Dugaan Sungai Kakalen Tercemar Limbah B3, Pemkab Serang Geram

SERANG, (KB).- Asda II Pemkab Serang Irawan Noor geram mendengar adanya dugaan Sungai Kakalen di Desa Sukatani, Kec.Cikande yang diduga tercemar limbah bahan beracun berbahaya (B3). Jika dugaan itu terbukti, maka pemkab siap untuk memberikan sanksi tegas. Hal itu dikatakannya seusai menghadiri pembentukan tim penanganan Coorporate Social Responsibility (CSR) di Pendopo Bupati, Senin (7/8/2017). “Kalau memang iya sungai tersebut tercampur limbah, maka diberikan sanksi yang tegas,”katanya.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup tersebut menyatakan, seharusnya perusahaan mempunyai komitmen untuk melestarikan lingkungan. Jangan main buang saja limbah-limbah terhadap sungai, apalagi sungai tersebut menjadi keperluan warga sekitar. “Saya kira perusahaan yang membuang limbah sembarangan, manajemennya ingin untung besar. Ini tidak pantas dilakukan oleh perusahaan yang ada di Kab.Serang. Pemkab akan mengambil langkah konkrit,karena sudah termasuk pencemaran. Apalagi ada warga yang terserang penyakit gatal-gatal. Sesuai dengan standar operasional prosedur,limbah tidak dibuang sembarangan,akan tetapi dikirim ke perusahaan penampung limbah,”ujarnya.

Investasi boleh, kata Irawan, akan tetapi kalau merusak lingkungan, sedangkan pemkab sedang gencar melestarikan, sama saja bohong. “Berikan sanksi yang berat untuk perusahaan perusak lingkungan dan merugikan warga, kami ingin semua perusahaan yang berinvestasi disini ikut dalam aturan yang sudah diberikan oleh pemerintah. Jangan membuang limbah begitu saja,”tuturnya.

Sementara itu Sekretaris DLH Kab. Serang Kustaman mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan tim untuk mengambil sampel dari suangai ciujung,karena semua sungai muaranya berada disitu,bahkan sungai kakalen juga airnya mengalir ke situ. “Di LH ada seksi baru mengenai penanganan kasus limbah,mudah-mudahan secepatnya hasil uji lab ada kepastian sungai tersebut tercemar atau tidak,”ucapnya.

Sebelum mengalir ke Ciujung, kata Kustaman, sejumlah sampel air akan diambil,bahkan sejumlah sungai secara rutin yang dekat dengan industry secara berkala diambil airnya untuk pengukuran apakah tercemar atau tidak. “Sejumlah sampel sebelum ke sungai Ciujung secara rutin sudah diambil sampelnya, karena memang uji air tercemar limbah butuh proses waktu.Kalau jenisnya BOD5,berarti butuh waktu 5 hari. Dan untuk BOD adalah biologis-biologis yang berbeda dengan kimia dan kerja bakteri sampai dengan waktu 5 hari.Kami melihat visualisasi secara besarannya saja,”kata pria yang akrab dipanggil Kus.

Kustaman menjelaskan,saat tahun 2016 DLH memberikan sanksi kepada 15 perusahaan,namun tidak berarti ketika diberikan sanksi terus selesai. Perusahaan itu datang yang baru, yang lama juga masih eksis. “Ini memang ada semacam pergantian manajemen,walaupun perusahaanya lama.Jadi dalam menindak juga kami harus melihat.Kalau dikami sanksi administrasi,tapi untuk sanksi pidana langsung dari Kementrian Lingkungan.Karena didaerah banyak sekali pertimbangganya,untuk itu kami dorong ke sana,”ungkapnya.

Seperti diketahui Aliran Sungai Kekalen yang berlokasi di Desa Sukatani, Kecamatan Cikande, teraliri limbah yang di duga B3 dari salah satu perusahaan di kawasan modern Cikande pada Sabtu (5/8/2017).
Akibatnya, banyak warga yang mengeluhkan mengalami gatal-gatal dan tanaman palawija di sekitar pun banyak yang mati.Beberapa kampung yang terdampak dari adanya limbah tersebut. Seperti Kampung Cinerus, Cibiru, Pring ulung, Kalong, Telung baya dan Kemuning.(H-45)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here