Dianggap Sesuai Baku Mutu, 10 Perusahaan Buang Limbah ke Sungai Cidurian

Sungai Cidurian Tercemar

SERANG, (KB).- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang mencatat ada 10 outfall atau saluran pembuangan perusahaan dari berbagai bidang industri yang langsung ke aliran Sungai Cidurian. Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengklaim, hasil sisa olahan yang dikeluarkan perusahaan tersebut masih sesuai dengan baku mutu.

Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan pada DLH Kabupaten Serang, Muas Sisulhaq mengatakan, dari hasil pemantauannya selama ini ada 10 perusahaan yang outfall-nya berhubungan langsung dengan aliran Sungai Cidurian. “Itu ada sekitar 10 perusahaan,” katanya kepada Kabar Banten di kantor, Jumat (12/1/2018).

Ia menuturkan, terkait baku mutu, selama ini sudah beberapa kali melakukan pengawasan dan aliran limbah yang dikeluarkannya masih sesuai baku mutu. Bahkan, dari 10 perusahaan beberapa ada yang sudah mendapat proper atau sertifikasi terkait pengolahan limbahnya. “Itu konfirmasi yang di dalam katanya masih sesuai,” ujarnya.

Sepuluh perusahaan tersebut bergerak di berbagai bidang industri, mulai dari kimia, gula hingga tekstil. Ia mengatakan, terus melakukan pengawasan dari luar atau indikasi sungai. Hasilnya, beberapa perusahaan tersebut masih ada yang baik instalasi pengolahan air limbah (IPAL)-nya, ada yang perlu diperbaiki dan juga dilakukan pembinaan, khususnya yang di anak sungai. “Beberapa kali ke sana, setiap bulan kami memantau,” ucapnya.

Ia menuturkan, secara aturan perusahaan memang diperbolehkan membuang limbah ke sungai. Namun, sebelum dibuang hasil olahan tersebut harus melewati proses pengolahan dan sesuai baku mutu. Selama ini, dia menuturkan, jika aliran Sungai Cidurian memang tercemar.

Berdasarkan pantauannya yang terdampak dari sungai tersebut mulai dari sawah sampai tambak. Namun, tutur dia, untuk memastikan hal tersebut, mematikan atau tidak ada di Dinas Pertanian. “Tapi, secara kasat mata itu digunakan petani. Saya lihat masih dipakai mungkin, karena enggak ada air lagi,” katanya.

Meski demikian, ujar dia, secara umum kondisi aliran sungai masih belum membahayakan. Namun, dari hasil pemantauannya ada satu titik di Desa Tersaba, Kecamatan Tanara yang jika kemarau tiba kondisinya sudah di atas baku mutu. “Itu masuk kategori tercemar ringan dan sedang,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Sri Budi Prihasto mengatakan, kondisi menghitamnya aliran Sungai Cidurian dikarenakan debit air yang sedikit. Hal tersebut juga bukan sesuatu yang baru, sebab setiap kali debit air kurang, maka air akan menghitam. “Jadi, akumulasi pembuangan dulu. Kalau airnya menggenang dipastikan airnya hitam, itu sudah lama,” tuturnya.

Menurut dia, agar kondisi aliran sungai tidak menghitam, solusi yang tepat, adalah dilakukan pengerukan, agar airnya kembali mengalir. Sebab, saat ini kondisi Sungai Cidurian sudah dangkal terutama di hilirnya. Namun, untuk proses pengerukan merupakan kewenangan balai besar. Saat ini, pihaknya menuturkan, sudah menyampaikan permintaan pengerukan tersebut, hanya saja masih belum ada respons.

“Balai besar itu kewenangannya, LH pada prinsipnya pengendaliannya saja dari semua perusahaan yang membuang limbah cair itu kami awasi,” katanya. Ia mengatakan, sebenarnya pembuangan limbah cair ke sungai tidak masalah, asalkan melalui prosesIPAL yang baik. Selama ini, pihaknya sering melakukan pengawasan pembuangan air limbah ke sungai tersebut. “Sebulan dua kali,” ujarnya. (DN)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here