Disdikbud Laporkan Data Kerusakan Sekolah

Salah satu ruang kelas di sebuah SMP Kecamatan Bayah yang rusak akibat gempa beberapa waktu lalu.*

LEBAK, (KB).- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lebak telah melaporkan data gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Dasar (SD), Taman Kanak-kanak (TK), serta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Berdasarkan data yang diterima Kabar Banten dari Disdikbud Lebak, jumlah sekolah rusak akibat gempa yakni, SMP sebanyak 10 unit, SD 27 unit, TK dan PAUD sebanyak 13 unit.

Kepala Disdikbud Lebak, Wawan Ruswandi mengatakan, setelah dilakukan pendataan terhadap seluruh sekolah dari tingkat SMP, SD, TK dan PAUD, langsung kami laporkan ke Kemendikbud. Bahkan, pihaknya berharap setelah dilakukan pelaporannya, maka Kemendikbud segera memberikan bantuan dana untuk perbaikannya. ”Pelaporan data jumlah sekolah yang rusak memang perintah langsung dari Kemendikbud. Kami berharap ada perhatian besar dari Kemendikbud untuk membantu perbaikan seluruh sekolah yang rusak akibat bencana alam tersebut,” kata Wawan Ruswandi, Rabu (7/2/2018).

Dalam laporan ke Kemendikbud itu, ujar Wawan, dijelaskan bahwa SMP dan SD yang rusak tersebut tetap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM), karena tidak seluruh kelas mengalami kerusakan. Sedangkan untuk PAUD, ada beberapa yang tidak bisa digunakan, karena kondisi bangunan yang dikhawatirkan akan membahayakan murid dan guru PAUD. ”Meski ada ruang kelas yang rusak, para siswa dan guru di seluruh SMP dan SD yang rusak tetap melakukan aktivitas belajar mengajar di ruang kelas yang tidak rusak,” ujar Wawan.

Sekretaris Disdikbud Lebak, Imam Suangsa menambahkan, awalnya Disdikbud Lebak merasa khawatir jika gedung SMP dan SD yang rusak akibat gempa sama sekali tidak bisa digunakan. Namun, setelah dilakukan pendataan, hanya beberapa ruang kelas yang mengalami kerusakan di masing-masing sekolah tersebut. Sehingga, aktivitas belajar mengajar tetap bisa dilaksanakan. ”Kami bersyukur, meski ada yang rusak berat, namun masing-masing gedung SMP dan SD yang telah kami laporkan ke Kemendikbud masih bisa digunakan untuk belajar mengajar di beberapa ruang kelas lain yang tidak rusak,” tutur Imam Suangsa. (Lugay/Job)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here