Digusur Paksa, Warga Sekitar Bandara Soetta Siapkan Perlawanan

TANGERANG, (KB).- Warga RW15, Desa Rawa Rengas, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, siap menghadang eksekusi paksa yang akan dilakulan Pengadilan Negeri Tangerang atas tanah dan bangunan yang mereka tempati. “Kami akan melakukan segala cara untuk mempertahankan harta kami,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Desa Rawarengas Yahya Anshori, Rabu (26/6/2019).

Pernyataan Yahya tersebut, disampaikan menyikapi surat teguran (aanmaning) dari Pengadilan Negeri Tangerang yang memberikan tenggat waktu 8 hari terhitung dari Senin (1/7/2019), untuk mengosongkan lahan tersebut. “Kami tak punya harta dan apapun lagi, melawan adalah perjuangan buat kami,” katanya.

Surat yang ditandatangani juru sita Pengadilan Negeri Tangerang Burhanudin tersebut, memangil warga untuk datang ke Pengadilan Negeri Tangerang Senin (1/7/2019). Warganya juga diminta mengosongkan lahan tempat mereka tinggal untuk dijadikan proyek Runway 3 selama 8 hari.

Menurut dia, warga kini telah melakukan persiapan dan menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. “Kami juga sudah sampaikan masalah ini ke kepala desa dan pihak kepolisian,” ujarnya.

Ratusan warga Desa Rawarengas hingga kini masih bertahan, karena belum menerima ganti rugi atas bidang tanah dan rumah mereka yang tergusur proyek perluasan Bandara Soekarno-Hatta tersebut, seperti di RW 15, saat ini 145 kepala keluarga atau 750 jiwa masih bertahan.

Belakangan diketahui jika lahan yang mereka tempati tersebut, berstatus sengketa, karena diklaim beberapa warga. Alhasil, uang ganti rugi mereka tertahan, karena dikonsinyasi atau dititipkan ke Pengadilan Negeri Tangerang.

Ancam naikan layang-layang

Selain itu, warga mengancam menaikkan layang-layang dan pemblokiran jalan sampai tuntutan mereka terpenuhi. “Kami tahu aksi ini melanggar dan mengancam keselamatan penerbangan, tapi mungkin dengan cara ini bisa membuka mata semua pihak terkait, agar memerhatikan nasib kami, warga kecil,” ucap koordinator warga Wawan Setiawan.

Ia memastikan, aksi warga akan terus berlanjut sampai ganti rugi lahan dan tanah mereka dibayar. “Tuntutan kami cuma satu berikan hak hak kami,” tuturnya.

Menurut dia, di RW15 saja ada sekitar 145 kepala keluarga atau 750 jiwa menunggu pembayaran 138 bangunan dan 63 bidang tanah. “Kalau belum dibayar, kami tidak akan hentikan aksi,” katanya. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here