Dinsos Kota Serang Terima Banyak Aduan Soal Anjal dan ODGJ

SERANG, (KB).- Anak jalanan (anjal) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mendominasi pengaduan mayarakat yang masuk ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang. Khusus ODGJ, Dinsos menduga, Kota Serang sering menjadi tempat buangan.

“Sekarang ini yang paling banyak, adalah anjal dan ODGJ. Ini sering kami temui dan kami razia bersama Satpol PP Kota Serang. Anjal dan ODGJ ini kami temukan di wilayah Kota Serang,” kata Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Sosial (Resos) pada Dinsos Kota Serang Mustofa, Selasa (16/4/2019).

Ia menuturkan, pihaknya telah berupaya mengatasi persoalan tersebut, meski diakuinya belum optimal. “Tapi nanti ke depan, kami akan lebih tingkatkan lagi. Semoga ada perubahan, termasuk juga perubahan anggaran,” ujarnya.

Memang banyak masyarakat yang mengadukan terkait anak jalanan dan ODGJ. Karena ini menyangkut kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat Kota Serang. “Kami tidak diam terkait laporan dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui Rabeg. Kami langsung bergerak cepat turun ke lapangan,” ucapnya.

Berdasarkan data, dia mengatakan, banyak aduan terkait ODGJ yang tidak memiliki identitas sama sekali. Bahkan, setiap minggunya berbeda-beda. “Terkait juga dengan anjal, yang sering dipertanyakan dan dijadikan rujukan bagi para mahasiswa untuk bahan penelitian,” tuturnya.

Menurut dia, Kota Serang ini menjadi salah satu tempat atau dropping bagi oknum untuk membuang ODGJ. “Bisa jadi Serang ini menjadi tempat dropping ODGJ. Karena, setiap minggunya berbeda-beda. Selalu saja ada yang baru,” katanya.

Kemudian, ada juga gelandangan dan pengemis serta pekerja seks komersial (PSK). Untuk jumlah anjal saat ini yang telah ditangani Dinsos sebanyak 142 anak, sedangkan untuk ODGJ lebih dari 100. “Itu pun sebagian ada yang dipasung sekitar 34 orang dan sekitar 90 lebih itu berada di dalam rumah rehabilitasi,” ujarnya.

Seharusnya, ucap dia, ODGJ dilakukan pengobatan oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) bukan Dinsos. “Setelah sembuh, baru pihak kami yang melakukan rehabilitas. Harusnya seperti itu, bukan langsung dikirimkan ke Dinsos,” ucapnya. (Rizki Putri/RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here