Selasa, 20 November 2018
Irhamna Bil Quran, 1 juz per hari

Di Pesantren Ini Santri Hafal 1 Juz Per Hari

Pertama kali memasuki pintu gerbang “Pondok Pesantren Tafidz Irhamna Bil Quran”, tidak ada yang istimewa. Semua tampak biasa saja. Bangunan pesantrennya jauh dari kesan mewah. Di halaman muka terdapat musola putra dan putri, rumah ustaz, kantor, gubuk tempat menerima tamu terbuat dari bambu, dan warung santri. Semua nampak sederhana.

Awalnya kami ragu, ini adalah pesantren yang beberapa bulan terakhir menjadi buah bibir di masyarakat Banten.  Menjadi buah bibir, karena pesantren ini berani menawarkan program pendidikan yang spektakuler dan pertama di Indonesia. Program ungggulan dimaksud, yakni: 6 bulan hafal Alquran, 6 bulan lancar baca kitab kuning, 6 bulan hafal 1000 hadits, dan 3 bulan hafal Alfiyah. Banyak yang tidak percaya, tapi tak sedikit yang menilai program tersebut masuk akal. Baik yang percaya maupun tidak percaya, sama-sama besar rasa penasaran dan keingintahuan mereka.

Wajar jika pesatren beralamat di Kampung Pari Desa Pari Kecamatan  Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Di antara mereka, ada yang berkunjung hanya untuk melihat-lihat dan survei untuk sekolah anak, namun tak sedikit yang datang karena tertarik ingin mengetahui metoda pengajaran di Pesantren Irhamna Bil Quran. “Saya tidak sengaja baca di internet. Kebetulan saya sedang nyari pesantren tahfiz untuk anak,” kata Sofyan, salah seorang tamu dari Kabupaten Tangerang.

Sofyan mengaku takjub dengan para santri di Pesantren Irhamna. Sebab, ke mana pun melangkah, di tangannya ada Alquran. Bahkan ketika belanja ke warung, mulutnya terus mendengungkan lafaz-lafaz Alquran. “Terus terang, melihat mereka saya jadi merinding. Di tempat lain, pada usia ini sedang sibuk-sibuknya main games atau berlama-lama sila di warnet. Di sini, anak-anak remaja pada kecanduan Alquran. Memperhatikan mereka, saya tak kuasa untuk tidak menangis. Meskipun mereka bukan anak saya, tapi saya bangga, senang, haru,” katanya.

Sekitar lima menit menunggu, kami diterima dua anak muda. Para santri menyebut mereka dengan nama Ustaz Ano Suharna dan Ustaz Ahmad Rivai. Ustaz Ano merupakan mahasiswa S-2 di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, sedang Ust Rivai jebolan perguruan tinggi di Yogyakarta. Ustad Ano mengemban tugas sebagai Kepala MTs, sedang Ust Rivai sebagai wakil ketua yayasan. Dari keduanya kami tahu, Pesantren Irhamna baru berdiri dua tahun. Namun di usia yang semuda itu, pesantren di kaki Gunung Haseupan itu telah melahirkan puluhan hafidz dan hafidzoh. Rata-rata meraka mampu menghafal Alquran dalam waktu 6 bulan. “Tapi ada beberapa santri yang hafal 30 juz hanya dalam waktu sekitar dua bulan,” kata Ust. Ano.

Ucapan Ustaz Ano tentu saja membuat kami tidak percaya. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa menghafal Alquran sesingkat itu. Rupanya, Ustad Ano membaca keraguan kami. “Nanti Kiai yang akan menjelaskan,” katanya, sambil tersenyum. Tak selang lama, pria yang disebut Kiai itu datang menghampiri kami. Ia menyalami kami satu persatu, sambil menebar guyon gaya kiai NU. Itulah gaya Kiai Taftajani, ulama muda yang sudah malang melintang di dunia pesantren. Setidaknya, ia pernah menimba ilmu selama 3 tahun di Pesantren Turus Pandeglang, dilanjutkan ke Tebu Ireng 9 tahun, Lirboyo 1 tahun, dan keliling ngaji ke beberapa kiai dari Banten hingga Jawa Timur.

“Dari Kabar Banten, ya? Kenapa datangnya dadakan. Kalau ngasih kabar dulu, kan bisa dimasakin segala-gala,” ucapnya, disambut tawa beberapa tamu yang juga menunggu Sang Kiai. Belum juga Kiai Taftajani duduk, kami sudah menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Dari soal sejarah pesantren, hingga kebenaran santri hafal Alquran dalam dua bulan. Bukannya menjawab berondongan pertanyaan, kiai muda tersebut malah memangil seorang santri berusia 13 tahun,  Ahmad Amar Ma’ruf namanya.

Santri cilik asal Karawaci Tangerang merupakan salah seorang peserta program unggulan 6 bulan. Ia berhasil mencapai target, yakni hafal Alquran 30 juz dalam 6 bulan. Padahal, sebelumnya ia tidak memiliki modal hafalan. Bahkan, bacaan Alqurannya juga masih terbata-bata. Karena masih tergolong bocah, kami harus berhati-hati mengajukan pertanyaan. Selain kalimat harus tepat, intonasi juga harus pas supaya santri bertubuh bongsor tersebut nyaman bercerita. “Kalau saya yang menjawab, nanti dikira menghayal,” kata Kiai Taftajani, berseloroh.

Asal Nama Irhamna Bil Quran

Kiai Taftajani kemudian memanggil beberapa santri, Icha (asal Serang), Ukhti Mutiah (asal Riau), Fauzan (asal Riau), dan Dedi (asal Lampung).  Para santri tersebut merupakan peserta super unggulan. Mereka berhasil menghafal 30 juz hanya dalam waktu 2,5 bulan. Tidak hanya itu, mereka bukan hanya mampu menghafal Alquran secara urut ayat dari atas ke bawah, namun juga dibalik dari bawah ke atas. “Kelebihan lain program ini, santri bisa menghafal secara acak ayat, baik dalam satu halaman maupun dengan halaman berbeda,” katanya, seraya mempersilakan kami menguji kemampuan mereka.

Menutup obrolan, Kiai Taftajani menuturkan, metoda  program unggulan di pesantrennya murni hasil penemuan istrinya yang juga seorang hafidzah, Fitriyani Nur Fitroh. “Istri saya menamai metoda hafalan cepat ini dengan nama ‘Irhamna Bil Quran’. Dengan metoda ini, banyak santri yang hafal 1 juz per hari. Bahkan, alhamdulillah tidak sedikit yang hafal 1,5 juz per hari”, katanya. (Syair Asiman)***

2 Warga Banten Juara Hafiz Alquran

Melalui Halaqoh Kubro Tahfidzul Quran, Membentuk Karakter Bangsa


Sekilas Info

Dakwah Mengubah Kebiasaan Jadi Kebaikan

SERANG, (KB).- Setiap orang memiliki kewajiban untuk berdakwah, akan tetapi dakwah juga mempunyai waktu, karena dakwah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *