DKPP Kabupaten Serang Kecewa Permainan Impor Garam

kelangkaan garam

SERANG, (KB).- Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang Suhardjo menilai, anjloknya harga garam menjadi Rp 300-500 per kilogram diduga akibat ada permainan impor. Oleh karena itu, dia sangat kecewa dengan kondisi tersebut.

“Garam adalah pekerjaan yang sangat mudah, bisa dilakukan oleh masyarakat dengan gampang, modalnya hanya tiga air laut, sinar matahari, dan angin. Itu bisa dengan mudah dan diberikan oleh Allah SWT. Tapi, sekarang kam9i produksi, harga jatuh, karena ada permainan impor pusat,” kata Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo kepada Kabar Banten, Rabu (25/9/2019).

Ia menuturkan, akan menyampaikan keluhan tersebut ke pusat. Ia akan meminta, agar bisa mengendalikan impor garam, sehingga hasil garam Kabupaten Serang bisa dinikmati oleh masyarakat. Sebab, perlu diketahui, jika kantong kemiskinan paling banyak di daerah pesisir pantai.

“Dengan adanya garam, bisa angkat perekonomian. Tapi, tolong berpihak pada kami jangan berpihak ke investor dan importir. Tolong perhatikan masyarakat,” ujarnya.

Ia kecewa dengan anjloknya harga garam tersebut. Pada Januari lalu, harga garam masih di angka Rp 2.500 per kilogram, akan tetapi saat panen harganya anjlok menjadi Rp 400 per kilogram.

“Udah gitu jualnya juga susah. Karena cadangan impor masih banyak, kalau sudah habis baru (laku),” ucapnya.

Oleh karena itu, dia akan meminta kepada Gubernur Banten, agar membuat regulasi tentang industri di Banten yang menggunakan bahan baku garam, agar mengutamakan garam lokal sebelum dari impor.

“Itu bisa dibuat pergub, kalau melanggar ada sanksi. Sekarang bukan enggak laku atau kalah saing, tapi permainan impor,” tuturnya.

Disinggung langkah ke depan, dia mengatakan, akan berupaya membuat inovasi dengan mengolah garam konsumsi. Minimal garam tersebut, bisa untuk keperluan warga lokal Banten. Garam tersebut diberikan yodium, sehingga jadi garam dapur atau garam meja.

“Kedua kami perlu gudang minimal kapasitas 2.000 ton. Jadi, produksi disimpan dan saat musim hujan baru dijual. Itu akan naik minimal harga Rp 1.000 per kilogram kami sudah untung, karena biaya produksi Rp 400,” katanya.

Saat ini, ujar dia, di Kabupaten Serang sudah ada delapan orang petani garam yang tersebar di Kecamatan Pontang dan Tirtayasa. Luasan lahan yang tergarap sebanyak 32 hektare dengan produktivitas 3.000 ton.

“Ke depan kami kembangkan lagi, tahun ini ada dari KKP 30 hektare dan 2020 ada bantuan 30 hektare lagi. Total potensi yang belum tergarap 6.421 hektare. Jika tergarap semua minimal kami bisa suplai 10 persen kebutuhan nasional,” ucapnya.

Sebelumnya, petani garam Kecamatan Pontang Amrullah menuturkan, harga garam saat ini memprihatinkan. Bahkan, garam hasil produksinya tidak bisa keluar, karena harga anjlok. “Anjlok sampai Rp 300-500 per kilogram di tawar tengkulak,” tuturnya.

Ia mengatakan, anjloknya harga garam tersebut, karena adanya panen raya. Kemudian, juga ada banyak impor garam yang dilakukan pemerintah. “Kami harap tahun depan impor dikurangi. Kami harap pemerintah daerah bisa memiliki solusi untuk kenaikan harga garam,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here