Senin, 23 Juli 2018

El Darosah: Pintu Gerbang Menuju Al Azhar Kairo

Bangunan sederhana dan terpencil di tengah hamparan sawah tersebut tak mirip seperti lembaga pendidikan. Dari luar pagar, terlihat tak ada aktivitas. Sepi, tanpa lalu lalang. Akan tetapi siapa sangka, bangunan sederhana tersebut adalah pintu gerbang bagi anak bangsa yang ingin meneruskan pendidikan ke Al Azhar Kairo.

Dauroh El Darosah, nama lembaga pendidikan berbasis bimbingan belajar tersebut. Pendirinya bukan para senior di dunia pendidikan, melainkan tiga anak muda usia di bawah 30 tahun. Mereka adalah para alumnus Al Azhar Kairo yang ingin berbagi ilmu dan jurus masuk ke Al Azhar Kairo. Ketiganya H. Reza Rizki Febrian (28), jebolan Fakultas Usuluddin, Al Azhar;  H. Ahmad Ribatullah (27), jebolan Fakultas Syariah Al Azhar Kairo, dan Gina Aulia (25), sastra Arab IAIN.

Meskipara peserta didiknya diasramakan, namun ketiganya enggan menyebut lembaga tersebut sebagai pesantren. Padahal, di sana diajarkan aneka ilmu keislaman seperti tahfizul Quran, bahasa arab, belajar kitab kuning, dan latihan mengarang dalam bahasa arab. Semua pelajaran tersebut mengggunakan metoda cepat. Mereka lebih menyukai menyebutkan sebagai tempat “bimbingan belajar persiapan seleksi kuliah ke Timur Tengah”.

“Semua yang diujikan pada seleksi masuk Al Azhar diajarkan di sini. Bahkan, cara hidup di asrama juga dipraktikkan di sini. Intinya, ini adalah tempat karantina tahfizh 30 juz dan pendalaman bahasa arab,” kata H. Reza Rizki Febrian, akhir pekan lalu.

Ia bersyukur, mayoritas peserta didik di lembaganya bisa melanggeng mulus ke Al Azhar. Hingga tahun ketiga lembaga tersebut beroperasi, telah menghantarkan sedikitnya 150 santri ke Al Azhar Kairo. Sayangnya, dari jumlah tersebut tak seorang pun putra Banten.

“Santri yang sekarang ada, semuanya dari luar Banten. Bahkan dari wilayah sekitar El Darosah juga tidak ada yang ikut belajar,” katanya. Ia mendorong warga Banten melanjutkan pendidikan agama ke Timur Tengah, terutama Al Azhar.

Menurutnya, Al Azhar memiliki banyak keunggulan dibanding perguruan tinggi lain di Timur Tengah. Selain biaya kuliah gratis, di Al Azhar banyak lembaga yang menyediakan beasiswa, seperti Al-Azhar, baituzzakat BWAKM, dan lain-lain. Harga buku murah, biaya hidup relatif terjangkau, sekitar Rp 1 juta hingga Rp  1,5 juta per bulan. Biaya tersebut untuk termpat tinggal, makan, internet, listrik, transportasi, dan uang saku. “Setiap tahunnya banyak pelajar dari seluruh dunia ingin memperdalam agama Islam di Al Azhar,” katanya.

Dari Indonesia, katanya,  setiap tahun peserta seleksi ke Al Azhar terus meningkat. Pada tahun 2012 sebanyak 2.384 peserta, tahun 2013 sebanyak 2.799 peserta, tahun 2014 sebanyak 1.672 peserta, tahun 2015 sebanyak 2.465 peserta, tahun 2016 sebanyak 3.162 peserta, tahun 2017 sebanyak 4.472 peserta. “Sedangkan yang diterima hanya sedikit,” ujarnya.

Sementara H. Ahmad Ribatullah mengungkapkan, melihat ketatnya seleksi masuk Al Azhar, Dauroh El Darosah hadir untuk memberikan sulosi agar lulus seleksi. “Alhamdulillah,  dari peserta yang mengikuti bimbel, 90 persen lulus seleksi,” katanya.

Berlokasi di Kampung Cimoyan, Kelurahan Sukadana, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, sesungguhnya El Darosah tidak terlalu jauh dari Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B). Oleh sebab itu, selayaknya para pemangku kepentingan di provinsi ini menjadikan lembaga pendidikan tersebut  sebagai salah satu aset bagi pendadaran anak bangsa di Provinsi Banten. (SY)***


Sekilas Info

Ingin Sekolah tak Punya Biaya, Silahkan Daftar ke Pondok Pesantren Matla’ul Anwar Albantani

SERANG, (KB).- Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Albantani Kota Serang menerima siswa SMP (boarding school) yang tidak …

One comment

  1. ustadz, kalo untuk biaya hidup di sana (al-azhar) gmana ya..?
    #santriLA-TANSA:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *