Jumat, 25 Mei 2018

Dua Puluh Motif Tenun Baduy Dipatenkan

PENGAKUAN masyarakat luas atas sebuah hasil karya merupakan sebuah bentuk penghargaan sekaligus kebanggaan tertinggi bagi si pembuat karya, baik karya hasil perorangan maupun hasil bersama kelompok masyarakat.

Kebanggaan itu pulalah yang kini dirasakan masyarakat Lebak, khususnya komunitas masyarakat adat Baduy. Sebanyak 20 motif tenun yang merupakan warisan para leluhurnya sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, kini secara resmi telah diakui dan tercatat sebagai karya ciptaan masyarakat (lembaga) adat Baduy, melalui Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual u.b. Direktur Hak Cipta dan Desain Industri, Dr. Dra. Erni Widhyastari, Apt., M.Si.

Ke-20 Surat Pencatatan Ciptaan dari Kemenkum HAM itu secara simbolik telah diserahkan pada perwakilan masyarakat atau lembaga adat Baduy, oleh Menteri Koperasi dan UKM, pada kunjungan kerjanya di Baduy, beberapa waktu lalu.

Kain tenun Baduy yang telah mendapatkan sertifikat dari Kemenkum HAM itu adalah, motif Poleng Kacang Herang, Poleng Magrib, Poleng Capit Hurang, Poleng Gula Geseng, Poleng Paul, Poleng Marsadan, Poleng Akar Kawung, dan Motif Poleng Hideung. Sertifikat lainnya ditujukan untuk motif Suat Songket, Suat Samata Birit Manggu, Suat Samata Kembang Saka, Suat Samata Kembang Gedang, Suat Awi Gede, Suat Kuata Kotak, motif Susuatan, motif Aros kembang Cikur atau Mata Kancra, Aros Awi Gede, motif Aros Anggeus, serta untuk motif Adu Mancung dan motif Samping Hideung.

Pada bagian akhir Surat Pencatatan Ciptaan dari Kemenkum HAM itu dinyatakan, Pencatatan Ciptaan atau produk hak terkait dalam daftar umum ciptaan bukan merupakan pengesahan atas isi, arti, maksud atau bentuk dari ciptaan atau produk hak terkait yang dicatat. Menteri tidak bertanggung jawab atas isi, arti, maksud atau bentuk dari ciptaan atau produk hak terkait yang terdaftar (pasal 72 dan penjelasan pasal 72 UU no 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Kabupaten Lebak, Babay Imroni menyatakan, proses pengajuan pencatatan atas hak cipta tenun Baduy itu disampaikan oleh Pemkab Lebak melalui Dinas Koperasi dan UKM, kepada Kementerian Hukum dan HAM melalui Kementerian Koperasi dan UKM.

“Sesuai dengan alur perizinan yang dilalui, maka penyerahan atas 20 sertifikat Surat Pencatatan Ciptaan dari Kemenkum HAM itu, disampaikan secara simbolis pada perwakilan masyarakat dan lembaga adat Baduy oleh Menteri Koperasi dan UKM. Menteri menyerahkan dua sertifikat tenun Baduy. Sedangkan sisanya, 18 sertifikat tenun Baduy telah kami serahkan pada lembaga adat Baduy,” kata Babay Imroni kepada Kabar Banten, Ahad (29/10/2017).

Menurut Babay, masyarakat adat Baduy yang merupakan suku asli Banten ini memiliki kain tenun dengan warna putih dan biru tua sebagai ciri khasnya. Teksturnya yang kasar serta motif yang sederhana menjadi ciri khas lain kain yang dibuat dengan cara tradisional ini. “Betapapun sederhananya bentuk, bahan, pola hias, dan teknik pembuatannya, tenun Baduy merupakan benda budaya yang bukan hanya didasari oleh fungsi saja tetapi juga merupakan perwujudan dari nilai-nilai tradisi, adat istiadat, sejarah, dan kekayaan alam yang merupakan cerminan dari budaya mereka,” ujarnya.

Babay menjelaskan, keterampilan membuat seni tenun pada orang Baduy bisa dikatakan tidak terlepas dari latar belakang yang dipengaruhi berbagai unsur sejarah. Seiring dengan perkembangan zaman, serta terbukanya kawasan permukiman Baduy bagi para wisatawan, motif tenun Baduy itu dikenal luas olah masyarakat modern, termasuk para perancang busana yang pada beberapa kesempatan telah mengeksplor tenun Baduy melalui berbagai ajang fashion show.

“Kami menyadari potensi besar tenun Baduy bagi upaya pengembangan usaha kecil dan menengah masyarakat Lebak, khususnya masyarakat adat Baduy. Karena itulah Pemkab Lebak, melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mendaftarkan ke-20 motif tenun pada Kementerian Hukum dan HAM, melalui Kementerian Koperasi dan UKM,” ujar Babay.

Kepala Bidang Pemberdayaan UKM pada Dinas Koperasi dan UKM Lebak, Omas Irawan mengatakan, ke-20 jenis atau motif tenun yang telah tercacat dan mendapatkan sertifikat dari negara itu terbagi dalam tiga tema utama, yaitu Poleng, Suat dan Aros. Selain ketiga tema utama itu terdapat pula tenun Baduy dengan motif Adu Mancung dan Samping Hideung.

“Seluruh sertifikat telah kami serahkan pada lembaga adat Baduy di Desa Kanekes, dan dituangkan dalam berita acara tertanggal 19 Oktober 2017. Dengan telah adanya sertifikat itu, kita bisa mengakui sepenuhnya jika tenun Baduy itu merupakan karya masyarakat Baduy, yang merupakan bagian dari masyarakat Kabupaten Lebak yang sebelumnya telah menerima sertifikat serupa atas 12 motif batik Lebak,” kata Omas Irawan. (Indra Bayu Lugay) ***


Sekilas Info

Berburu Takjil di Pusat Kuliner Ramadan Rangkasbitung

ANEKA jenis makanan ringan seolah telah menjadi keharusan bagi sebagian umat Islam dalam mengawali berbuka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *