Dimakamkan di Baqi dan Sharaye, 15 Jemaah Haji Banten Wafat di Tanah Suci

Sebanyak 15 jemaah haji asal Provinsi Banten wafat di Arab Saudi. Hal itu berdasarkan rekapitulasi laporan yang diterima Kemenag Banten hingga Ahad (25/8/2019).

“Total 16 jemaah Banten yang wafat, tetapi seorang jemaah wafat di RS Haji Jakarta. Sedangkan 15 jemaah haji wafat di Arab Saudi. Semoga almarhum dan almarhumah diampuni segala dosanya dan segala amal ibadah diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran,” kata Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Banten H. Machdum Bachtiar, Ahad (25/8/2019).

Ia mengatakan, jemaah haji yang wafat dimakamkan di pemakaman Baqi dan Sharaye. Laporan terakhir yang masuk Ahad siang yakni jemaah wafat yakni asal Kota Tangerang Selatan dari Kloter 41 JKG atas nama Hj. Siti Hawa Lismawarni Awaludin Yusuf binti Awaludin. “Almarhumah wafat di RS Arab Saudi,” tuturnya.

Sementara itu, Sekjen Kemenag M. Nur Kholis Setiawan mengatakan, pemerintah merencanakan untuk mempertahakan sistem zonasi penempatan jemaah haji Indonesia.

“Hasil evaluasi awal dengan jajaran Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, sistem zonasi akan dipertahankan pada musim haji mendatang,” kata M. Nur Kholis Setiawan usai meninjau hotel 713 di Misfalah dan 206 di Syisah, Mekkah, Ahad (25/8/2019).

Tahun ini, kali pertama Kementerian Agama memberlakukan sistem zonasi di Mekkah. Ada tujuh zona hotel jemaah, yaitu: Syisah, Syisyah-Raudlah, Mahbas Jin, Raudlah, Misfalah, Jarwal, dan Rey Bakhsy.”Sistem ini dinilai efektif. Secara psikologis jemaah terlihat lebih nyaman dan percaya diri karena kumpul dengan komunitasnya,” ujarnya.

Sistem zonasi juga memudahkan petugas, salah satunya dalam penyajian menu katering sesuai khas daerahnya. Meski demikian, Sekjen menyampaikan bahwa ada sejumlah catatan penguatan ke depan. Salah satunya, konfigurasi petugas. Ini mencakup komposisi petugas yang lama dan baru, lintas instansi, termasuk juga komposisi daerah.

“Beberapa kejadian tahun ini, ada sejumlah jemaah yang lupa arah jalan pulang hingga sampai zona yang berbeda. Kadang ada kendala bahasa saat akan mengidentifikasi asal sektor dan hotelnya,” ujar M Nur Kholis seperti dikutip laman resmi Kemenag.

Penguatan lainnya pada aspek konfigurasi hotel. M Nur Kholis berharap penempatan hotel jemaah bisa diatur sedemikian rupa agar tidak sampai terjadi pecah kloter. “Atau, meski satu hotel, lantainya tidak berjauhan sehingga memudahkan dalam layanan,” tuturnya.

Tiga tahun terakhir ikut terlibat dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Sekjen Kemenag memastikan perbaikan terus dilakukan berdasarkan evaluasi penyelenggaraan haji di setiap tahunnya. “Catatan evaluasi selalu kami jadikan lessons learned untuk perbaikan penyelenggaraan tahun mendatang,” ujarnya menandaskan.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here