Endang Effendi, Matang di Usia Muda

Endang Effendi.*

KOTA Cilegon memiliki seorang politikus muda namun kawakan, yakni Endang Effendi. Di usianya yang baru menginjak 33 tahun, politisi Partai Golkar ini sukses meraih karier politik yang terbilang tinggi. Hampir dapat dipastikan, Endang yang menjabat Ketua Sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cilegon, segera dilantik menjadi Ketua DPRD Kota Cilegon definitif.

Anak kedua Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Cilegon Sahruji ini mendapat kepercayaan dari Partai Golkar untuk menduduki posisi tertinggi legislatif bukan tanpa dasar. Sebab, dalam perjalanan kariernya di bidang politik, putra Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon ini telah duduk di kursi legislatif selama tiga periode (2004-2009, 2009-2014 dan 2014-2019). Endang pun dinilai menguasai berbagai hal di bidang kelegislatifan.

Sebut saja tentang penganggaran keuangan daerah, Endang pernah menjabat Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Cilegon di periode 2014-2019. Begitu pula dari sisi komunikasi politik, karena di tahun yang sama Endang menjabat Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Cilegon. Lalu apa yang membuat Endang kaya akan ilmu-ilmu kelegislatifan? Ia banyak belajar dari para tokoh senior di Partai Golkar.

”Itu semua tidak lepas dari peran serta ‘sang Suhu’ dan ‘si Bos’. Suhu saya adalah H. Adad (Adad Musadad – Anggota DPRD Kota Cilegon periode 2004-2009 dan 2009-2014). Si Bos itu H. Iye (Iye Iman Rohiman – Anggota DPRD Kota Cilegon periode 2004-2009 dan 2009-2014),” katanya saat ditemui di ruang kerjanya.

Endang menempa ilmu kelegislatifan dari kedua orang ini, ketika ia menjadi anggota Dewan di periode pertamanya, yakni 2009-2014. Ketika itu, Endang baru berusia 23 tahun. ”Pertama saya jadi anggota Dewan, itu ketika masih kuliah di STIE Paripurna Tangsel (Tangerang Selatan). Saya sedang menyusun skripsi, tapi saya dipaksa nyalon (mencalonkan anggota DPRD) oleh orangtua,” ucapnya.

Endang mengaku, saat itu tidak tahu menahu tentang legislatif. Ketika itu, Endang bagaikan sebuah kaleng tanpa isi. ”Blank, jujur saja saya tidak tahu apa-apa. Bahkan 2,5 tahun di periode pertama, saya tidak berani untuk bicara dalam forum apa pun. Itu karena saya gugup, takut kalau salah bicara bisa-bisa jadi bahan tertawaan,” tuturnya.

Di saat ia terpuruk oleh kekurangannya itu, dirinya melihat sosok Adad sangat menguasai soal anggaran. Sedikit demi sedikit, ia pun meminta Adad untuk mengajarinya. ”Setiap rapat anggaran gabungan dengan eksekutif di luar kota, saya selalu berada di kamarnya Pak Adad usai rapat. Di kamarnya itu saya belajar berbagai hal tentang anggaran. Untuk membujuknya, saya lakukan berbagai hal. Bahkan saya semirkan sepatunya agar bisa mengambil hati Pak Adad,” ucapnya.

Melihat kesungguhan Endang, Adad pun mengajari seluruh ilmu anggaran. Butuh upaya keras bagi Endang untuk menyerap ilmu Adad, terlebih buku-buku anggaran memang betul-betul tebal. ”Buku KUA PPAS, RKA, RAPBD, itu kan tebalnya bukan main. Nah saya belajar bedah anggaran itu ke Pak Adad. Katanya, saya harus giat belajar, sampai pada titik saya bisa menguasai satu buku hanya dengan melihat satu lembar buku anggaran,” tuturnya.

Endang ingat betul ketika dirinya di tes keilmuan tentang anggaran oleh Adad. Ketika ia mengikuti rapat RAPBD 2013 bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon. ”Waktu itu Kadisnya Pak Erwin (Erwi Harahap – saat ini Staf Ahli Wali Kota Cilegon), lalu Sekdanya Pak Lubis (Abdul Hakim Lubis – sekarang Ketua PMI Kota Cilegon). Itu kan dua-duanya pejabat kaliber tinggi, tidak pernah ada pertanyaan Dewan yang tidak terjawab oleh kedua pejabat ini,” ujarnya.

Ketika itu, Endang melempar pertanyaan dari sebuah tulisan Adad di muka forum. Meskipun hanya membacakan tulisan, tapi Endang gemetaran karena demam panggung. ”Saya membaca dengan sangat gugup, bahkan saya tidak bisa merespons jawaban dari pertanyaan saya sendiri. Usai Pak Erwin menjawab pertanyaan, saya bilang o..ya sudah kalau itu jawabannya, selesai,” tuturnya.

Hingga akhir periode 2014-2019, Endang masih bergantung dengan Adad di setiap rapat anggaran. Karena itulah, ia sangat kehilangan sosok Adad ketika di periode berikutnya Adad tidak mencalonkan diri. ”Di periode berikutnya, saya tidak lagi memiliki sandaran. Saya dipaksa mandiri untuk menguasai anggaran karena tidak lagi didampingi Pak Adad,” ucapnya.

Lalu apa peran Iye Iman Rohiman dalam keilmuan legislatif pria milenial ini. Menurut Endang, ilmu yang ia serap adalah terkait bagaimana berperilaku sebagai seorang legislator sejati. ”Pak Adad itu orangnya teoritis, tapi Pak Iye itu ilmu lapangan betul. Saya diajarkan bagaimana acara menyampaikan pendapat yang benar, perilaku, juga melaksanakan tupoksi-tupoksi anggota Dewan yang baik,” katanya.

Endang melihat Iye sebagai sosok yang piawai dalam berkomunikasi politik. Di sisi lain Iye pun orang yang humoris. ”Candaan yang tidak pernah habis kalau ketemu Pak Iye, itu tentang fisik. Saya bilang, boleh saja Pak Iye lebih kaya, mobil lebih banyak, badan lebih tinggi, tapi kalau urusan muka lebih ganteng saya. Pak Iye tidak pernah mau terima kenyataan itu, jadinya berujung pada perdebatan yang gak pernah selesai,” ujarnya.

Tapi di luar politisi itu, ada tokoh-tokoh lain yang mempengaruhi kematangan Endang sebagai legislator. Mereka adalah mantan Wali Kota Cilegon Tb.Aat Syafaat, Iman Ariyadi, kemudian mantan Sekda Kota Cilegon Abdul Hakim Lubis.

”Kalau Pak Aat gak usah ditanya lagi, beliau adalah guru besar kami. Sosok lain yang saya kagumi itu Pak Iman dan Pak Lubis. Kedua orang ini bagi saya adalah orang yang tahu semua hal. Mau bicara tentang undang-undang, PP (Peraturan Pemerintah), turunan-turunan, atau hal-hal lain, seperti di luar kepala. Melihat mereka itu, mendorong saya untuk berpikir keras, kok bisa,” katanya.

Setelah mencari tahu, ternyata hal yang membuat Iman dan Lubis menjadi sosok serba tahu adalah mau membaca. Gara-gara itulah, Endang mulai mencari sumber-sumber pengetahuan di luar dari buku-buku anggaran. ”Saya mulai membaca undang-undang, PP, dan aturan-aturan lain, karena mereka itu,” ujarnya.

Kini, Endang sedang menunggu SK Ketua DPRD Kota Cilegon definitif. Ditanya tentang posisi tersebut, menurut Endang jabatan Ketua Dewan betul-betul berat. ”Ini jabatan paling berat, betul-betul berat. Saya dipaksa tua di usia muda, sudah tidak bisa lagi tertawa terbahak-bahak dimuka umum, bahkan gaya rambut pun sudah tidak bisa macam-macam. Itu berat sekali,” tuturnya.

Namun begitu, Endang akan melaksanakan amanat tersebut dengan sebaik-baiknya. Mengingat kepentingan masyarakat Kota Cilegon, kini berada di pundak Endang. ”Ini amanat masyarakat Kota Cilegon, maka itu saya harus perlihatkan kinerja saya sebaik-baiknya,” ucapnya.

Sementara itu, mantan Sekda Kota Cilegon Abdul Hakim Lubis membenarkan bahwa Endang sering menyelinap ke kamarnya di setiap rapat gabungan antara legislatif dan eksekutif. Saat itu, Endang tidak pernah sungkan untuk meminta saran terkait bagaimana mencari sudut pandang terbaik dalam upaya pengambilan kebijakan pemerintah.

”Di dalam forum kami berdebat, tapi setelah rapat kami seperti adik dan kakak. Pak Endang suka datang ke kamar, bertanya ini dan itu. Saya pun dengan senang hati menjawab, bertukar pikiran, memberikan saran, dan lain-lain,” ucap mantan Sekda Kota Cilegon itu. (Sigit Angki Nugraha)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here