Difasilitasi Bank Indonesia Banten, Buku Terjemah Kitab Syekh Nawawi Al-Bantani Diluncurkan

SERANG, (KB).- Bank Indonesia Provinsi Banten telah mencetak dua judul kitab Syekh Nawawi Al-Bantani, yaitu Nasoihul Ibad (Penyucian Jiwa) dan al-Aqdu-ts Tsamin (Pokok Ajaran Islam). Buku tersebut didistribusikan kepada lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi dan lembaga keagamaan. Bank Indonesia juga menjadi tempat “grand launching” dan diskusi mengenai kitab Syekh Nawawi Al-Bantani, Selasa (8/10/2019).

Acara dihadiri tak kurang dari 280 undangan. Panitia mengundang para kiai senior yang berasal dari seluruh kabupaten di Banten, tokoh masyarakat, para birokrat, dan kelompok profesional. Sisanya sebanyak 70% undangan diisi oleh agen utama perubahan Indonesia yaitu para guru dan dosen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja dalam sambutan tertulisnya mengatakan kegiatan mencetak dan membedah buku karya ulama internasional yang asli Banten ini adalah bentuk komitmen BI untuk kemajuan wisata ruhani di Banten sehingga masyarakat dapat mengambil teladan dari ulama besar ini dan memahami pemikiran beliau.

Diskusi buku yang berlangsung dari jam 10.00 hingga 12.00 WIB itu dimoderatori oleh Cecep Nikmatullah M.Pd dari Raksa Ajar dan bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Ubaydillah Anwar selaku Ketua Tim Penerjemah dari Raksa Ajar, dan H. Agus Setiawan, SH. MH., selaku Pembina Pesantren Digital Indonesai (PEDI).

Agus Setiawan dalam pemaparannya menyampaikan bahwa awalnya kegiatan menerjemahkan kitab-kitab Syaikh Nawawi ini berangkat dari sebuah niat agar kitab-kitab Syaikh Nawawi bisa dibaca oleh masyarakat Banten, utamanya yang bukan lulusan pesantren. 

“Banyak orang bicara Syekh Nawawi di Banten ini, banyak orang mau pakai nama besar beliau,  tapi isi bukunya tidak tahu. Jangankan isi bukunya, judul bukunya saja masih banyak yang belum tahu. Kenyataan ini harus diresponi secara tindakan, salah satunya dengan menerjemahkan ini, bukan  dengan mengeluh atau menghimbau,” jelas Agus yang disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara, Ubaydillah Anwar menyoroti isi buku dan sosok Syekh Nawawi. Buku Nashoiul Ibad, menurutnya, adalah buku yang sangat pas dijadikan kajian tidak hanya di pesantren, tapi di semua tempat. “Mestinya, buku ini dikaji dan dijadikan materi pengajian di kantor swasta, pemerintah, kampus, dan ruang-ruang publik di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Ubaydillah, dari Syekh Nawawi, masyarakat Banten dan Indonesia bisa mengambil dua hal penting, yaitu cintanya kepada ilmu pengetahuan. Agama Islam adalah agama yang menempatakan ilmu sebelum ibadah atau amal. “Semua perintah Allah di agama hanya bisa dibumikan dengan ilmu,” tegasnya. 

Kedua, soal ibadah sosial. Syaikh Nawawi membuktikan kepada dirinya mengenai hal ini. Beliau aktif mengajar, aktif menulis, dan aktif dalam gerakan sosial. “Artinya, ibadah sosial harus dipahami sebagai  lanjutan dari ibadah individual,” jelas Ubaydillah.

“Buku Nasoihul Ibad ini,” tambah Ubaydillah, “Hanya tidak cocok dengan satu kelompok manusia, yaitu menusia yang yakin mampu membuat Malaikat Izrail gagal menemukan dirinya saat nyawanya mau dicabut,” candanya menutup paparannya yang disambut gerrr hadirin.

Diketahui, Raksa Ajar & PEDI (Pesantren Digital Indonesia) telah berhasil mengumpulkan 38 judul dan telah menerjemahkan 16 judul. Menurut informasi yang dihimpun, Syekh Nawawi menulis tidak kurang dari 114 buku yang tersimpan di Belanda. Tapi riset terakhir yang dilakukan oleh Dr. Mufti Ali dari UIN Banten menyimpulkan jumlah buku yang ditulis sebanyak 41 judul.

Syekh Nawawi Al-Bantani adalah ulama internasional yang aktif menulis. Buku-bukunya banyak beredar di kampus-kampus besar dunia, museum internasional, dan sejak zaman penjajahan telah menjadi kajian utama para ulama Indonesia. Atas kiprahnya di bidang keilmuan Islam, beliau diberi gelar Bapak Kitab Kuning Indonesia. (DE)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here