DKB Selenggarakan Jambore Seniman Banten

Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi yang kaya pelaku kesenian. Baik pelaku seni modern maupun tradisi. Pertemuan antara seniman modern dan tradisipun jarang terjadi. Sehingga untuk saling kerja sama dan tukar pikiran untuk memajukan kesenian di Banten tidak pernah terjadi.
Pentingnya menyamakan persepsi dan untuk membangun kesenian di Banten lebih baik, Dewan Kesenian Banten menyelenggarakan Jambore Seniman Banten (Jaseba) yang akan dilaksanakan pada 6-7 Agustus 2017 yang bertempat di Pantai Kelapa Gading, Cinangka, Anyer, Banten.

Dalam keterangannya Sulaiman Djaya selaku panitia mengatakan, tujuh belas tahun Banten resmi menjadi daerah yang otonom dan memiliki sistem pemerintahannya sendiri. Bersamaan dengan itu, secara kultural, perjalanan usia Provinsi Banten diiringi pula dengan pertumbuhan komunitas, orang per orang, serta para pegiat seni dan budaya secara sporadis yang tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Banten.

“Hanya saja, karena sifatnya yang sporadis tersebut, kegiatan kesenian dan kebudayaan tak jarang menjadi hanya sekadar dentuman kecil untuk kemudian kembali hilang, tumbuh kemudian layu, serta tak jarang pula aktivitas kebudayaan menjadi selebrasi yang tak berdampak menjangkau ke masa depan yang sifatnya jangka panjang dan berkelanjutan,” ujarnya saat di saat dihubungi lewat gawainya baru-baru ini.

Meski demikian, lanjut kenyataan tersebut tidak bisa diartikan sebagai indikator rendahnya geliat kesenian dan kebudayaan di Banten. Sebab, potensi geliat kehidupan kebudayaan di Banten sesungguhnya sangat besar.  Dalam hal ini, ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan dalam soal strategi pembangunan kebudayaan, seperti penguatan identitas dan kebanggaan para seniman dan para pegiat seni budaya yang hidup di Banten akan arti historis dan kultural Banten sebagai tempat lahirnya para seniman pioneer yang berskala nasional dan internasional.

Selain itu, yang tentulah merupakan hal dasar dan pondasi utama yang niscaya, pembangunan infrastruktur yang memadai bagi kerja-kerja dan aktivitas kebudayaan akan menjadi tak ubahnya sebuah rumah bagi para penghuninya. ¬†“Keberadaan sentra-sentra untuk kerja dan kegiatan kebudayaan ibarat tanah dan pupuk bagi tanaman, yang akan menjadi tempat tumbuhnya kehidupan dan kerja-kerja kebudayaan secara sinambung dan berkelanjutan.

Keberadaan sentra-sentra kultural seperti Taman Budaya dan Gedung Kesenian, contohnya, adalah hal yang wajib ada jika kehidupan kebudayaan ingin lestari dan maju. Sementara itu, secara kognitf dan intelektual, dibutuhkan sinergitas dan kesepahaman yang aktif dan produktif untuk mewujudkan visi kebudayaan yang telah disebutkan itu,” kata Sulaiman yang seorang penyair.

Purwo Rubiono sebagai nara hubung kegiatan menambahkan, dalam acara Jaseba nantinya juga akan diadakan kegiatan dialog seniman Banten, interaksi komunitas, atraksi kesenian, dan deklarasi seniman Banten. “Bagi peserta yang ingin mengikuti kegiatan Jaseba ini panitia memberikan syarat, peserta adalah senian yang berdomisili di Provinsi Banten. Peserta mewakili komunitas/sanggar yang beraktivitas di Provinsi Banten.

Komunitas/sanggar hanya boleh mengirimkan maksimal dua orang utusan. Peserta dapat mendaftarkan langsung di Sekretariat Dewan Kesenian Banten (DKB) atau via on line lewat surreal [email protected], formulir pendaftaran dapat diunduh di blog httt://jaseba.blogspot.co.id. Dan batas pendaftaran tanggal 10 Juli 2017,” tutur Purwo yang biasa dipanggil Cak Wo ini.(Gito Waluyo)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here