Di Kota Tangsel, DLH Klaim Udara Masih Baik

TANGERANG, (KB).- Masyarakat Peduli Lingkungan Kota (MALIKA) memprotes kondisi udara di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang dinilai buruk. Koordinator MALIKA Tangsel Fitra Afthama mengatakan, pihaknya mendapati adanya data yang dilansir dari airvisual.com, yang menunjukkan air quality index (AQI) di Tangsel mencapai 248 US AQI.

Artinya, kata dia, angka tersebut menunjukkan, bahwa kualitas udara di Tangsel sangat buruk, bahkan tidak sehat. Ia menilai, kondisi tersebut, karena ketidakpedulian Pemerintahan Tangsel. “Yaitu minimnya ruang terbuka hijau. Di Tangsel hanya memiliki dua taman kota dan keduanya berada di daerah pengembang semua,” ucapnya, akhir pekan kemarin.

Ia menilai, Pemerintah Kota Tangsel seolah tak memiliki perencanaan penataan ruang soal ketersediaan ruang hijau. “Dan seharusnya penyebaran ruang terbuka hijau ini merata di setiap kecamatan. Jangan seolah-seolah membangun ruang terbuka hijau, padahal yang membangun adalah pengembang,” ujarnya.

Untuk diketahui MALIKA sempat menggelar aksi teatrikal memprotes kondisi udara di Tangsel yang dinilai buruk. Dalam aksinya, mereka menggunakan payung hitam, galon air. Beberapa kertas berukuran besar dibentangkan yang menginformasikan kondisi kualitas udara di Tangsel. Mereka menulis, udara di Tangsel terburuk di dunia serta minimnya ruang hijau.

Mereka juga menggunakan masker dan alat pengisap oksigen sebagai simbol kualitas udara di Tangsel tidak layak dihirup serta sebuah galon yang menyimbolkan tabung oksigen bertuliskan “udara bersih”.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel mengklaim, telah memiliki data sendiri, terkait tingkat polusi udara berdasarkan beberapa parameter sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Baku Mutu Udara Ambien Nasional, kualitas udara di Tangsel dalam kategori baik dan sedang.

Sekretaris DLH Tangsel Yepi Suherman menerangkan, bahwa jajarannya terus melakukan pemantauan kualitas udara di 7 wilayah kecamatan se-Tangsel. Dari pemantauan terakhir yang dilakukan di tiga titik berbeda di Kawasan Kecamatan Serpong dan Setu dalam kondisi hijau dan biru.

“Data dari sampel internal yang kami lakukan pengujian di perempatan muncul hasilnya 59,2 baku mutu maksimal 65, selanjutnya di Perum Acolla Park, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, hasilnya 55 dan pemantauan di stasiun kualitas pemantau udara di dekat Samsat Serpong justru hasilnya jauh lebih baik dengan hasil 1,48 ppm (mikrogram) ini, karena di kawasan itu lebih rindang dan banyak pohonnya, sehingga menunjukkan indikator indeks hijau artinya baik dan biru dalam kategori sedang,” tuturnya.

Dengan begitu, lanjut dia, mengacu PP tersebut, maka tidak bisa kualitas udara di Tangsel, dinyatakan buruk. Namun dia juga enggan menyalahi data berdasarkan lansiran airvisual.com tersebut keliru.

“Kalau mengacu PP tersebut, kualitas udara di Tangsel dalam kondisi di bawah batas, artinya masih baik. Tapi, kalau parameter dari luar negeri berbeda, kami tidak berhak mengomentari. Karena punya cara dan indikator masing-masing. Ini juga menjadi masukan kami untuk lebih meningkatkan kawasan hijau dan menjaga kualitas udara di kota kami,” katanya.

Menurut dia, kualitas udara di Tangsel, juga dipengaruhi oleh kota/kabupaten lain yang berbatasan dengan Kota Tangsel. Apalagi, udara tersebut, zat yang bebas dan terbuka.

“Tapi, saat ini Tangsel sendiri kalau dilihat dari exsiting Tangsel, bukan daerah industri, kepadatan kendaraan juga tidak terlalu padat seperti di kota-kota lain di sekitat Tangsel. Hasil pengukuran di beberapa titik, rata-rata kondisi udara kami dalam kondisi normal,” ujarnya.

Selain itu, dia mengingatkan, bahwa Kota Tangsel sebelumnya pernah mendapat penghargaan dalam program langit biru. Hal tersebut, berkenaan dengan tingkat pencemaran udara di Tangsel yang minus serta kualitas udara di Tangsel yang cukup bagus.

“Berturut-turut sejak 2014 dan 2015 Tangsel mendapat penghargaan program langit biru, dengan beberapa parameter, di antaranya uji emisi kendaraan bermotor. Uji emisi kendaraan di Tangsel ini mencapi 90 persen lolos. Artinya, kendaraan yang melintas di Tangsel masih baik dalam emisi gas buangnya, 10 persennya itu, kendaraan solar,” ucapnya. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here