Dua Megaproyek Gagal Lelang

CILEGON, (KB).- Dua megaproyek yang digadang-gadang menjadi infrastruktur terbesar Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, yakni pembangunan gedung 6 lantai dan proyek lanjutan pembangunan tribun Sport Center batal lelang.

Kepala Badan Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Kota Cilegon Syafrudin membenarkan adanya pembatalan lelang proyek pekerjaan pembangunan yang menelan dana puluhan miliar tersebut. Ia beralasan, batalnya lelang tersebut, karena banyak peserta yang tidak memenuhi persyaratan.

“Baik yang tertuang dalam dokumen maupun yang tidak lulus kualifikasi, ada juga yang tidak lolos di teknis. Akan tetapi, sesuai dengan aturan kalau tidak sesuai harus digagalkan,” katanya.

Kedua proyek tersebut, ujar dia, nilainya berbeda-beda. Proyek pembangunan lanjutan stadion Sport Center bagian tribun nilainya dalam harga pasaran sekitar (HPS) Rp 12 miliar. Sementara, proyek pembangunan gedung 6 lantai nilainya sekitar Rp 24 miliar.

“Upaya dari BPBJ adalah mengundang ISO LKPP untuk rapat dan tindak lanjutnya, adalah penunjukan langsung. Sesuai dengan ketentuan dalam perpres juga, kalau tender ulang gagal dapat dilakukan penunjukan langsung. Itu dasarnya kuat,” ucapnya.

Dalam aturan tersebut, penunjukan langsung tidak ada batas. Berbeda halnya dengan pengadaan langsung yang membatasi sekitar nominal Rp 200 juta. Untuk proses penunjukan langsung ini, pihaknya akan memulai usulan rencana tersebut, Jumat ( 24/5/2019).

Sehingga, pada minggu depan sudah mulai berproses dan kami akan mengundang calon penyedia untuk klarifikasi dan negosiasi. “Kami harapkan kontrak dilakukan akhir Mei ini,” tuturnya.

Wali Kota Cilegon Edi Ariadi mengatakan, pembangunan infrastruktur memang belum berjalan sama halnya yang ada di Pandeglang. Namun, kata dia, pihaknya memastikan pembangunan akan berjalan usai Lebaran.

“Baru saja kami lakukan rapat atas kegagalan lelang 2 proyek pekerjaan gedung 6 lantai dan tribun. Jelas saja, saya kecewa, namun ada berbagai upaya yang akan dilakukan, di antaranya upaya penunjukan langsung (PL), sehingga mekanisme dan aturan akan ditempuh seperti apa,” katanya kepada Kabar Banten.

Ia menuturkan, dalam progres pembangunan infrastruktur waktu tetap dihitung. Sehingga, dalam perencanaan dan pelaksanaan tepat waktu. Salah satu contoh, ujar dia, adalah pembangunan gedung 6 lantai yang memerlukan progres waktu 300 hari.

“Nah, kalau hitungannya seperti ini, dimulai Juni, apakah mampu pembangunan gedung tersebut. Nanti mekanisme seperti apa, kemudian juga akan ada apa. Sudah dipertimbangkan semuanya, supaya tidak saling tumpang tindih,” ucapnya. (HS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here