkat tradisi budaya Banten. “Ada 15 peguron yang mengikuti festival tersebut. Yakni dari 8 anak cabang seperti Bojonegara dan Serang, aliran silatnya terumbu dari bandrong. Memang Festival Pencak Silat Patingtung itu khusus terumbu dan bandrong,” tuturnya.

Pada Sabtu (4/5/2019) pagi, acara dilanjutkan dengan festival nasional. Pada acara itu, ikut sebanyak 53 peserta dari Malaysia, Singapura dan Indonesia. “Malaysia mengirimkan sekitar 5 peguron, Singapura 2 peguron. Mereka mendapatkan penghargaan khusus. Begitu pula untuk beberapa peserta dari luar Jawa terutama Sumatera dan NTB,” ucapnya.

Dilanjutkan World Golok Competition, terdiri dari lomba mengupas kelapa, menajamkan gagang sapu, kecepatan membela bambu menjadi 8 bagian, dan lain-lain. Ada pula seminar golok, juga Kirab Pendekar Bergolok. “Mudah-mudahan dapat rekor MURI, karena pesertanya sebanyak kurang lebih 2.700 orang, dari 10 negara,” katanya.

Esensi dari Golok Day sendiri, lanjut Andri, mempersatukan seluruh pendekar dalam satu sebuah tali silaturahmi di Kota Cilegon. “Semua pendekar bersatu di sini, sehingga Golok Day menjadi acara yang meriah,” ujarnya.

Pada acara puncak pun, lanjut Andri, ada penghargan kepada mantan Wali Kota Cilegon Tubagus Aat Syafaat. Yakni sebagai pendekar yang tidak pernah lekang sampai akhir hayatnya. “Kami besar karena beliau, Golok Day juga ada karena cetusan beliau. Jadi tidak ada salahnya kami berikan a life time achivment kepada almarhum Pak Aat,” tuturnya.

Tontonan paling ditunggu saat itu, tidak lain kirab pendekar nusantara. Diiringi hujan lebat, iring-iringan ribuan pendekar memadati jalan dari Masjid Agung Nurul Ikhlas hingg depan Kantor Wali Kota Cilegon. Tampak pada iring-iringan itu, sebuah almadat raksasa diangkut menggunakan mobil bak. Begitu pula golok ciomas yang juga ukurannya sangat besar.

Terkait hal ini, Wali Kota Cilegon Edi Ariadi dalam sambutannya mengatakan, Golok Day merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan HUT ke-20 Kota Cilegon. Ia mengapresiasi kemeriahan acara tersebut, terlebih diikuti oleh 9 negara tetangga, serta sejumlah kabupaten kota di Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh instansi, lembaga, organisasi, kelompok komunitas, peguron silat, dan tamu kehormatan dari 9 negara sahabat. Begitu juga dari kabupaten kota di Banten serta perwakilan sejumlah provinsi lain,” katanya. (AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here