Jumat, 16 November 2018

Erupsi Gunung Anak Krakatau Dianggap Jadi Daya Tarik Wisata

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang menilai, adanya erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak berdampak pada tingkat kunjungan di wilayah Anyer-Cinangka. Erupsi tersebut dianggap sesuatu yang biasa terjadi dan itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

Dewan Pembina Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang Hardomo, yakin erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berdampak pada jumlah kunjungan wisata di Anyer-Cinangka. Bahkan sejauh ini pihaknya belum menerima pembatalan pemesanan hotel atau pun pertanyaan khawatir dari calon pengunjung yang sudah berencana datang berkunjung.

”Sejauh ini enggak ada pengaruhnya. Enggak ada yang komplain dan telepon tanya Anyer bahaya enggak, kan biasanya orang gitu kalau ada berita gitu langsung tanya aman enggak di sana, ini mah enggak ada,” ujarnya, Jumat (29/6/2018).

Menurutnya, erupsi GAK justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Erupsi tersebut menjadi sebuah atraksi. Jika cuaca bagus, erupsi tersebut akan terlihat indah dan menarik. Namun kalau cuaca hujan dan mendung maka atraksi itu menjadi kurang terlihat.

”Setahu saya sih biasa-biasa saja. Karena juga dari BMKG mengatakan itu bukan bahaya, biasa saja, jadi kan enggak terlalu, malah itu atraksi sebenarnya,” katanya.

Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Nana Sukmana Kusuma mengatakan, sejauh ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan BMKG, instansi terkait vulkanologi dan masyarakat. ”Itu juga baru satu kilometer dari Gunung Krakatau (Radius yang dilarang),” ucapnya.

Nana mengaku sudah menyiapkan tim SAR pantai serta relawan yang ada di pesisir pantai termasuk para pengusaha perhotelan. Dimana mereka akan menginformasikan kepada wisatawan yang datang untuk tidak mendekati area Krakatau. ”Wisatawan dilarang masuk ke sana. Itu sudah kita lakukan sejak informasi itu kita terima,” tuturnya.

Selain itu, ujar dia, saat ini pihaknya juga memiliki alat yang dapat terintegrasi langsung dengan BMKG. Dengan demikian, BPBD akan tahu seperti apa gerakan yang terjadi di sana. ”Jadi kita akan terus lakukan komunikasi dan informasi dengan jajaran pelaku penanganan bencana di Kabupaten Serang, apakah di tingkat kabupaten, kecamatan dan juga desa. Petugas yang siaga ada 17 orang ditambah relawan sebanyak 58 orang,” ucapnya.

Sedangkan untuk masyarakat sekitar pantai, menurutnya, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika erupsi itu terjadi. ”Mereka sudah warning dan tahu sudah terbiasa dengan hal semacam itu, dan tingkat siaga satunya baru 100 meter dari gunung. Mereka sudah paham apa yang harus dilakukan, dan tim bencana sudah siap,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*


Sekilas Info

Menikmati Eksotisme Telaga Biru Cisoka Tangerang

TANGERANG dikenal dengan industri. Namun, siapa sangka di sebuah pinggiran kota yang sedang berkembang ini, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *