Dies Ke-38 Green University

Ahmad Sihabudin.*

Oleh : Ahmad Sihabudin

Mengatasi yang sulit dimulai dari yang mudah dulu. Karya besar dikerjakan mulai dari yang kecil. (Lao Zi)

Dalam ensiklopedia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia Dies Natalis adalah peringatan atas hari lahir, dapat juga dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan. Oleh karena itu, biasanya peringatan dirayakan dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Istilah Dies biasanya lebih dikenal di kalangan perguruan tinggi. Sebuah perguruan tinggi yang punya fungsi utama melahirkan para ilmuwan akademisi, sumber daya manusia yang berkualitas.

Dies sebuah universitas dapat dimaknai dengan beragam cara oleh warga sivitas akademik universitas yang merayakannya. Berbagai kegiatan ilmiah, berkesenian, olah raga maupun permainan ”fun game” digelar penuh sukacita sivitas menyelenggarakannya. Mulai dari pengelola gedung sampai dengan pimpinan universitas turut serta mengisi rangkaian acara Dies Natalis.

Dies bisa juga berarti melihat dan mengenang sebuah perjalanan panjang. Peristiwa itu selalu disambut dengan pengharapan akan makin bertambahnya kedewasaan. Universitas Sultan Ageng Titayasa (Untirta), 1 Oktober 2019 ini merayakan hari jadinya ke-38. Jelang Dies tepatnya Kamis 29 Agustus 2019 Menteri Riset dan Teknologi, dan Pendidikan Tinggi resmi melantik Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang baru Dr. Fatah Sulaiman untuk periode 2019-2023, melanjutkan rektor sebelumnya Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd di Gedung Auditorium Kemenristekdikti di Jakarta. Tulisan singkat ini tidak akan membahas kebelakang bagaimana Untirta, tetapi lebih kepada bagaimana menjawab visi Rektor Untirta yang baru ini dengan mengusung Jargon “Integrated, Smart & Green University” .

Integrated, smart & green university

Dalam sebuah paparan singkatnya di sela sambutan beberapa acara yang saya ikuti, integrated, dapat bermakna menggabungkan seluruh potensi kampus, baik potensi fisik maupun non fisik dengan filosofi together make stronger. Integrasi ini juga menciptakan lingkungan belajar yang positif di mana dosen, staf tenaga kependidikan dan mahasiswa dari kelima zona kampus yang dimiliki Untirta yakni Pakupatan, Cilegon, Ciwaru, Kepandean, dan kawasan kampus baru Sindangsari, dapat berinteraksi dengan nyaman dan tercipta atmosfer akademik yang berkualitas.

Implementasi Sistem Manajemen Terpadu akan mengintegrasikan semua sistem dan proses organisasi kedalam satu kerangka kerja yang lengkap. Untuk mewujudkan hal ini maka akan dibangun konektivitas antar zona kampus yang ada menggunakan jaringan internet dengan backbone fiber optic dan perangkat Sistem terintegrasi berbasis ICT. Untirta Kampus Sindangsari akan menjadi command center bagi zona zona kampus Untirta lainnya yang tersebar di 5 zona saat ini.

Smart university, mengandung pengertian tercapainya kampus Untirta yang berbasis teknologi dan sistem terintegrasi berbasis ICT. Di dalamnya dibangun dan diterapkan fasilitas smart office and organization, smart building management, smart finance, smart meeting, untirta command center, smart laboratorium, dan lain-lain.

Sedangkan green university dapat dimaknai dengan melakukan langkah-langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan green university meliputi: konservasi, efisiensi, produktivitas, Harmonisasi dengan lingkungan dan pelayanan sosial. Green Univesity ini secara operasional tercermin dalam tata kerja berdasarkan prinsip-prinsip Good Governance (G), Relevancy (R), Enterpreneurship (E), dan Networking (N). “GREN”

Green university

Sebagai bagian dari sivitas akademik Untirta tentu menyambut gagasan ini dengan harapan apa yang saya tulis tentunya sesuai harapan rektor baru, dan tentunya harapan seluruh sivitas Untirta, ini merupakan sekadar urun rembug pendapat. Dalam pandangan saya, andaikan saja green university ini terwujud, integrated dan smart university automatis juga terwujud karena dengan mengoperasional “GREN”;

Good governance, berarti terwujudnya tata kelola kampus yang baik secara efektif dan efisien untuk kepentingan sivitas dan masyarakat, secara bertanggung jawab sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menghindari kepentingan diri sendiri seperti korupsi, kolusi, serta nepotisme. Tata kelola kampus sepenuhnya menerapkan prinsip efektif efisien dalam melayani seluruh sivitas dan masyarakat dengan adaptif pada kebutuhan lingkungan khususnya untuk Banten, lingkungan regional, nasional, maupun lingkungan mancanegara.

Relevancy, dapat berarti ada keterpautan, bersangkut paut, berguna secara langsung. Relevansi berarti kaitan, hubungan, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal. Salah satu relevansi internal, misalnya menyangkut kurikulum untuk setiap program studi yang di Untirta, bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu serasi antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi, dan kompetensi yang dibutuhkan lingkungan Untirta.

Konsep relevan ini punyak makna multidimensi artinya semua aspek baik kegiatan akademik mulai dari proses belajar mengajar, penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat perlu mengacu pada konsep relevansi sebagaimana yang dimaksudkan dalam green university, yaitu idealnya ada keterpautan antara misalnya dalam kegiatan akademik proses belajar melalui RPS, kurikulum, kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat sivitas Untirta dalam menjawab kebutuhan lingkungan.

Entrepreneurship. Memaknai entrepreneurship yang dimaksud dalam green university, tentunya saya mulai dari sebuah kata entrepreneur dan entrepreneurship yang berasal dari bahasa Prancis, entreprendre yang dapat diartikan sebagai memulai atau berusaha melakukan tindakan. Dalam perkembangannya, kedua istilah ini lebih banyak digunakan dalam dunia ekonomi atau bisnis.

Secara umum pengertian entrepreneurship adalah proses kegiatan kreativitas dan inovasi menciptakan perubahan dengan memanfaatkan peluang dan sumber-sumber yang ada untuk menghasilkan nilai tambah bagi diri sendiri dan orang lain serta memenangkan persaingan.

Mengoperasional entrepreneurship dalam green university, tentunya dapat berarti menyangkut kreativitas dan inovatif yang harus dimiliki sivitas Untirta dalam menghadapi satu situasi lingkungan yang mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis, dengan memanfaatkan peluang dengan sumber yang ada untuk menghasilkan nilai tambah. Sebagai contoh dalam mengoptimalkan fungsi-fungsi laboratorium yang ada pada program studi, misalnya laboratorium audiovisual yang pada awalnya diproyeksikan juga sebagai cikal bakal lembaga penyiaran komunitas, berlanjut ke lembaga penyiar publik.

Hal tersebut selain digunakan untuk melayani kebutuhan proses belajar mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Dengan kata lain harus punya fungsi lain untuk kepentingan lingkungan masyarakat. Laboratorium biologi, kimia, misalnya juga dapat dioptimalkan melayani kebutuhan masyarakat akan sertifikasi halal misalnya dengan bekerja sama dengan MUI Banten.

Perbedaan antara entrepreneurship dengan entrepreneur adalah pada proses dan pelakunya. Jika entrepreneurship merujuk pada proses atau kegiatan, maka entrepreneur lebih merujuk pada pelaku. Ini berarti bahwa warga sivitas Untirta harus memiliki jiwa entrepreneur.

Networking, selanjutnya konsep terakhir dari green university ini networking. Dalam beragam literatur dapat berarti adalah membangun hubungan dengan orang lain atau organisasi yang berpengaruh terhadap kesuksesan profesional maupun personal. Karena networking lebih dari sekadar berkenalan, melainkan berbagi potensi dan informasi, mendapatkan integritas dan mempengaruhi, dan menciptakan visi yang mengarahkan kemampuan masing-masing individu untuk melakukan sesuatu terhadap orang lain.

Dalam dunia usaha, networking sendiri dapat diartikan dengan menjalin hubungan dengan banyak orang, tanpa melihat manfaat saat ini saja tapi juga masa depan. Seperti yang dikatakan oleh dosen saya dulu, bangun networkingmu seluas mungkin. Saat ini mungkin kamu belum membutuhkannya, tapi di kemudian hari, who knows?

Mengoperasional networking dalam konsep green university tentunya bukan sekadar membangun hubungan tetapi lebih pada membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan yang dilakungan sivitas Untirta.

Saya memaknai sukses atau tidaknya networking yang dilakukan adalah terletak pada seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada jejaring lingkungan kita dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Demikian beberapa hal terkait dengan green university menurut pandangan dan pemahaman yang mungkin saja keliru dalam mengoperasional GREN “green university”. Selamat hari jadi Kampus Tercinta, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (Penulis, Guru Besar Ilmu Komunikasi Lintas Budaya Untirta)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here