Dugaan Jual Beli Buku di Sekolah, Subadri Kumpulkan Kepala SD

SERANG, (KB).- Pemerintah Kota (Pemkot) Serang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) mengumpulkan Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) se-Kota Serang, di Aula SMKN 2 Kota Serang, Senin (14/10/2019). Hal itu menyusul adanya dugaan praktik jual beli buku di lingkungan SDN Banjar Agung 1, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.

Laporan itu pun datang dari seorang siswa bernama Guntur Bayu Juniardi, yang merupakan anak Wakil Wali Kota Serang Subadri Usuludin. Hal itu diketahui ketika anaknya mengaku jika disekolahnya mewajibkan siswanya untuk membeli buku pelajaran seharga Rp 105.000.

“Di SD juga ternyata ada, sekalipun memang tidak menyeluruh. Jadi saat saya inspeksi mendadak (Sidak) di SMPN 23 tidak tahunya anak saya juga beli buku disekolahnya. Berangkat dari salah satu bukti itu ada pertemuan ini,” kata Wakil Wali Kota Serang Subadri Usuludin, usai memberikan pembinaan kepada 223 Kepala SDN se-Kota Serang.

Mantan Ketua DPRD Kota Serang itu pun mengatakan, kepala sekolah tempat anaknya belajar, tidak mengakui adanya praktik jual beli. Melainkan, buku tersebut didapatkan dari bazar yang ada di lingkungan sekolah. Meski demikian, Pemkot Serang sangat melarang adanya hal tersebut. “Apapun dalihnya, selama itu memberatkan siswa, itu tidak boleh dilakukan, dan pemkot melarang tegas,” ujarnya.

Ia pun mengambil langkah yang sama seperti pada saat memberikan teguran kepada kepala SMPN 23 Kota Serang Deni Sopari. Dengan menandatangani surat pernyataan di atas materai. “Ini berangkat dari sidak SMP, karena diduga juga dilakukan di SDN. Maka kami tindak lanjut, untuk menyudahi jual beli LKS atau apapun di sekolah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dindikbud Kota Serang Wasis Dewanto mengatakan, bila kasus tersebut kembali terjadi, maka pihaknya akan memberikan sanksi tegas pada pelaku. Salah satunya penundaan kenaikan jabatan, hingga penurunan jabatan. “Kalau yang kemarin itu masih ditolerir, tapi ini tidak untuk selanjutnya. Baik esok, hingga selamanya. Kalau terbukti masih ada kami akan sanksi mereka,” tuturnya.

Sedangkan, Kepala SDN Banjar Agung 1 Juhanah mengaku, tidak ada praktik jual beli apapun di sekolahnya. Adapun isu yang beredar, itu merupakan acara bazar buku yang dilakukan di lingkungan sekolah. “Saya tidak jual, itu karena ada bazar. Semenjak ada larangan, ya tidak jadi (jual beli),” ujarnya.

Ia juga mengatakan, dengan adanya pembinaan tersebut bisa menjadi motivasi, sehingga kualitas guru terus meningkat. Salah satunya dapat berkreasi dengan membuat LKS sendiri yang tidak diperjualbelikan. “Mudah-mudahan kualitas gurunya meningkat, dan jangan sampai ada jual beli LKS lagi. Bila ada guru disekolah yang melakukan itu maka harus terima sanksi,” ucapnya. (Rizki Putri/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here