Empu Jarim, Warisi Keahlian Pembuatan Golok Ciparasi Secara Turun Temurun

Sebatang logam besi berwarna merah membara baru saja diangkat dari tungku pembakaran, lalu diletakkan di atas paron atau alas tempa terbuat dari besi baja berukuran empat persegi panjang dan berbentuk pipih, disusul dengan suara palu godam yang dihentakkan kenek (anak buah) dengan mengikuti arahan palu kecil Abah Jarim. Menimbulkan irama diatonik yang dihasilkan dari pukulan palu bertalu-talu di atas sebatang logam yang sedang dibentuk menjadi sebilah golok.

Akrab disapa Empu Jarim, warga RT 004/ RW 002 Desa Ciparasi, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten ini sejak tahun 1970-an telah menggeluti kerajinan pandai besi. Sedangkan keahliannya membuat golok diturunkan dari para sesepuhnya sekitar tahun 1930-an. Empu Jarim sangat piawai membuat berbagai macam alat pertanian dari bahan besi per mobil, terutama golok yang terkenal dengan nama golok “Pusaka Ciparasi.”

”Sejak tahun 30-an para sesepuh saya sudah membuat Golok Ciparasi. Saya belajar dari mereka dan baru mulai membuat golok tahun 1970-an,” kata Empu Jarim saat ditemui Kabar Banten di bengkel pandai besi miliknya.

Empu Jarim menggeluti dunia pandai besi saat usianya masih belasan tahun. Hampir setengah abad pria berusia lebih 60 tahun ini telah menurunkan ilmunya membuat golok kepada anak-anak dan saudara-saudaranya. Bahkan para perajin golok di beberapa desa seperti Desa Majasari dan Desa Sindanglaya awal mulanya belajar kepada Empu Jarim. Tiga orang anaknya pun saat ini berprofesi sama seperti dirinya.

”Selama ini saya mengajarkan anak-anak saya dan keluarga lainnya menjadi perajin pandai besi, bagaimana cara membuat golok yang berkualitas bagus dan membuat alat-alat seperti arit, koret, gobed, cangkul, baliung, linggis, dan alat-alat pertanian lainnya,” ujar Empu Jarim.

Di wilayah RT 004/ RW 002 Desa Ciparasi terdapat tiga rumah yang dijadikan bengkel pandai besi yang dikenal dengan rumpun. Ketiga rumpun tersebut adalah milik anak-anak Empu Jarim. Mereka menjual golok kepada para tengkulak yang datang ke bengkel pandai besi dengan harga bervariasi sesuai ukuran.

”Kami menjual golok kepada tengkulak yang datang langsung ke bengkel pandai besi. Harganya bagaimana ukuran, ada golok yang biasa buat kerja di kebun ada juga golok untuk perhiasan, orang sini menyebutnya kukundangan,” ucap Empu Jarim.

Saat diinformasikan kepada Empu Jarim soal perayaan tahunan para pendekar Banten di event “Golok Day” yang diadakan di Kota Cilegon pada Mei 2019 mendatang, dimana berbagai macam golok akan dipamerkan di sana, Empu Jarim berharap goloknya bisa diterima oleh kalangan pendekar dan pecinta golok di seluruh Indonesia.

”Saya hanya berharap semoga golok buatan saya yang tradisinya sudah turun temurun bisa diterima oleh pendekar dimanapun berada,” tutur Empu berkacamata ini. (T.Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here