Emak-emak Terpapar ‘Bank Emok’

LEBAK, (KB).- Pemkab Lebak diminta menyisir keberadaan rentenir atau yang biasa disebut ‘Bank Emok’. Hal itu perlu dilakukan sebagai langkah antisipasi agar tidak ada korban, seperti yang terjadi di Tasik Jawa Barat (Jabar) yang belum lama ini viral di media sosial.

Salah seorang tokoh muda di Lebak Selatan, Nurwan mengatakan, di beberapa desa di wilayah Kecamatan Malingping puluhan bahkan ratusan emak-emak diduga sudah terpapar keberadaan bank emok. Ini diketahui menyusul ramainya pemberitaan dan informasi melalui medsos adanya sejumlah emak-emak yang jadi korban bank tersebut.

”Sebenarnya dikira (Malingping) sudah banyak warga khususnya emak-emak yang terjerat bank emok. Informasi ini saya peroleh pasca viralnya emak-emak yang histeris karena tidak tahan oleh jeratan bank emok,” katanya, Rabu (13/11/2019).

Untuk mengantisipasi jatuhnya korban seperti di beberapa daerah di antaranya Tasik, lanjut Nurwan, seharusnya Pemkab Lebak peka dengan langsung memerintahkan aparaturnya di tingkat kecamatan untuk ditindaklanjuti ke tingkat desa hingga RT.

”Jangan sampai setelah ada korban baru sibuk dan ramai. Bukankah lebih baik mencegah daripada sudah terjadi,” ujarnya.

Hampir senada dikatakan salah seorang aktivis, Abdul Malik. Ia mengatakan, bank emok tak ubahnya seperti pinjaman yang dilakukan oleh rentenir. Disebut bank emok, karena saat terjadi transaksi dilakukan secara lesehan atau duduk di lantai.

Emok sendiri dalam bahasa Sunda berarti cara duduk perempuan lesehan dengan bersimpuh menyilangkan kaki ke belakang. “Syaratnya mudah, hanya setor KTP saja sudah bisa pinjam uang,” ucapnya.

Berbeda dengan rentenir, bank emok hanya akan meminjamkan uang dalam bentuk kelompok dan tidak per orangan. Setiap satu kelompok terdiri dari 10 orang atau lebih.

”Tidak sampai di situ, permasalahan juga sering muncul saat waktu pembayaran. Sebab jika salah satu tak bisa membayar, maka akan dibebankan pada kelompok tersebut,” tuturnya.

Terpisah, salah seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan Malingping berinisial Nn, terpaksa meminjam uang ke bank emok karena kebutuhan ekonomi. Memilih bank emok, lanjutnya, karena persyaratannya sangat mudah dibanding bank. Cukup dengan fotokopi KTP, uang pinjaman sudah bisa diterimanya.

”Ya memang benar, kalau ada salah satu anggota kelompok yang belum dibayarkan dibebankan kepada kelompok. Jadi sebenarnya pusing kalau ada dari kelompok kami yang belum bayar cicilan saat jatuh tempo. Terkadang bisa sampai sore hari kami dikumpulkan sebelum semua membayar,” katanya. (DH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here