Distan Analisis Dampak Pencemaran Sungai Ciujung

SERANG,(KB).- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang sedang melakukan kajian terhadap dampak pencemaran yang terjadi di dua aliran sungai besar yakni Sungai Ciujung dan Cidurian sejak beberapa minggu terakhir. Hal itu dikarenakan, untuk wilayah Kabupaten Serang diketahui ada sekitar 21.000 lahan pertanian yang masih bergantung pengairannya kepada dua sungai tersebut.

Kepala Seksi Lahan dan Air pada Dinas Pertanian Kabupaten Serang Yuli Saputra mengatakan, saat ini pihaknya masih belum bisa memastikan apakah adanya pencemaran di Ciujung dan Cidurian tersebut akan berdampak pada pertanian. “Sekarang kita masih dalam tahap analisis dampak pencemaran itu,” ujarnya kepada Kabar Banten, Selasa (31/7/2018).

Yuli mengatakan, sejauh ini kajian yang sudah dilakukan baru dari dinas lingkungan hidup. Sedangkan dari sisi pertaniannya masih dalam tahap analisis apakah berdampak langsung pada tanaman atau tidak. “Kalau sudah ada hasilnya kita sampaikan,” ucapnya.

Untuk saat ini, pihaknya pun memang belum menerima aduan terkait adanya sawah yang tercemar akibat pencemaran tersebut. Laporan dari masyarakat masih sekitar lingkungan yang tercemar. Namun perlu diketahui, jika di Kabupaten Serang sendiri ada sekitar 21 ribu hektar lahan pertanian yang menggantungkan pengairannya dari dua sungai tersebut. “Kalau kita lihat itu ada 7 kecamatan dan dikali rata rata 3.000 hektar. Karena kan itu juga lewat kabupaten/kota lain, nah saya enggak hafal yang di luar Kabupaten Serang,” katanya.

Sementara, Ketua Kaukus Lingkungan Hidup Serang Raya Anton Susilo mengatakan permasalahan pencemaran itu sudah sangat serius. Bahkan saat ini berdampak pada krisis air bersih di beberapa desa.

Oleh karena itu, pihaknya pun berencana untuk melakukan audiensi pada Senin (6/8) di Kantor Bupati Serang. “Kita mau membicarakan soal pencemaran Sungai Ciujung dan Cidurian,” katanya.

Pegiat Lingkungan Serang Utara Ridho mengatakan, seharusnya kita bisa memiliki etika terhadap lingkungan hidup. Yakni bagaimana menata dan melakukan perbaikan atau pengawasan secara ketat terhadap sungai yang tercemar oleh limbah berbahaya. AKibat pencemaran itu, Sungai Ciujung telah kehilangan bentuk aslinya. Bentuk yang sejak puluhan tahun lalu masih memberikan kesan segar dan estetik bagi warga yang tinggal dibantarannya.

Menurut dia, untuk dapat membongkar masalah pencemaran limbah Sungai Ciujung, salah satunya dengan membuat gerakan besar bersama barisan rakyat dan pejuang lingkungan. Mereka yang terdampak akibat pencemaran limbah perlu dihadirkan sebagai korban dan sebagai saksi kejahatan lingkungan.

Sementara itu, warga lainnya Ahmad Muhajir mengatakan, dampak dari pencemaran limbah industri terlihat nyata ketika puluhan hektar tambak ikan di Desa Tengkurak mengalami penurunan panen ikan yang sangat merugikan para petani tambak. Hal tersebut dapat dilihat ketika adanya aliran air sungai ciujung lama yang masuk kedalam puluhan hektar empang milik warga.

Dampaknya adalah ikan menjadi mati dan tidak produktif akibat hidup di air yang keruh dan tercemari limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya). “Inilah kenyataan pahit yang harus diterima oleh para petambak ikan di Desa Tengkurak Kecamatan Tirtayasa kabupaten Serang, Banten,” ujarnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here