Diancam Disomasi Soal Masjid Agung Kota Serang, Syafrudin Tetap Akan Menjalankan

Syafrudin, Wali Kota Serang.*

SERANG, (KB).- Wali Kota Serang Syafrudin angkat bicara mengenai rencana somasi yang akan dilayangkan Gerakan Pengawal Serang Madani (GPSM) terkait penetapan Masjid Agung Kota Serang. Ia mengatakan, akan tetap menjadikan Ats-Tsauroh sebagai lokasi pembangunan Masjid Agung Kota Serang.

Syafrudin menjelaskan, penetapan Masjid Agung Kota Serang tersebut sudah menempuh berbagai mekanisme seperti studi kelayakan (Feasability Study) maupun Detail Engineering Design (DED).

“Kami kan punya mekanisme, itu sudah ditempuh baik FS dan DED. Jadi tetap kami akan menjalankan sesuai aturan,” kata Syafrudin, Rabu (26/2/2020).

Baca Juga : Alami Penolakan, Penetapan Lokasi Masjid Agung Kota Serang Sudah Lalui Tahapan

Menurut dia, wajar jika ada pihak yang menginginkan pembangunan Masjid Agung Kota Serang tetap dibangun di alun-alun. Karena setiap orang memiliki keinginan yang berbeda.

“Wajar-wajar saja namanya juga keinginan. Saya juga penginnya Masjid Agung itu ada di depan rumah saya, itu lebih bagus, saya juga ingin menuju surga,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua GPSM Enting Abdul Karim mengatakan, sebagai bentuk penolakan atas penetapan lokasi Masjid Agung Kota Serang, pihaknya akan melayangkan somasi.

“Ini semua ulama-ulama se-Kota Serang tanda tangan untuk somasi wali kota terkait dengan penetapan masjid di Ats-Tsauroh. Tetap kami menghendaki di alun-alun, setidak-tidaknya kalau di Alun-alun Barat tidak bisa sekitar alun-alun,” kata pimpinan Ponpes Al-Islam itu.

Baca Juga : Ditolak, Penetapan Lokasi Masjid Agung Kota Serang

Keinginan untuk tetap berada di sekitar Alun-alun Kota Serang karena keberadaan Masjid Agung Kota Serang nantinya bukan hanya sebatas tempat beribadah, tetapi juga akan menjadi identitas (ikon) Kota Serang sebagai kota madani.

“Yang menandatangani somasi ini, perkecamatan kami jatah itu tujuh, ada ketua MUI, majelis taklim, BKPRMI, FSPP ditambah tiga tokoh yang ada di kecamatan,” ucap dewan penasihat Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) itu.

Selain itu, kata dia, pendaftaran alun-alun sebagai cagar budaya dilakukan setelah peletakan batu pertama oleh Wali Kota Serang sebelumnya TB Khairul Jaman. Hal inilah yang dianggapnya sebagai sesuatu yang politis.

“Kalau nanti somasi tidak digubris, kemungkinan masyarakat Kota Serang akan kami kerahkan, kan sekarang konsepnya demokrasi, setelah didemo baru kerase (terasa),” ujarnya.

Duduk bersama

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Serang Khoeri Mubarok menyarankan agar Pemkot Serang bisa duduk bersama dan berdialog bersama pihak yang menolak penetapan Masjid Agung Kota Serang.

“Tentunya kami mendukung itikad baik Kota Serang membangun kawasan Masjid Agung Kota Serang, apalagi sudah drencanakan FS dan DED-nya. Adapun adanya pihak yang tidak setuju terkait rencana ini, kami berharap wali kota bisa duduk bersama,” katanya.

Ia menilai, penetapan lokasi Masjid Agung Kota Serang bukan masalah tepat atau tidaknya, tetapi lebih kepada bagaimana nantinya Pemkot bisa memakmurkan Masjid Agung Kota Serang agar bisa menjadi pusat kegiatan dan pengembangan masyarakat Kota Serang.

“Tanggal 6 Februari juga (kesepakatan) dihadiri oleh ulama-ulama. Intinya kami berharap wali kota bisa berdialog dengan pihak-pihak yang tidak setuju,” ujarnya. (Masykur/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here