Di KTP, Warga Baduy Dicatat Penganut Kepercayaan

Seba Baduy

LEBAK, (KB).- Kolom agama pada kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) Suku Baduy di Pedalaman Kabupaten Lebak tercatat sebagai penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, meskipun sebagian ada yang menginginkan secara tegas mencatat sebagai Sunda Wiwitan.

“Kami sebetulnya sebagai penganut agama Selam Sunda Wiwitan, namun terpaksa dicatat sebagai penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Sarkan seorang warga Baduy saat ditemui di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Lebak, Rabu (13/3/2019).

Ia menuturkan, identitas kependudukan baik KTP-el dan KK sangat penting untuk keperluan administrasi negara, terlebih seringkali bepergian ke luar daerah, sehingga ida berusaha membuat dokumen kependudukan dengan mendatangi Kantor Disdukcapil Kabupaten Lebak.

Pengakuan agama masyarakat Baduy sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. Dalam putusannya, Majelis Hakim berpendapat, bahwa kata “agama” dalam Pasal 61 Ayat (1) dan Pasal 64 Ayat (1) bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk penganut aliran kepercayaan.

Artinya, penganut aliran kepercayaan memiliki kedudukan hukum yang sama dengan pemeluk enam agama yang telah diakui pemerintah dalam memperoleh hak terkait administrasi kependudukan.

Pemuka Masyarakat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Saija menuturkan, saat ini masyarakat Baduy juga banyak yang membuat identitas KTP-el dan KK tercatat pada kolom agama sebagai penganut kepercayaan.

Namun, pihaknya juga tidak melarang warganya yang tidak tertulis kolom agamanya atau dikosongkan, karena masih ada masyarakat Baduy yang berkeinginan kolom agama pada identitas kependudukan tersebut tercatat Selam Sunda Wiwitan. “Kami tetap menganjurkan, bahwa warganya memiliki identitas kependudukan sesuai dengan aturan pemerintah,” ucapnya.

Sementara itu, Santa (45) warga Baduy mengatakan, hingga kini identitas kependudukan keluarga pada kolom agama kosong, karena keberatan dianggap sebagai penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Kami sejak turun-temurun sebagai penganut Sunda Wiwitan dan bukan kepercayaan itu,” tuturnya.

Ia menuturkan, sejak 1970 hingga 2013 agama masyarakat Baduy tercantum pada kolom KTP dan KK sebagai agama Sunda Wiwitan. Namun, pada 2013 sampai 2017 dikosongkan, karena adanya UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan dengan diakui enam agama, yakni Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu.

“Kami berharap, ke depan pemerintah bisa mencantumkan kembali agama warga Baduy pada identitas kependudukan tertulis Sunda Wiwitan,” katanya. (SJ/Ant)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here