Etika Bertamu

Oleh : Nasuha Abu Bakar, MA

Suasana hari raya iedul fitri tahun 1440 hijriyah masih terasa terutama budaya saling berkunjung dari satu rumah ke rumah kerabat, sahabat terlebih ke rumah tetangga terdekat. Walaupun sudah sepuluh hari hari raya itu telah berlalu energi silaturrahim masih sangat kuatbdan melekat menjadi kebiasaan di masyarakat.

Sebagian masyarakat ada yang sudah merasakan kehangatan suasana lebaran cukup hanya kumpul kumpul dengan keluarga, misalnya hari pertama berkumpul di rumah orangtuanya seandainya orang tuanya masih ada. Setelah itu baru bersilaturahim ke tempat tinggal Kakak yang paling tua dan seterusnya sesuai kesepakatan awalnya.

Ada sebagian masyarakat moment lebaran dijadikan agenda kegiatan “Haul” yaitu memperingati hari wafat orang tuanya yang memang hari wafatnya pada bulan syawal. Maka biasanya nuansanya lebih sakral karena selalu diawali dengan menghatamkan bacaan kitab suci Alquran, dilanjutkan dengan bacaan bacaan dzikir, tahlil dan lain lainnya.

Ada sebagian masyarakat suasana lebaran dilanjutkan dengan agenda reuni an bersama teman teman sekelasnya dulu ketika masih duduk di sekolah dasar, ada yang reunian nya seangkatan ketika dusuk di bangku SMP, ada juga reunian seangkatan ketika sudah di SMA dan bermacam macam acara reuni sangat memungkinkan untuk dilakukan di waktu setelah lebaran karena hari harinya masih libur belum beraktivitas terkait dengan kantor dan tempat bekerja masing masing.

Moment lebaran inilah satu satunya waktu yang cukup luas untuk melepas rindu dan kangen kangenan yang begitu lama masa berpisahnya. Bahkan ada juga yang melontarkan canda dan tawa dengn teman yang dulu pernah menolak asmaranya yang baru tumbuh.

Ketika saya pulang kampung ke daerah Kabupaten Karawang tepat nya ke kota Rengasdengklok agak ke utara 30 kilometeran banyak sekali mobil mobil jenis pick up terbuka dijadikan angkutan. Mereka beramai ramai menuju ke tempat rekreasi, ada juga yang sengaja jalan jalannya mengunjungi makam makam para ulama besar dan makam para wali, misalnya ada yang ke Banten lama disana ada masjid agung Banten sekaligus makam maulana Sultan Hasanuddin.

Tetapi sangat disayangkan niat mulia itu kurang dibarengi rasa penghormatan yang tinggi dan “rasa menjadi tamu” kurang peka sehingga banyak melakukan tindakan yang kurang etis, misalnya suaranya tidak terkendali, canda tawa berlebihan, selfi selfi mengabaikan kesakralannya, dan yang paling terlihat di dalam “Etika Bertamu” itu membuang sampah sembarangan, sehingga di kolam yang sudah dibangun sedemikian rupa, yang semestinya rapih dan bersih dari sampah, terlihat tumpukan sampah yang rerapung di atas kolam tempat santai dan duduk duduk para peziarah dan para pengunjung.

Sebagai tamu rasanya kurang elok dan tidak terpuji bilamana beralasan dengan kalimat “sudah ada petugas kebersihannya” karena kebersihan” merupakan tanggungjawab kita bersama. Masa niatnya berziarah tapi malahan numpang buang sampah. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here