Dugaan Penjualan Lahan Pemkot Serang, Hakim Sebut Staf Kelurahan Terlibat

SERANG, (KB).- Majelis hakim Pengadilan Tipikor Serang Yusriansyah menilai, staf Kelurahan Serang, Hidayat ikut berperan menyeret terdakwa Lurah Serang M. Faizal Hafiz ke meja hijau atas kasus dugaan penjualan lahan Pemkot Serang. Hal tersebut karena Hidayat ikut menandatangani surat keterangan yang menyatakan lahan tidak sengketa, sehingga terbit akta jual beli (AJB) terhadap lahan di persil 53/S, Kampung Batok Bali, Kelurahan Serang. “Akibat perbuatan saudara itu telah membuat terdakwa (Lurah Serang) didudukkan di sini. Saudara ikut terlibat dalam upaya penjualan tanah ini,” ujar Yusriansyah di Pengadilan Tipikor Serang, Selasa (4/7/2017).

Hidayat dihadirkan JPU Kejari Serang yang diketuai A.R. Kartono sebagai saksi untuk terdakwa M. Faizal Hafiz. Hidayat dihadirkan karena mengetahui adanya upaya penjualan lahan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Serang tersebut. Hidayat ketika itu sebagai saksi yang ikut menandatangani surat keterangan lahan tidak sengketa. Hidayat diperintah oleh tersangka Tb. Syarief Mulia alias Mumu alias Satria Agung (berkas terpisah). Surat itu ditandatangani pada tahun 2013 tanpa perintah dari terdakwa.

“Pak Mumu yang suruh, karena datanya sudah lengkap. Pak Mumu datang ke ruangan saya. Tidak ada (perintah terdakwa),” katanya, di hadapan ketua majelis hakim Emi Widiastuti. Ia menjelaskan, surat tersebut ditandatanganinya karena posisi lahan berada di objek persil 50, bukan persil 53 yang merupakan aset milik desa. Dia sendiri tidak mengetahui lokasi persil 50 yang disodorkan oleh Tb. Syarief. “Tidak tahu (lokasi persil 50) mungkin di sekitar itu (persil 53),” ucapnya.

Tukar guling

Dia mengaku lahan yang berada di persil 50 tersebut akan diruilslag atau tukar guling lahan oleh Tb. Syarief. Dia membantah lahan tersebut akan dijual. Meski membantah, lokasi lahan yang akan diruilslag tersebut tidak diketahuinya. Proses ruilslag sendiri dikatakannya pernah dibahas dalam rapat bersama di kantor Kelurahan Serang. “Ada pertemuan bersama masyarakat. Hasilnya enggak tahu (hasil rapat). Kejadian 2013 mau diruilslag,” katanya.

Sebelum berganti dari desa menjadi kelurahan, terdapat tiga aset Desa Serang selain lahan berada di Persil 53 seluas 8.200 meter persegi. Lahan tersebut selalu dicatat dan dilaporkan ke Kecamatan Serang sebagai laporan aset. Ketiga lahan tersebut tidak dipasang patok atau tanda lahan milik desa. “Setahu saya ada tiga, satu di Batok Bali, Sepang. Enggak ada (tanda bengkok), enggak (dibikin patok),” ucapnya.
Seusai mendengarkan keterangan Hidayat, persidangan kemudian dilanjutkan dengan kesaksian tenaga sukarela Kelurahan Serang M. Amin dan staf pejabat pembuat akta tanah (PPAT) Kecamatan Serang, Mastara. Setelah mendengarkan keterangan ketiga saksi tersebut, persidangan ini akan kembali digelar pada Selasa pekan depan dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi. (H-47)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here