Dugaan Korupsi Dana Jaspel Rp 17,872 M, 4 Direksi RSU Banten Dapat Insentif Ganda

SERANG, (KB).- Ketua Tim Perhitungan dan Verifikasi Dana Jasa Pelayanan (Jaspel) Rumah Sakit Umum (RSU) Banten Vita Ofniati menyebut terdakwa Direktur RSU Banten Dwi Hesti Hendarti dan tiga wakilnya mendapat insentif ganda dari dana jaspel tahun 2016 senilai Rp 17,872 miliar.

Padahal menurutnya, keempat direksi tersebut tidak berhak mendapat insentif ganda dari retribusi dari pelayanan kesehatan rumah sakit.  “Insentif langsung ada, insentif tidak langsung ada. Seharusnya terima dari insentif tidak langsung,” ujar Vita saat bersaksi untuk terdakwa Dwi Hesti Hendarti di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (18/10/2017).

Tiga wakil direktur (wadir) yang mendapat insentif ganda tersebut yakni Wakil Direktur Penunjang Madsubli Kusmana, Wakil Direktur Pelayanan Kesehatan Lilianni Budiyanto dan Wadir Kesehatan Iman Santoso. “Uangnya setelah dihitung diserahkan ke bagian masing-masing, sudah ada aplikasinya. Saya tidak tahu berapa persen (pemberian dana jaspel),” ucap Vita dalam sidang yang diketuai oleh Ketua Majelis Hakim Sumantono.

Vita mengatakan, proses perhitungan dana jaspel dilakukan oleh anggotanya Anung Saputro. Selaku ketua tim pengganti Oman Abdurohman dia tidak mengetahui presentase pembagian dana jaspel kepada karyawan. Bahkan Anung sendiri diakuinya tidak berkoordinasi dengannya melainkan langsung dengan terdakwa. “Teknisnya saya tidak tahu pak. Anung langsung berkoordinasi dengan direktur, saya percayakan saja,” ucap Vita dalam sidang yang dihadiri JPU Kejari Serang A.R Kartono dan Subardi.

Vita menjelaskan, dalam dana jaspel tahun 2016 RSU Banten mendapat dana Rp 17,82 miliar. Dana tersebut merupakan pungutan dari retribusi rumah sakit di tahun 2015 dan dianggarkan di APBD Perubahan 2016. Pemberian insentif bagi karyawan rumah sakit tersebut berpedoman pada Pergub Banten Nomor 33 Tahun 2016. Berdasarkan pergub tersebut rumah sakit mendapatkan 44 persen dari retribusi sedangkan sisanya disetorkan ke kas daerah.

Menindaklanjuti pergub tersebut direktur kemudian mengeluarkan surat keputusan (SK) yang mengatur tentang teknis pemberian dana jaspel. Dari total dana jaspel yang diterima kemudian dibagi kedalam dua bagian yakni langsung sebanyak 60 persen dan tidak langsung 40 persen. Dana 60 persen langsung tersebut diberikan kepada pelayanan kesehatan yang sifatnya bersentuhan dengan pelayanan rumah sakit seperti tenaga medis, kelompok tenaga keperawatan dan kelompok administrasi.

Sedangkan tidak langsung diberikan kepada pos rumenerasi, direksi dan staf direksi. “Jasa pelayanan langsung (dana langsung) untuk tenaga medis, saya tidak tahu porsinya. Saya tidak dipakai (dilibatkan dalam setiap perhitungan),” kata Vita. Vita menuturkan, dia tidak mengetahui adanya kenaikan 5 persen dana jaspel yang sebelumnya hanya 39 persen. Kenaikan 5 persen dana jaspel yang kemudian dikirim ke para direksi diketahuinya setelah terjadi keributan di internal rumah sakit. Selaku ketua tim dia juga tidak pernah menerima laporan perhitungan dana jaspel.

“Tidak disosialisasikan 5 persen, tidak pernah (ada persetujuan 5 persen dari karyawan dikelola direktur). Karyawan tidak tahu, saya tahu setelah ada ribut-ribut. Jadi sistemnya ditransfer ke direksi, direktur sama wadirnya. Untuk masalah jaspel saya tidak pernah dapat laporan karena jaspel sudah berjalan, saya anggap tidak ada masalah,” tutur Vita. Dana kenaikan jaspel sebesar 5 persen tersebut, kata Vita, disimpan di rekening para direksi untuk kepentingan akreditasi rumah sakit. Meskipun rumah sakit sendiri telah menganggarkan Rp 300 jutaan untuk akreditasi. Dana akreditasi bukan di bagian saya ada di bagian pelaporan dan perencanaan (rumah sakit),” kata Kasubag Umum dan Kepagawaian RSU Banten ini.

Menanggapi keterangan Vita, terdakwa keberatan. Menurutnya pemberian insentif ganda telah diatur melalui SK Nomor: 821/0514/RSUD/VI/2016 tanggal 1 Juni 2016 yang dia terbitkan. Sehingga pemberian insentif ganda tersebut tidak ada masalah. “Memang direksi mendapat insentif langsung dan tidak langsung. Yang tidak langsung 40 persen dan 60 persen langsung tadi. Di poin b (insentif langsung) diberikan kepada seluruh karyawan itu termasuk direksi,” tuturnya. (FI)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here