Dugaan Pencabulan di SMP Cikeusal, Kelas dan Kebun Sekolah Jadi Saksi Hubungan Terlarang

SERANG, (KB).- Kronologi kasus dugaan pencabulan di SMP Cikeusal, Kabupaten Serang, akhirnya terungkap. Selain berbuat mesum di ruang labolatorium komputer, tiga oknum guru di sekolah itu ternyata tega melampiaskan nafsu birahi mereka kepada tiga orang murid perempuannya di ruang kelas dan kebun belakang sekolah.

“TKP (tempat kejadian perkara)-nya setelah kami kembangkan ada beberapa lokasi. Ada yang di kelas, kebun belakang sekolah, tapi yang paling sering memang di lab komputer,” kata Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan saat ekspose kasus di Mapolres Serang, Jumat (21/6/2019).

Berdasarkan pemeriksaan polisi, kasus pencabulan ini sudah dilakukan sejak November 2018. Pelaku pertamanya yaitu DD, seorang guru mata pelajaran IPS yang tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang.

DD berhasil merayu korban murid perempuannya sendiri yaitu Mawar. Perbuatan mesum ini kemudian disusul oleh OH yang berhasil merayu Bunga dan AS kepada Melati. OH, diketahui merupakan guru Seni Budaya sementara AS merupakan guru BP di sekolah tersebut.

“Perbuatan para pelaku sudah dilakukan sejak November. Ada juga yang mulai dari Januari, dan berlanjut hingga Maret tahun ini. Tapi, sampai sekarang mereka itu masih saling ketemu. Karena tiga korban ini merupakan teman akrab dan saling mengenal dengan guru tersebut,” ujar Kapolres.

Selain di kelas dan kebun belakang sekolah, berdasarkan informasi yang diperoleh Kabar Banten, AS tega berbuat mesum kepada Melati di rumah korban. Tindakan itu dia lakukan saat mengetahui rumah korban sedang sepi dan ditinggalkan oleh orang tua Melati.

Parahnya lagi, tiga oknum guru tersebut tega melakukan perbuatan mesum kepada muridnya sendiri lebih dari satu kali. Laboratorium komputer sekolah, bahkan pernah menjadi saksi mesum dua pasangan guru dan murid tersebut berbuat hubungan terlarang.

“Sudah berkali-kali. TKP dari hasil pengembangan kita, mereka itu pernah berdua dalam satu tempat (lab komputer). OH dan DD, korbannya Bunga dan Mawar. Nah yang hamil itu Bunga, semua korbannya masih berumur 14 tahun,” tutur Kapolres.

Meski menurut pengakuan para tersangka tindakan itu mereka lakukan atas dasar suka sama suka, polisi tetap menjerat ketiganya dengan Pasal 81 Ayat 1, 2 dan 3 UU No. 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman bagi ketiga guru mesum itu pun diperberat dengan hukuman paling ringan 7,5 tahun dan paling berat 20 tahun penjara.

Diketahui, kasus dugaan pencabulan ini terungkap setelah salah satu orang tua korban melaporkan seorang guru ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Serang pada 11 Juni 2019. Kemudian pada 17 Juni, dua korban lainnya ikut melaporkan dua guru lain di SMP Cikeusal ke polisi. Dalam aduannya, mereka melaporkan aksi bejat OH, DD dan AS yang terjadi pada 15 Maret 2019 sekitar pukul 10.00 WIB atau saat jam istirahat sekolah.

Sementara, tersangka OH mengaku menyesal dan khilaf telah mencabuli anak muridnya sendiri yaitu Bunga di lingkungan sekolah. Akibat perbuatannya, Bunga kini harus menanggung beban karena tengah berbadan dua.

“Sebetulnya saya mau bertanggungjawab, mau nikahin anaknya. Untuk keluarga korban, kalau saya bisa bertemu, saya juga mau meminta maaf atas kejadian ini. Karena, ini saya lakukan enggak ada paksaan. Murni karena suka sama suka,” kata tersangka OH.

Penyesalan yang sama juga ditunjukan oleh tersangka DD. Guru yang tercatat sebagai PNS di lingkungan Pemkab Serang, itu mengaku awalnya bisa berhubungan dengan muridnya Mawar karena sang murid sering mendatanginya untuk sekedar ngobrol. Berawal dari itu, hubungan mereka kemudian semakin akrab hingga Mawar sering datang kepadanya untuk curhat masalah pribadi.

“Awalnya sering curhat, terus pacaran, akhirnya jalan begitu saja dan kemudian terjadi seperti itu. Dia yang duluan nge-WA ke saya, katanya pengin lebih dekat,” kata DD.

DD mengaku awalnya tidak punya niat untuk berbuat mesum kepada muridnya sendiri. Namun karena saat itu ada kesempatan yang mendorong hasrat birahinya, akhirnya tindakan bejat pertama kali itu tega dia lakukan di ruang kelas selepas pulang sekolah.

“Setelah kejadian ini sangat menyesal karena ini melanggar hukum,” ujar DD tertunduk malu menyesali perbuatannya. (Rifat Alhamidi)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here