Jumat, 14 Desember 2018
Ali Nurdin, Pengamat Politik Universitas Mathla'ul Anwar (UNMA) Banten.*

Efek Partai Politik Masih Kuat 

PANDEGLANG, (KB).- Pengamat politik Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Ali Nurdin mengatakan, meski pemilu tahun ini menggunakan sistem pemilihan serentak, namun peta politik suara masih sangat ditentukan oleh kekuatan partai politik (Parpol).

“Parpol besar pemenang pemilu, seperti PDI-P, Gerindra, Demokrat dan Golkar masih bisa menjadi partai peraih suara mengantarkan para calon legislator menuju kursi parlemen”, ujar seorang akademisi ini kepada Kabar Banten, Sabtu, (8/9/2018).

Selain kekuatan partai, ada faktor lainnya yang bisa membuka peluang peraihan suara para caleg pada pemilu legislatif 2019. Menurut dia, tingkat elektoral dan kualitas serta popularitas caleg bisa menjadi daya pikat bagi pemilih. Caleg yang berkualitas, artinya memiliki rekam jejak bagus, tingkat kedisukaan dan popularitas namanya kuat berpeluang untuk bisa duduk di kursi legislatif. “Ya, tetapi kualitas dan popularitas caleg juga tidak begitu signifikan dibanding efek partai,” kata Ali Nurdin.

Peluang lainnya bagi para caleg yang diprediksi bisa melenggang ke kursi parlemen yakni soal jaringan. Artinya, masih ada caleg yang partainya kurang begitu bagus, namun dia memiliki jaringan luas dan mengakar. “Ya, jaringan bisa menentukan seorang caleg menang,” ujarnya.

Selain jaringan, raihan suara pileg sangat ditentukan oleh caleg yang memiliki logistik atau pendanaan yang kuat. Peluang politik seperti ini banyak terjadi dan lolos ke kursi parlemen. “Ya, kita tahu masyarakat di daerah masih sangat toleransi terhadap figur seseorang. Sebab, banyak contoh seseorang partainya kurang begitu menarik, jaringannya juga kecil, tapi bisa menang karena punya kekuatan logistik,” ujarnya.

Ali Nurdin mengatakan, soal isu mantan terpidana korupsi juga lolos dan berhak mengikuti pileg, hal itu tidak berdampak terhadap segmen pemilih. Kenapa demikian? Sebab masyarakat daerah tidak semuanya memandang ke arah pribadi caleg, artinya terlepas dia itu mantan terpidana, kalau memiliki modal pemilu besar, jaringan dan berangkat dari partai yang bagus, peluangnya bisa menang dalam pemilu legislatif, ujarnya.

Sementara itu, bakal calon DPRD Provinsi dari partai Golkar, Ade Rohadi mengatakan, pemilu adalah pesta demokrasi rakyat. Semua kontestan pasti memiliki taktik dan setrategi tertentu. Namun dia tetap optimistis bisa memenangkan pileg dengan menjunjung tinggi nilai-nilai konstitusional.

Caleg DPRD  Provinsi dari PPP, Ida Ating menilai pemilu tahun ini sebagai sarana untuk menentukan wakil rakyat. Dirinya pun sudah mempersiapkan setrategi dan jaringan kuat di masyarakat. “Saya kira pemilu harus menjadi sarana demokrasi menyenangkan, damai dan berkeadilan,” ucapnya.‎

Sementara politisi PAN juga caleg DPRD Provinsi, Hadi Mawardi mengatakan, ‎pemilu tahun ini merupakan hajat demokrasi yang harus dihormati agar berjalan aman dan damai. Tentunya, dia optmistis bisa meraih kursi dengan kekuatan jaringan yang terawat dan bagus. (EM)*


Sekilas Info

Tolak Kekerasan Perempuan dan Anak

PANDEGLANG, (KB).- Puluhan mahasiswa perempuan Cipayung (Kohati, Korpri, Sarinah dan Immawati) berunjuk rasa di depan Gedung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *