Di Tangerang Selatan, Kasus Kekerasan Anak Meningkat

TANGERANG, (KB).- Jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengalami peningkatan. Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi yang digelar pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perlindungan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Tangsel.

“Sebelumnya, kasus yang ditangani sekitar 86 kasus, namun pada data saat ini menurut rapat koordinasi kemarin sekitar 130-an kasus, itu sudah mencakup keseluruhan, baik pelecehan anak, penganiayaan, dan perempuan,” kata Khariati, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Tangsel, Jumat (13/10/2017).

Namun demikian, tutur dia, meningkatnya jumlah kasus tersebut bukan naik, karena volume kasusnya bertambah banyak, tetapi dikarenakan sistem jejaring pihaknya di lapangan sudah bagus. Di mana, ujar dia, masyarakat mulai memberikan informasi dan melaporkan kasus kekerasan di lingkungannya. “Jadi, mereka sekarang sudah banyak yang berani lapor, karena kami sering sosialisasi kepada masyarakat,” ucapnya.

Alasan klasik terjadinya kasus kekerasan terhadap anak, yakni lemahnya dalam pola asuh keluarga terhadap anak, kurangnya kepedulian terhadap anak, sehingga tidak terdeteksi dari awal dan yang terakhir, adalah faktor ekonomi. “Sebenarnya yang melakukan kekerasan hal itu kebanyakan orang di sekitar lingkungan tersebut, biasanya dari tetangganya sendiri, karena kurang kepedulian, lemahnya dalam pola asuh keluarga terhadap anak,” tuturnya.

Perhatikan pola asuh

Selain meningkatnya kasus kekerasan anak, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Tangsel juga menjadi catatan. Ia mengatakan, bahwa kasus penyalahgunaan narkoba pada 2017 di Tangsel meningkat dibanding tahun sebelumnya, di mana terdapat 400-an kasus penyalahgunaan narkoba.
“Tahun kemarin kalau dilihat, ada 200-an kasus penyalahgunaan narkoba, di mana 50 kasus, adalah anak pelajar,” katanya.

Ia mengungkapkan penyalahgunaan narkoba tersebut, disebabkan kurangnya perhatian dan kesalahan dalam pola asuh orangtua. Karena, pesatnya perkembangan teknologi yang didukung pengaruh lingkungan, anak-anak khususnya pelajar menjadi sasaran empuk, bagi para pengedar narkoba.

“Lingkungan dan perkembangan teknologi sangat memengaruhi anak-anak kami, oleh sebab itu perlunya perhatian dan pola asuh yang baik kepada anak, agar anak-anak kami tidak terbawa oleh pergaulan yang negatif, yang akan merugikan diri sendiri,” ucapnya. Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Tangsel, AKBP Heri Istu belum dapat dimintai keterangan terkait jumlah pasti penyalahgunaan narkoba yang sudah ditangani pihak BNNK Tangsel. (DA)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here