Disporapar Kabupaten Serang Siap Kembangkan Wisata di Luar Anyer

Bukit Waruwangi Padarincang, salah satu tempat wisata di Kabupaten Serang.*

Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang akan fokus mengembangkan wisata selain di Pantai Anyer dan Cinangka. Hal tersebut dikarenakan banyak permintaan dari wisatawan yang datang ingin melihat keindahan alam berupa hutan dan gunung di Kabupaten Serang.

Sekretaris Disporapar Kabupaten Serang Encep Benyamin Soemantri mengatakan, pada 2020, pihaknya mulai melakukan perencanaan pengembangan wisata lain di luar Anyer-Cinangka. Selama ini, dalam pikiran masyarakat jika bicara Anyer berarti tentang laut. Oleh karena itu, dalam pengembangan paling tidak bagaimana membuat kesan bagus di laut dan hotel.

Akan tetapi, pemikiran tersebut tidaklah tepat. Sebab, banyak hotel yang juga menerima keluhan sekaligus permintaan dari wisatawan yang datang di mana mereka bukan hanya ingin melihat pantai, tetapi juga hutan dan gunung.

“Nah, akhirnya tahun ini kami support kegiatan, seperti Cibaja, Pilar, dan lainnya,” katanya kepada Kabar Banten saat ditemui di kantor, Kamis (2/1/2020).

Ia mengatakan, ke depan intensitas komunikasi dengan pelaku usaha harus ditingkatkan. Pada 2019, sudah dilakukan bersama Balawista. Kemudian, juga memilah kelompok sadar wisata (Pokdarwis), sebab ada yang fokus pada pengembangan wisata religi di Tanara.

“Termasuk pelaksanaan kegiatan yang digagas dengan Ciujung institut. Pokdarwis di pilah mana yang pembinaan Pontirta dan untuk Anyer,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat ini untuk Anyer banyak tumbuh kesadaran dari masyarakat. Salah satunya munculnya Puncak Mane di Anyer. Puncak tersebut berada di sekitar lahan Perhutani, namun masyarakat sekitarnya masih hidup kesulitan.

“Masyarakat berpikir harus seperti apa. Makanya, kemarin saya gagas bagaimana sinergitas pelaksanan pembangunan pariwisata yang kerja sama baik atas nama pemda atau kelompok masyarakat dan pemilik lahan Perhutani harus ada MoU. Kami sudah digagas akhir tahun secara internal,” ucapnya.

Disinggung soal ada tidaknya investor yang hendak masuk untuk mengelola wisata pegunungan, dia mengatakan, untuk sementara dia baru mengetahui wisata Bukit Waru Wangi. Itu awalnya investor yang masuk untuk pengembangan peternakan, namun kemudian berkembang menjadi wisata.

“Kemudian, ada yang sedang berjalan, yakni Istana Cadas juga,” tuturnya.

Ia mengatakan, berdasarkan data 2014, jumlah destinasi wisata di Kabupaten Serang ada 74 titik. Namun, diyakini saat ini sudah semakin bertambah. Terlebih, saat ini banyak desa yang berinovasi dengan dana desanya untuk pengembangan wisata, seperti Taman Mustika Ratu dan Pesona Ratu di Cikeusal.

“Di beberapa desa mulai tumbuh. Ia berinisiatif dari konsep pemberdayaan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan itu kami banyak luar biasa,” katanya.

Sementara, Kepala Bidang Pemasaran dan Kemitraan Jasa Usaha Pariwisata Disporapar Kabupaten Serang Bagja Saputra mengatakan, selama libur Natal dan Tahun Baru 2019 tingkat kunjungan pantai terbuka dan hunian hotel di Anyer-Cinangka hanya mencapai 50-60 persen dari capaian Natal dan Tahun Baru 2017.

“Detail data belum dapat dari PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia). Tapi, saya monitoring dua hari kemarin dan langsung ke lapangan meninjau kami,” ujarnya.

Ia menturkan, meski demikian, diakui dia, tingkat kunjungan selama Natal dan Tahun Baru 2019 lebih baik dibandingkan 2018. Namun, jika dibandingkan 2017 masih belum tercapai. Hal tersebut terjadi, karena masih terasanya efek tsunami Selat Sunda yang membuat kawasan wisata pantai tersebut terpukul.

“Prinsipnya di 2019 ini kami bisa katakan sudah mulai ada proses pembangkitan, sehingga mencapai 50-60 persen,” ucapnya.

Ia mengatakan, meski pada saat malam Tahun Baru jalanan Anyer-Cinangka sepi, namun, menurut dia, kebanyakan wisatawan datang pada Rabu (1/1/2020). Mereka yang datang kebanyakan melihat situasi dan kondisi lebih dahulu.

Disinggung soal adanya informasi erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang beredar menjelang Natal dan Tahun Baru, dia mengatakan, hal tersebut cukup berdampak bagi wisatawan luar Banten, sedangkan bagi wisatawan lokal Banten, hal tersebut tidaklah berpengaruh.

“Karena, lokal Banten mengetahui, sekarang GAK memang sedang tumbuh lagi. Ketika ada erupsi orang lokal beranggapan itu aman, kalau lama enggak ada aktivitas malah bahaya. Bagi orang luar ketakutan itu yang jadi masalah,” tuturnya.

Ia kecewa, sebab isu GAK tersebut sering muncul ketika libur Nataru. Oleh karena itu, dia berharap, ke depan masalah tersebut bisa disosialisasikan dengan baik posisinya.

“Kok isunya muncul pas libur Natal dan Tahun Baru. Itu merugikan kami, nanti kami rapatkan dengan pimpinan dan pos penjaga GAK analisisnya seperti apa, kategorinya, supaya bisa tersosialisasi dengan benar,” katanya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here