Sabtu, 23 Februari 2019

Dukung Polri Ungkap Peneror Pimpinan KPK

Oleh :

Akbar Revi

Serangkaian aksi teror yang menyasar pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu, 9 Januari 2019. Benda yang diduga bom ditemukan tersangkut di pagar rumah Ketua KPK Agus Rahardjo, di Perumahan Graha Indah, Jatiasih, Kota Bekasi. Sementara teror lain terjadi di rumah Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif, di kawasan Kalibata Selatan RT 01 RW 03, No. 42C, Pancoran, Jakarta Selatan. Atas kejadian teror ini, Polri bergerak cepat melakukan peng­ung­kapan dengan melibatkan personel dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

Bebapa bukti barang dan rekaman CCTV sudah diperoleh dari kerja cepat kepolisian. Di rumah Laode M. Syarif, pelaku ada dua orang mengenakan helm dengan mengendarai sepeda motor. Saat ini polisi sedang melakukan pendalaman dengan memeriksa enam orang saksi, termasuk Laode M. Syarif. Saksi yang diperiksa adalah orang-orang yang diduga mengetahui peristiwa itu. Selain itu CCTV di rumah Laode juga diamankan untuk dianalisa lebih lanjut. Polisi berkomitmen akan segera mengungkap dan melakukan penangkapan terhadap pelaku teror.

Teror terhadap dua pimpinan KPK kali ini merupakan teror ke-9 yang pernah dialami jajaran KPK. Teror pertama adalah penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK yang dikenal dengan nama safe house. Teror kedua yaitu ancaman bom ke gedung KPK. Ketiga, teror bom ke rumah penyidik KPK. Keempat, teror penyiraman air keras kendaraan milik penyidik dan pegawai KPK. Kelima, teror berbentuk ancaman pembunuhan terhadap pejabat dan pegawai KPK. Keenam, perampasan perlengkapan milik penyidik. Ketujuh, penculikan jajaran KPK yang sedang bertugas dan percobaan pembunuhan terhadap penyidik.

Di masa kepemimpinan Presiden Jokowi yang terkenal tegas terhadap korupsi, teror kepada KPK terjadi semakin masif. Hal ini adalah dampak dari sempitnya ruang gerak koruptor yang terus dikejar oleh KPK, sehingga para koruptor yang terancam ditangkap melakukan penyerangan balik terhadap KPK dengan bentuk aksi teror. Tujuannya yaitu melemahkan kinerja KPK melalui ancaman teror untuk menimbulkan rasa takut kepada para penyidik KPK untuk melanjutkan pengusutan kasus korupsi.

Pemerintah dengan serius menunjukkan komitmennya dalam memberantas korupsi. Dalam jumpa pers, Wadah Pegawai KPK yakin bahwa Presiden Jokowi segera menginstruksikan Polri untuk mengungkap kasus teror kepada KPK karena hal ini menunjukkan negara sedang terancam eksistensinya dalam pemberantasan korupsi. Kasus teror ini pasti mendapat atensi dari Presiden dan Polri karena KPK merupakan salah satu unsur penting dalam mewujudkan Indonesia bersih dari korupsi sesuai keinginan Presiden Jokowi.

Masyarakat yakin Polri bisa segera menangkap pelaku teror. Dengan menangkap pelaku teror maka akan terungkap juga siapa dalang yang mengendalikan di belakangnya. Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa dalang tersebut merupakan pelaku korupsi. Musuh KPK tidak lain dan tidak bukan adalah koruptor, dan tidak ada orang di Indonesia yang membenci KPK selain koruptor itu sendiri. Dengan melakukan penangkapan pelaku, berarti Polri memiliki andil besar dalam menangkap koruptor yang menjadi dalang pelaku teror.

Korupsi di era sekarang sudah berkurang drastis sehingga banyak terjadi pembangunan dari Sabang sampai Merauke. Uang rakyat digunakan secara tepat sasaran untuk kesejahteraan rakyat, dan tidak lenyap di tangan satu dua orang koruptor. Wujudkan Indonesia bersih. Dukung Pemerintah perangi korupsi. Dukung KPK menangkap para koruptor. Dukung Polri mengungkap kasus teror terhadap KPK. (Penulis adalah Aktivis gerakan anti korupsi)*


Sekilas Info

Politik Sehat Negara Kuat

Oleh:  Wafa Abdullah Faqih Abbas Mungkin banyak yang setuju jika dikatakan pada 2019, adalah tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *