Dipulangkan dari Tiongkok, Tujuh Mahasiswa Banten Dipantau

SERANG, (KB).- Tujuh mahasiswa Banten yang dipulangkan dari Tiongkok melalui Bandara Soekarno Hatta, Senin (3/2/2020), kondisi kesehatannya akan dipantau selama dua pekan. Upaya itu dilakukan untuk memastikan selama masa inkubasi dalam keadaan aman, atau tidak menunjukkan adanya dugaan virus corona.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, mahasiswa Banten di Tiongkok yang meminta dipulangkan berjumlah 10 orang. Tiga di antaranya sudah pulang lebih awal, dan sisanya baru dipulangkan, Senin (3/2/2020).

Tujuh mahasiswa itu berasal dari kabupaten/kota di Banten. Rinciannya, tiga dari Kota Serang, dua Kabupaten Serang, serta Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang masing-masing satu orang.

“Tiga sudah keluar (pulang lebih awal) yaitu Kota Serang dua dan satu dari Kabupaten Serang,” katanya, Senin (3/2/2020).

Baca Juga : Terancam Virus Corona, Mahasiswa Banten di China Minta Dievakuasi

Pemulangan dilakukan oleh pemerintah melalui prosedur tetap (protap). Pemprov hanya membantu membelikan tiket pesawat penerbangan Tiongkok ke Bandara Soekarno Hatta.

“Mekanisme sesuai dengan protap dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) dalam hal ini Dirjen P2P (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit),” ujarnya.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, mereka melewati tahapan pemeriksaan oleh pemerintah pusat dan Dinas Kesehatan Banten. Hal itu untuk mengantisipasi virus corona yang rentan dibawa oleh mahasiswa tersebut.

“Dilakukan pemeriksaan berupa thermoscan, baik secara personal maupun massal, dan dilakukan juga penyelidikan epidemiologi,” ucapnya.

Mahasiswa yang diketahui memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat celcius akan dibawa langsung Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

“Dan ketika suhunya di bawah 38 derajat celcius, maka diserahkan kepada kami Dinas Kesehatan dan kemudian kami lakukan screening kedua, yaitu berupa pemeriksaan lanjutan terdiri dari pemeriksaan fisik, laboratorium, dan satu lagi adalah radiologi, itu kita bawa ke RSUD Tangerang,” ucapnya.

Jika selama menjalani pemeriksaan di RSUD Tangerang kondisi mahasiswa diketahui dalam keadaan sehat, maka mereka akan dipulangkan ke rumah masing-masing. Akan tetapi, mereka akan tetap mendapatkan pengawasan selama dua pekan sampai masa inkubasi mereka terlihat aman.

“Kemudian juga kontak orang serumah kita lakukan surveilans epidemiologi,” tuturnya.

Belikan tiket pesawat

Gubernur Banten Wahidin Halim membenarkan, proses pemulangan mahasiswa Banten dari Tiongkok dilakukan melalui serangkaian tahapan pemeriksaan, sesuai dengan protap pemerintah pusat.

“Tetap dari pusat, kita mah cuma membantu memfasilitasi pembiayaan, mengenai prosedurnya, artinya protapnya sesuai dengan kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Pemprov juga turut serta dalam proses pemulangan itu dengan membelikan tiket pesawat penerbangan dari Tiongkok ke Bandara Soekarno Hatta.

“Kita beliin tiket, kita suruh pulang. Cuma kita ikuti prosedur dari departemen kesehatan dan bandara, maupun menteri luar negeri,” katanya.

Selama di Tiongkok, mahasiswa Banten tinggal di luar Provinsi Wuhan, atau provinsi di Tiongkok yang disebut-sebut sebagai pusat penyebaran virus corona.

“Mereka di luar Wuhan (Tiongkok) yah. Kan ada standar-standar tahapannya, periksa dulu, isolasi dan lain sebagainya,” ucapnya.

Baca Juga : Terjebak di Kota Wuxi Cina, Sejumlah Mahasiswa Banten Belum Dievakuasi

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banten Al Hamidi mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, mahasiswa Banten yang menempuh studi di Tiongkok berjumlah 93 orang. Sejauh ini kondisi mereka masih terpantau sehat dan belum menunjukkan tanda-tanda terjangkit oleh virus corona.

“Kalau di Wuhan khusus mahasiswa situ, semua diasramakan. Jadi enggak ada kalau sekolah di sana semua masuk asrama, semua dikawal ketat,” tuturnya.

Tidak hanya terhadap mahasiswa yang baru dipulangkan dari Tiongkok, pemantauan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona juga dilakukan terhadap tenaga kerja asing (TKA) di Banten, terutama TKA yang baru kembali ke Banten pascalibur imlek.

“Jadi yang kita khawatirkan yang berangkat ke luar negeri yang cuti imlek. Jadi enggak semua tenaga asing yang 6.000 semuanya diperiksa. Kita cluster kan tenaga asing yang berangkat tanggal 10 Januari 2020. Jadi kalau yang berangkat dia mau ke Singapura, apalagi kalau ke Tiongkok itu harus jadi perhatian,” ujarnya.

Sama dengan kondisi mahasiswa, sampai saat ini ia juga mendapatkan informasi adanya TKA di Banten yang terjangkit virus corona.

“Belum, kalau dari Disnaker belum ada (informasi TKA terjangkit virus corona),” katanya.

Seorang mahasiswa asal Kota Serang Rifani mengatakan, tiket pesawat disediakan oleh Pemprov Banten melalui BPBD Provinsi Banten. Dengan rute penerbangan dari Bandara Pu Dong Shanghai pukul 08.15 waktu setempat, kemudian transit menuju Bandara Suvarnabhumi Bangkok pukul 12.10 waktu setempat, dan melanjutkan perjalanan ke Bandara Soekarna Hatta (Soetta) Tangerang Banten pukul 17.55 waktu setempat.

“Besok kami pulang dan sudah dibelikan tiket pesawat oleh pemprov. Awalnya saya dihubungi oleh pemprov dan mengistruksikan untuk membuat grup darurat mahasiswa di Tiongkok asal Banten. Tiket dibelikan oleh Pemprov Banten dengan maskapai Thai Airway. Kami transit di Thailand lalu tiba di Bandara Soetta pada pukul 17.55,” katanya, Senin (3/2/2020).

Ia juga menyebutkan, teman-temannya yang pulang ke Indonesia, termasuk dirinya. Rifani, Herawati dan Rio Priyanto asal Kota Serang, kemudian Syah Abriyatna, dan Muhammad Pajar asal Kabupaten Serang. Sementara, Soelthan Andhara Kelvin asal Kabupaten Tangerang, dan Kenny Eliezer Jaya asal Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

“Kalau Fadel Ramadhan dan Royadin pulang tanggal 4 Februari. Sedangkan Kristi Prihartini Dewi sudah pulang kemarin (Ahad, 2/2). Mereka pulang, dikarenakan orangtuanya khawatir, dan mengupayakan dengan segala cara untuk bisa membeli tiket pulang. Jadi kami tinggal tersisa tujuh orang yang masih di sini (Wuxi, Cina),” ujarnya.

Namun, mereka pulang tanpa didampingi oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Jadi, ketujuh mahasiswa tersebut berangkat dari asrama menuju Bandara Pu Dong, Shanghai menggunakan transportasi umum yang masih beroperasi, yaitu kereta dan moda raya terpadu (MRT).

“Tidak ada sama sekali, kami menggunakan transportasi umum yang masih beroperasi, ada kereta dan MRT. Jadi kami ke bandara menggunakan itu (kereta),” ucapnya.

Rifani juga menginformasikan kepada Kabar Banten, hingga 2 Februari 2020, korban di Kota Wuxi tempatnya tinggal, sudah ada 19 orang yang terjangkit virus corona. Pihak keluarga dari Rifani, Nila Aswita merasa bersyukur dan mengucap terima kasih kepada seluruh yang terlibat, khususnya pemerintah yang dengan cepat menanggapi permohonannya tersebut.

“Puji Tuhan, akhirnya anak-anak bisa dipulangkan dengan segera, dan kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua yang terkait dalam evakuasi ini terutama pemerintah,” katanya.

Namun untuk penjemputan ke bandara, ia mengatakan, masih menunggu kabar dari anaknya dan pemerintah.

“Kami belum tahu apa kami yang menjemput sendiri atau bagaimana, karena kami belum mendapat kabar selanjutnya. Kami pun berharap anak-anak bisa sampai dengan selamat dan sehat walafiat,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ikbal mengatakan, pihaknya akan melakukan pemantauan terhadap mahasiswa yang datang dari Cina ke Indonesia, khususnya Kota Serang sekitar dua bulan. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi adanya penyebaran virus corona, sekaligus memastikan jika mereka terbebas dari virus tersebut.

“Nanti mereka juga akan diberikan surat kewaspadaan dan kami lakukan pemantauan sekitar dua sampai tiga bulan. Pastikan mereka ini aman, dan jika ada indikasi terpapar tentu kami akan segera lakukan penindakan, seperti pengambilan sampel. Nantinya sampel itu akan kami kirim ke Kemenkes untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tuturnya.

Apabila terjadi sesuatu hal yang terburuk, pihaknya akan berkoordinasi untuk merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih memadai secara peralatan dan penanganannya. Sebab, saat ini RSUD Kota Serang belum memiliki ruang isolasi atau ruang khusus untuk menangani kasus seperti corona. Namun, jika hanya beberapa gejala, pihaknya yakin bisa melakukan penanganan dengan segera.

“Memang secara khusus tidak ada (ruang isolasi), akan tetapi kondisional. Jika memang ada yang terinfeksi dan membutuhkan ruang khusus kami akan menyiapkan rujukan terdekat ke RSUD Dradjat Prawiranegara, atau pun RSUD Banten,” katanya.

Namun, saat ini pihaknya belum mendapat informasi dan data resmi jumlah warga Kota Serang yang akan pulang ke Indonesia dan kembali ke rumahnya.

“Belum, kami belum dapat data resminya ada berapa jumlah warga. Tapi kami siap untuk memantau dan menanganinya,” ujarnya.

Siapkan penjemputan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyiapkan kepulangan mahasiswa Tiongkok asal Banten khususnya mahasiswa asal Kabupaten Serang.Dalam hal ini Pemkab Serang menyiapkan pembelian tiket dan melakukan penjemputan ke bandara.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Serang Saepudin. Menurut dia, Pemkab Serang telah menyiapkan tiket untuk kepulangan mahasiswa yang ada di Tiongkok asal Banten. Semua mahasiswa asal Kabupaten Serang dan Banten umumnya tersebut tertahan di Tiongkok saat mewabahnya virus corona dan menginginkan untuk dilakukan evakuasi.

“Sudah disiapkan tiket kepulangannya. Jadi yang menjemput di bandara itu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Serang, BPBD Kabupaten Serang dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang,” katanya kepada wartawan, Senin (3/2/2020).

Dia mengatakan, Dinsos Kabupaten Serang dalam hal ini akan menyiapkan pascanya saja atau jika ada yang terkena wabah virus corona, maka Dinsos Kabupaten Serang menyiapkan tempat karantinanya. Namun sejauh ini, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah provinsi (Pemprov) Banten untuk kepulangan mahasiswa tersebut dan penanganan setelah kepulangan mereka.

“Kalau kami kan penanganan setelah kepulangannya. Kalau ada yang terkena virus dan butuh karantina, maka kami siapkan,” ujarnya.

Kepulangan para mahasiswa tersebut dikatakan paling lama dua hari sudah sampai ke Banten. Nantinya mereka akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh tim medis sebelum sampai ke Banten.

“Paling di bandaranya nanti mereka dilakukan pemeriksaan kesehatan dulu. Baru nanti mungkin sekitar dua harian mereka sampai ke Banten,” tuturnya. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here