Dua Santri Terlindas Truk, Ribuan Santri Blokade Jalan Bojong Renges

Ribuan Santri Pondok Pesantren Al Hasaniyah Teluk Naga Kabupaten Tangerang bersama sejumlah para alumi melakukan aksi menutup Jalan Bojong Renges, Desa Bojong Renges, Kecamatan Teluk Naga, Rabu (15/1/2020).*

TANGERANG, (KB).- Ribuan Santri Pondok Pesantren Al Hasaniyah Teluk Naga Kabupaten Tangerang bersama sejumlah para alumi melakukan aksi menutup Jalan Bojong Renges, Desa Bojong Renges, Kecamatan Teluk Naga, Rabu (15/1/2020).

Aksi para santri tersebut merupakan dampak dari kecelakaan dua orang santri di Jalan Suryadarma, Kelurahan Selapajang Jaya. Tepatnya di depan Gedung ex BNP2TKI Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Selasa (14/1/2020).

Mereka memprotes pelanggaran jam operasional angkutan tambang oleh truk yang menabrak melindas kaki teman mereka. Aturan tersebut dimuat dalam Peraturan Bupati (Perbub) Kabupaten Tangerang Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pembatasan Jam Operasional Angkutan Tambang (Pasir, Batu, Tanah).

Dalam perbup itu disebutkan bahwa truk dilarang melintas mulai pukul 05. 00 – 22. 00 WIB. Pantauan, ribuan santri bersama tokoh pimpinan pondok pesantren menduduki Jalan Bojong Rengas pukul 10.00 WIB.

Tidak hanya santri aktif, alumni pondok pesantren Al Hasaniyah juga ikut dalam aksi tersebut. Salah satunya adalah Koko Renanda. Alumni Al Hasaniyah tersebut menuntut perda jam operasional truk ditegakkan.

“Perbup itu ditegakan, hukum jangan tumpul ke bawah tumpul ke atas,” kata dia.

Hal senada diutarakan Ali Hasyim. Santri kelas 2 Madrasah Tsanawiyah tersebut berharap tidak ada lagi korban jika Perda jam operasional truk diterapkan.

“Biar nggak ada korban lagi yang menimpa santri,” tuturnya.

Pantauan Kabar Banten, sebelum menggelar aksi blokade jalan, para santri dan alumnus melakukan aksi long march dari pesantren mereka menuju portal perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang di Jalan Bojong Rengas.

Santri putri berbaju putih dan berkerudung hitam, sementara santri laki-laki berpeci hitam dan berseragam putih. Sambil membawa bendera kuning, para santri tersebut duduk bersila di pertigaan Jalan Bojong Rengas, Kabupaten Tangerang.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Sugeng Hariyanto mengatakan, kecelakaan truk pengangkut tanah dengan sepeda motor tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Dimana sepeda motor dikendarai dua siswi Pondok Pesantren Al Hasaniyah Teluk Naga bernama Indah Nurhayati (14) dan Suci Melati (14).

Truk dengan No Pol B 9903 KYW yang dikemudikan Herman saat itu sedang mengarah ke Tangerang dengan tujuan Maja Banten dengan kecepatan 30 km/Jam.

Lebih lanjut Sugeng menjelaskan, ketika berada di depan gedung bekas BNP2TKI, yang ada di Selapajang truk yang melaju dengan kecepatan 30 kilometer per jam itu didahului sepeda motor yang ditumpangi dua santri lewat lajur kiri.

“Namun, pengendara sepeda motor tersebut tidak mengetahui bahwa ada lumpur di jalan yang dilewati,” jelasnya.

Pengendara sepeda motor terpeleset dan terjatuh di dekat roda depan truk. Motor yang dikendarai kemudian terseret truk dan kaki pengendara sepeda motor terlindas roda kiri depan truk.

“Sehingga menyebabkan korban patah kaki kanan dan luka-luka,” jelas dia.

Polisi sudah mengamankan sopir truk di Polsek Neglasari. Sedangkan korban dua santri atas nama Indah dan Suci dibawa ke RSUD Tangerang.

Cacat Seumur Hidup

Dalam aksi penutupan jalan di Jalan Bojong Rengas Kabupaten Tangerang, seorang santriwati dari Al Hasaniyah membacakan surat untuk Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar.

Santri itu bernama Selvia Divani yang merupakan teman dari dua korban. Selvia bersama sejumlah santri yang menutup jalan kemudian berorasi.

“Teman kami cacat kakinya, cacat seumur hidup,” kata dia saat berorasi di lokasi aksi penutupan jalan.

Selvia juga menyinggung tentang Perbub No. 47 tahun 2018 tentang jam operasional truk pengangkut tanah dan material lainnya.

“Tapi peraturan itu banci, tidak ada sanksi cuman pepesan kosong,” kata dia.

Selvia yang juga sahabat dari kedua korban tersebut terisak-isak melanjutkan suratnya. Dia kemudian meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang untuk mengembalikan kaki temannya yang cacat karena terlindas truk.

“Tapi itu tidak mungkin, Bupati harus bertanggung jawab,” teriak Selvia.

Di ujung surat, Selvia kembali meminta Bupati Tangerang untuk tegas menjalani Perbup 47 tahun 2018 yang sudah dibuat Pemkab Tangerang sendiri.

“Jangan ada lagi truk pengurug (pengangkut tanah) lagi yang beroperasi siang hari,” kata dia.

Janji Evaluasi

Sementara itu Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar berjanji akan merevisi dan mempertegas peraturan lalu lalang truk bermuatan material pasir dan tanah di Kabupaten Tangerang.

Hal tersebut disampaikan orang nomor satu di Kabupaten Tangerang di atas mobil komando aksi penutupan Jalan Bojong Rengas, Teluk Naga oleh santri.

“Saya di sini, koordinasi ke kepolisian untuk merevisi Perbup 47 agar lebih tegas lagi terhadap para pelanggar,” tegas Zaki di lokasi aksi penutupan jalan tersebut.

Dirinya mengatakan, kepolisian sedang memproses beberapa sopir truk yang melanggar aturan lalu lintas yang dibuat di Kabupaten Tangerang itu.

“Karena aparat kita hormati, untuk melakukan tugasnya,” ucap dia.

Zaki mengakui penerapan Perbub Nomor 48 Tahun 2018 tentang Pembatasan Jam Operasional Kendaraan Berat selama ini belum maksimal.

“Selama ini memang tindakannya tidak terlalu signifikan. Mungkin kita pertegas lagi di tiga polres yang ujung tombaknya mungkin di Kasatlantas,” katanya.

Oleh karena itu, Zaki akan mengundang jajaran tiga polres di Tangerang untuk mendiskusikan aturan operasional truk berat pengangkut tanah.

“Insya Allah hari ini saya kirim undangan ke tiga polres, hari Senin mendatang kita rapat koordinasi lagi,” ungkapnya.

Zaki mengakui selama Perbup No 47 tahun 2018 berlaku, sanksi yang diberikan belum tegas. Dikatakannya saat ini sudah ada 11 titik masuk mobil truk besar bermuatan material yang diportal oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang. Portal tersebut, lanjut Zaki, akan menghentikan kendaraan dengan volume dan tinggi yang melintas.

“Mudahan portal-portal ini nantinya petugas akan disiagakan nantinya. Karena dari pukul 05.00-22.00 WIB itu cukup panjang. Artinya ada shift petugas,” jelas dia.

Zaki kemudian meminta ribuan santri dari Al Hasaniyah yang melakukan aksi penutupan jalan untuk membubarkan diri karena tuntutan terkait penegakan Perbup No 47 tahun 2018 sudah didengar.

“Akan masuk waktu zuhur mari salat dan bubar. Karena ini juga jalan umum. Aspirasi sekarang diterima,” tandasnya.

Setelah mendengar imbauan tersebut, masa aksi membubarkan diri secara perlahan pukul 11.45 WIB dan jalan kembali dibuka untuk jalan umum.

Sedangkan portal dengan batas ketinggian 3 meter tetap dipasang sebagai pemenuhan tuntutan masa aksi. Hanya kendaraan di bawah tinggi 3 meter yang bisa lalu lalang di Jalan Bojong Rengas. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here