Selasa, 20 Februari 2018

Distanbun Realisasi Swasembada Beras

Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, sudah merealisasikan swasembada beras tahun 2017 sesuai dengan target rencana kerja pada musyawarah pembangunan daerah. Sekretaris Distanbun Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, keberhasilan swasembada beras tersebut berkat kerja keras semua pihak, termasuk kelompok tani, stakeholder, petugas penyuluh lapangan (PPL) juga keterlibatan TNI.

“Kita produksi beras tahun ke tahun terus meningkat melalui rekayasa penerapan teknologi juga percepatan gerakan tanam. Selama ini produksi beras di Kabupaten Lebak cukup besar menyumbangkan produksi pangan nasional. Bahkan, produksi beras 2016 surplus dan bisa memenuhi kebutuhan pangan sekitar 15 bulan ke depan,” kata Rahmat Yuniar kepada Kabar Banten, Kamis (26/10/2017).

Dijelaskannya, produksi beras hingga September 2017 mencapai 245.566 ton dan kebutuhan konsumsi beras sebanyak 105.991 ton. Artinya, produksi beras memiliki surplus 139.575 ton dari jumlah penduduk sebanyak 1,2 juta jiwa itu mencapai 141.321 ton per tahun. Adapun jika dirata-ratakan kebutuhan beras per kapita sebanyak 11.777 ton per bulan sehingga persediaan beras lokal aman di pasaran.

“Kami yakin produksi beras surplus itu bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat DKI Jakarta dan Jawa Barat hingga Lampung,” ujarnya. Menurut dia, pemerintah daerah sangat fokus dan berkomitmen untuk mewujudkan Kabupaten Lebak sebagai daerah swasembada beras karena didukung lahan begitu luas baik areal persawahan maupun lahan darat.

”Pemerintan pusat, provinsi dan daerah sangat sinergis untuk melakukan bantuan kepada kelompok-kelompok tani guna mendorong peningkatan produksi pangan. Selain itu juga intervensi bantuan berbagai pembangunan sarana dan prasarana (sapras), sarana produksi (saprodi) dan alat pertanian (alsintan),” tuturnya.

Ditambahkan, pembangunan sarana itu antara lain adalah perbaikan jaringan irigasi teknis maupun saluran irigasi desa dan pompanisasi di lahan-lahan kering. Selain itu, dilakukan pula penerapan rekayasa teknologi menggunakan benih unggul bersertifikat, penggunaan pupuk yang berimbang, persemaian 17 hari dan menggunakan traktor.

”Begitu pula petani terus ditingkatkan teknik budi daya melalui penerapan sistem intensifikasi padi atau Sistem of Rice Intensification (SRI), Hazton juga tanam jajar legowo. Petani juga melaksanakan percepatan gerakan tanam. Kami berharap realisasi target swasembada beras itu bisa memenuhi kebutuhan pangan juga peningkatan ekonomi petani,” ucapnya.

Rahmat menyebutkan, penerapan rekayasa teknologi itu bisa mendongkrak produksi pangan mencapai 8,5 ton gabah kering pungut (GKP) per hektare. Padahal, nasional rata-rata 5,6 ton GKP per hektare. Diperkirakan petani di daerah itu sekitar 85 persen sudah menerapkan rekayasa teknologi karena saat ini tingkat pengetahuan petani meningkat. Saat ini, petani di Kabupaten Lebak Oktober sampai Desember mendatang sudah memasuki musim tanam secara serentak di 28 kecamatan. (Nana Djumhana) ***


Sekilas Info

PEDAGANG PASAR SAMPAY TERANCAM GULUNG TIKAR

LEBAK, (KB).- Transaksi di Pasar Sampay Warunggunung Kabupaten Lebak semakin sepi.  Selain karena tidak dilewati kendaraan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *