Selasa, 18 Desember 2018
Iwan Supriana, Kepala Sekolah SMA Terpadu Al-Qudwah Lebak.*

FENOMENA GURU SELFIE

SELFIE dewasa ini telah menjadi salah satu aktivitas yang ngehits. Selfie, jelas ini bukanlah nama seseorang (walaupun mungkin ada nama orang yang seperti itu). Selfie adalah aksi self portrait atau memotret diri sendiri dengan menampilkan wajah atau seluruh tubuh. Kata “Selfie” bahkan mendapatkan gelar kata yang paling terbaik dari Oxford Dictionary. Kalau kita mencari kata ini di kamus Oxford pasti kita akan temukan artinya yaitu kegiatan berfoto yang dilakukan oleh diri sendiri.

Tak hanya di Indonesia, bahkan seluruh orang di dunia ini sedang demam selfie. Aksi ini menjadi sebuah fenomena tersendiri sejak sekitar tahun 2013 lalu dan menjadi trend dunia. Aksi ini dilakukan oleh anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga public figure dan pemimpin terkemuka dunia. Mengabadikan momen penting dalam setiap episode perjalanan hidup kita merupakan hal yang tak boleh terlewatkan, apalagi bagi mereka yang demam eksis maka serasa mati gaya jika kehilangan momen selfie di setiap kegiatan yang dijalaninya. Ditambah jika view yang jadi latar pengambilan fotonya sangat indah dan jarang dikunjungi atau jauh jaraknya dari tempat tinggal kita.

Mewabahnya virus selfie kadang bisa merubah orang jadi mudah panik dan kecewa berat saat lupa membawa smartphone nya. Bisa dipastikan jika jarak rumahnya dekat orang tersebut lebih rela untuk balik lagi ke rumah demi mendapati smartphone yang tertinggal. Atau ada juga orang yang mati gaya hanya karena lupa gak bawa powerbank atau lupa membawa tongsis (tongkat narsis), bagi mereka dua alat tersebut serasa tambahan nyawa dalam hidupnya. Bagaimana tidak, tanpa kedua alat tersebut mereka akan kehilangan momen selfie disetiap kesempatan indah yang dilaluinya. Rasa sedih dan kecewa akan muncul mana kala ada kesempatan bagus untuk selfie tapi tiba-tiba baterai smartphone nya low atau mati sementara powerbank nya tertinggal.

Bagaimana kecewanya mereka saat butuh selfie dengan cakupan gambar yang luas sementara tongsis pun lupa gak dibawa. Mengandalkan tangan tentulah kurang begitu maksimal. Itulah fenomena yang sering terjadi pada mereka para penggemar selfie kelas akut. Ternyata fenomena selfie pun turut melanda para guru di berbagai belahan dunia ini. Begitupun di Indonesia dan tentunya di Banten. Banyak guru yang dilanda demam selfie. Tak peduli dimanapun dan kapanpun, selama ada kesempatan untuk tampil eksis dan narsis maka aktivitas selfie pun siap dijalaninya. Bahkan tak jarang mereka pun melakukan sesi selfie rame-rame bersama kolega atau temannya.

Pernah suatu saat saya menyaksikan beberapa guru, tepatnya ibu guru sehabis melakukan upacara di alun-alun, sambil berjalan menuju ke sekolahnya yang memang tidak jauh dari alun-alun, tanpa ada rasa risih, mereka kompakan bergaya di pinggir jalan raya sambil ber-selfie ria. Saya hanya bisa tersenyum saat melihat gaya mereka. Gurupun manusia, mereka perlu selfie biar bisa tetap eksis dan narsis. Ada pula aktifitas selfie yang dilakukan oleh guru, lagi-lagi tepatnya ibu guru yang saya lihat di sebuah akun facebook yang memposting beberapa foto selfie di ruang kerja dan ada juga yang lokasinya di tempat umum (entah cafe atau rumah makan).

Tak ada yang salah dengan aktifitas selfie yang dilakukan oleh guru-guru tersebut, karena ber-selfie ria adalah hak segala bangsa. Tapi entahlah saya merasa risih dan sedikit kecewa saat melihat ada beberapa foto yang ekspresi wajahnya sengaja dibuat terkesan seronok. Bagaimana mungkin mereka para guru, apalagi guru perempuan harus ber selfie dengan memonyongkan bibirnya juga memainkan matanya ala ABG alay zaman now. Tak hanya itu, posisi tangan dan badannya yang dibuat sensasional pun turut mewarnai aktifitas selfie tersebut.

Walaupun selfie dengan gaya alay adalah hak pribadi, setidaknya bagi kita yang berprofesi sebagai guru, bisa memfilter terlebih dahulu setiap foto selfie yang akan kita posting di media sosial. Karena bisa jadi anak didik kita pun turut melihatnya. Kalau lah hanya sebatas melihat mungkin tidak terlalu bermasalah, tapi apalah jadinya jika mereka pun ikut mencibir gaya selfie kita atau bahkan parahnya gaya selfie kita pun akhirnya diikuti anak didik kita. Bukankah peribahasa bahwa guru itu digugu dan ditiru masih berlaku sampai sekarang ini?

Janganlah heran dan shock jika pada akhirnya kita para guru, baik guru di sekolah maupun guru di rumah saat melihat beragam adegan foto-foto narsis dan lebay bahkan ada juga foto-foto yang syur dan sensasional yang di posting oleh anak-anak kita yang masih duduk dibangku sekolah, baik yang duduk di sekolah dasar maupun di sekolah menengah. Bisa jadi ada peran serta kita semua yang seyogyanya memang kita adalah sebagai figur keteladanan bagi mereka semua.

Apa yang dilakukan oleh guru dan para orang tua secara otomatis akan menjadi sebuah legitimasi akan boleh tidaknya sebuah sikap maupun tindakan dilakukan oleh mereka. Jadi bukan salah mereka juga jika apa yang selama ini mereka lakukan yang terkadang membuat dada kita menjadi sesak karena ulahnya atau bahkan merasa jijik karena keberaniannya yang diluar batas kesopanan yang tanpa malu dan ragu mereka share dan posting diberagam media sosial.

Sudah sepantasnya bagi kita yang berprofesi sebagai guru utamanya, untuk bisa menjaga sikap dan perilaku dalam keseharian kita. Jikapun kita ingin selfie dengan beragam gaya layaknya para ABG itu, maka cukuplah menjadi koleksi pribadi kita dan pasangan kita. Kalaupun hanya untuk sebatas seru-seruan atau memang memanfaatkan momen kebersamaan yang kita anggap akan sulit untuk mengulangnya entah karena faktor lokasi yang sulit dikunjungi tiap waktu, atau karena pemandangan yang indah dan jarang kita temui, maka tak jadi soal kita melakukan selfie dengan beragam fose, selama tetap dalam batas norma kesopanan dan keteladanan. Selain untuk menjaga marwah guru juga demi terhindar dari niat jahat orang yang memanfaatkan foto-foto kita untuk sesuatu hal yang merugikan dan mebahayakan diri sendiri.

Mungkin inilah imbas dari banyaknya guru zaman now yang terlahir di rentang tahun 1977 sampai 1994, mereka masuk dalam kategori generasi Y atau dikenal dengan millenial generation. Rasa percaya diri, optimistis, ekspresif, bebas, dan menyukai tantangan tercermin dari generasi ini. Terbuka terhadap hal-hal baru dan selalu ingin tampil beda dari yang lain. Mereka benar-benar menggunakan kreativitasnya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Menyukai suasana kerja yang santai dan mampu mengerjakan beberapa hal secara bersamaan (multitasking). Mereka termasuk peduli terhadap gaya (style) dan cepat beradaptasi dengan teknologi. Sayangnya, generasi ini gampang bosan dan loyalitasnya dalam urusan pekerjaan terbilang kurang.

Guru milenial, mungkin sebutan yang tepat bagi guru zaman now, dengan beragam karakteristik yang dimilikinya tak heranlah jika aktualisasi diri dan eksistensi diri menjadi hal yang harus terpublikasikan. Maka kebiasaan selfie layaknya sudah menajdi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Bagi guru milenial, apapun yang sedang dilakukannya maka selfie adalah endingnya.

Guru tetaplah guru, sosok yang harus menjadi teladan untuk siswanya. Sosok yang harus menjadi isnpirasi kebaikan bagi semua siswanya, terlepas mereka terlahir dari generasi mana. Bagi guru etika dan norma harus terus menjadi pemandu perjalanan hidupnya. Dirinya harus bisa menjadi tetes embun di pagi hari, menjadi oase di padang pasir, dan menjadi pelita jiwa-jiwa yang gelap. Ditangan gurulah lahirnya pejuang-pejuang peradaban, pejuang peradaban manusia yang akan menghantarkan bangsa ini pada puncak kemerdekaan yang hakiki. Wallahu’alam.*(Iwan Supriana/Kepala Sekolah SMA Terpadu Al-Qudwah Lebak)


Sekilas Info

Transformasi Caleg

Oleh  Supadilah Jika ada yang perlu disyukuri dengan adanya musim pemilihan legislatif (pileg) salah satunya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *