Jumat, 21 September 2018
Puluhan pemuda perwakilan dari enam agama mengikuti Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci di Gor Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, Selasa (21/11/2017). Enam agama yang mengikuti acara gerakan membaca kitab suci di antaranya, Islam, Hindu, Katolik,Konghucu, Protestan, dan Budha.*

Diserbu Medsos, Kaum Muda Makin Jarang Baca Kitab Suci

Aktivitas pemuda dalam membaca kitab suci saat ini terus menurun setiap tahunnya. Hal tersebut diakibatkan pemuda yang lebih menyukai membaca bahasa-bahasa atau kalimat yang ada di media sosial. “Dari data nasional saja pada 2009 hanya 67 persen, turun di 2012 menjadi 55 persen dan 2015 menjadi 51 persen. Kemungkinan akan terus menurun sampai ke 21 persen,” kata Asdep Peningkatan Iptek dan Imtak Pemuda Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI, Esa Sukmawijaya ditemui seusai menghadiri acara gerakan pemuda membaca kitab suci di GOR Kota Serang, Selasa (21/11/2017).

Esa mengatakan, masalah tersebut tentunya harus dikawal bersama pemerintah daerah, khususnya di Provinsi Banten. Jika dibiarkan hal ini akan menimbulkan banyak permasalahan besar kedepannya.
“Di Kota Serang, Banten ini harus melakukan berbagai kegiatan semacam ini yaitu gerakan membaca kitab suci. Terdapat 6 agama yang berkumpul dan secara bersama-sama membacakan kitab sucinya masing-masing,” ujar Esa.

Menurutnya, selain membantu mengingatkan atau meningkatkan kepekaan terhadap kitab suci, hal tersebut juga dapat mempersatukan antar umat beragama. Gerakan membaca kitab suci dilakukan agar mereka melihat setiap masing-masing agama yang ada. “Agar mereka melihat bacaan kitab suci masing-masing agama. Kami ingin mempersatukan dan tidak terpecah belah antar umat beragama,” katanya.

Sementara itu, Kabid Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda Dispora Provinsi Banten, Yusup Soufi menjelaskan, pemerintah daerah kedepan akan melakukan kegiatan semacam tersebut serta workshop untuk meningkatkan pemuda dalam membaca kitab suci. “Kedepan kami akan rencanakan itu,” ucapnya.

Dalam kegiatan gerakan membaca kitab suci, lanjutnya, bertujuan untuk saling mengenal antar agama dan tidak ada pemaksaaan untuk mempengaruhi atau mengajak ke agama satu sama lain. “Tetapi semata-mata untuk keutuhan dan kebersamaan agar bersatu. Mungkin kedepan cara menyampaikan atau memotivasi para pemuda harus dengan bahasa yang cair dan tidak mengurui, agar mau membaca kitab suci yang dimiliki oleh masing-masing agama pribadinya,” ujarnya. (Mulyana Tresnawati)***


Sekilas Info

Program Serang Sehat Belum Memuaskan

SERANG, (KB).- Program Serang Sehat dinilai belum memuaskan. Hal tersebut salah satunya, karena masih kurangnya koordinasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *