Selasa, 21 Agustus 2018
Suasana warga sedang menggunakan hak pilihnya dalam Pilkades serentak, Ahad (5/11/2017).*

Fenomena ‘Magic’ dalam Pilkades

Agenda pemilihan kepala desa (Pilkades) yang digelar di 108 desa, Ahad (5/11/2017) kemarin berjalan kondusif. Namun, percaya tidak percaya bahwa fenomena “magic” itu kemungkinan masih dianggap sebagai cara untuk memenangkan berbagai kompetisi. Cara ini memang dianggap untung, karena gaib, namun disadari atau tidak hal tersebut masih dipercaya sebagian masyarakat di bumi Banten.

Bahkan, fenomena tersebut bisa terjadi di Pilkada maupun Pilkades, bergantung masing-masing orang yang masih memercayainya.  Seperti dalam Pilkades di Pandeglang, ketika calon kades mendapatkan simbol bendera kuning, merah atau lainnya, warna pun dianggap sebagai sesuatu yang akan membawa kemenangan. Termasuk cara berpakaian calon kepala desa, mulai dari peci, kemeja, sorban terkadang itu pun menjadi sebuah asesoris yang oleh sebagian orang dianggap bisa menarik simpati masyarakat.

Biasanya, hal-hal berbau terawangan itu dilakukan baik oleh calon maupun tim suksesnya. Karena fakta di lapangan, masing-masing calon dan tim suksesnya itu akan berusaha keras dengan berbagai cara untuk memenangkan perhelatan Pilkades. Mungkin saja, selain mengandalkan modal, jaringan, mereka akan memakai cara spiritual yang berbeda-beda. Tidak sekadar itu, mungkin saja untuk menyempurnakan kemenangan itu ada di antara mereka (para calon) dengan meminta terawangan dari orang pintar.

Cara gaib itu dilakukan agar calon lebih dulu mengetahui unggul atau malah sebaliknya dalam Pilkades. Dalam fenomena tersebut, sudah tidak asing dikalangan masyarakat, karena selama ini cara-cara gaib itu masih melekat disebagian masyarakat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pandeglang KH. Tb. Hamdi Ma’ani membenarkan, masih adanya fenomena di masyarakat mempercayai adanya “magic”. Biasanya itu dilakukan dalam momentum tertentu, termasuk dalam perhelatan Pilkades.

Oleh karena itu, ucapnya, untuk mencapai sesuatu jangan sampai disalah artikan. Sebab, manusia hanya bisa berencana dengan jalur sesuai agama, karena pada hakekatnya sudah menjadi kehendak Allah SWT. “Kalau meminta doa, kepada orang yang dinilai pintar seperti kiai atau ulama itu bagus. Tetapi, kalau masih menggunakan dukun itu sudah salah kaprah,” kata KH Hamdi, Ahad (5/11/2017).

Dengan tindakan tersebut, kata KH. Hamdi, bukan ciri seorang pemimpin yang baik. Karena, perbuatan tersebut bukan tindakan orang yang beragama, karena mempercayai hal-hal tidak sesuai dengan ajaran agama. “Kita harapkan agar semua calon tersebut percaya diri. Sehingga tidak melakukan tindakan seperti meminta bantuan kepada dukun. Tetapi, yang terpenting adalah lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, sehingga dipercaya dan bisa dipilih oleh masyarakat,” tuturnya.

Selain fenomena mencari kekuatan gaib dengan meminta bantuan dukun, kata KH. Hamdi, juga masih menjadi kebiasaan memberikan uang oleh calon kepada masyarakat agar bisa menjatuhkan pilihan kepada dirinya. Padahal tindakan tersebut bukan tipe calon pemimpin. Sebab, telah mengajarkan masyarakatnya tidak baik untuk melakukan suap atau menerima sesuatu karena kepentingan dari si pemberinya.

“Kalau calon kepala desa menggunakan uang, sehingga ketika terpilih pasti mereka akan menghitung rugi dan untung menjadi kepala desa. Sehingga, itu rentan dengan tindakan korupsi, apalagi sampai calon kades uangnya tersebut dapat meminjam dari relasi atau donatur,” ucapnya.

Untuk itu, pihaknya berharap agar calon kepala desa tidak melakukan tindakan tersebut. Sehingga, pesta demokrasi pemilihan kepala desa tidak dinodai oleh tindakan yang tidak baik. “Kita wajib berusaha, tetapi tidak dengan melakukan tindakan yang tidak baik,” tuturnya.

Seorang bakal calon Kades yang gagal ikut kompetisi Pilkades di Desa Cigondang mengatakan, fenomena “magic” masih terjadi di Pandeglang. Apalagi dalam perhelatan Pilkades, kalau calon kurang mendapatkan simpati, pasti akan tumbang dalam Pilkades.

Sebaliknya, ada calon yang tadinya orang biasa, setelah dia lolos dalam seleksi pencalonan tiba-tiba popularitasnya naik. Pamornya bagus dan banyak menarik simpati. “Ya, ada keunikan sih dibalik spiritual. Sebab cara itu gaib dan tidak bisa dilihat oleh orang biasa. ‘Magic’ itu hanya bisa diterawang oleh orang pintar,” katanya.

Seorang warga Pandeglang, Waludin mengatakan, setiap orang pasti memiliki perbedaan sudut pandang menyoal magic. Ada sebagian yang percaya ada juga yang tidak. Magic itu sudah ada dari dulu, karena magic itu adalah sihir. Sesuatu cara yang memang masih dipakai sebagian orang. Tapi dalam ajara kita, spiritual seperti itu tidak dibenarkan, karena diluar ajaran agama. “Ya, harapan kita, sebaiknya para calon bisa menggunakan spiritual dengan berdoa. Meminta bantuan dan pertolongan kepada Allah, karena kita sebagai manusia hanya bisa berencana,” katanya. (Iman Fathurohman)***


Sekilas Info

Warga Adukan Pencemaran Sungai

PANDEGLANG, (KB).- Warga Kampung Ciherang, Desa Cimoyan, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang berencana mengadukan pencemaran Sungai Ciherang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *