Di Kabupaten Serang, Kopi Belum Jadi Komoditas Unggulan

SERANG, (KB).- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang belum menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan dari sektor perkebunan. Hal itu dikarenakan adanya keterbatasan anggaran untuk pengembangan perkebunan kopi diwilayahnya.

Sekretaris Distan Kabupaten Serang Irawati Erlina mengatakan, saat ini kopi mulai ramai dibicarakan. Namun dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2016-2021 pengembangannya belum tergarap.

“Tapi di RPJMD baru akan kita masukkan, supaya bisa kita kembangkan kopi. Karena kita dengar kopi kita enak,” ujarnya kepada Kabar Banten, Ahad (1/12/2019).

Ira mengatakan, di 2019 sebenarnya pihaknya ingin mulai mendata keberadaan perkebunan kopi tersebut. Akan tetapi karena belum teranggarkan sehingga pendataan itu tertunda.

“Pembinaan terus tapi belum maksimal kan biasanya kita bantu pupuk, pembinaan dan sekolah lapang, tapi belum maksimal kalau hanya pembinaan. Kemarin kita ajukan anggaran tambahan (2020) untuk kopi tapi karena ada pilkada permintaan kita belum terpenuhi. Tapi kita tetap data sekemampuan kita agar 2021 bisa action langsung,” ucapnya.

Namun dirinya berharap, walau belum ada bantuan maksimal pengembangan kopi bisa terus dilakukan. Seperti di Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, kopi yang diolah sudah dibuat kemasan.

“Mudah mudahan itu cikal bakal. Harusnya tanpa bantuan kita kalau aktif dan kreatif bisa kan ada dana desa bisa dipakai. Mudah mudahan sebelum bergerak kita, mereka sudah duluan, kemarin pas ulang tahun Korpri sudah dikemas,” ucapnya.

Saat ini kata Ira, lahan kopi mulai tumbuh dan dikembangkan di beberapa kecamatan seperti Padarincang, Ciomas dan Cinangka.

“Ciomas ada 100 hektare tapi pengembangan, (pemkab) belum dapat apa apa karena baru rencana. Di Mekarsari Cinangka ada 2.500 batang. Disana katanya potensinya. Akan (dikembangkan) nanti karena sekarang belum masuk RPJMD,” ucapnya.

Ia mengatakan, alasan belum masuknya kopi dalam RPJMD, karena empat tahun lalu pasar buah kopi belum booming. Sedangkan saat ini, banyak tumbuh usaha kafe yang terus mengeksplorasi rasa kopi.

“Kita tahu ada kopi tapi jumlahnya enggak besar makanya tidak dimasukan ke RPJMD,” katanya.

Saat ini, kopi asal Kabupaten Serang yang mulai booming yakni kopi Weha. Dirinya mengaku keduluan oleh provinsi dalam pengembangan kopi tersebut.

“Kita keduluan provinsi kebetulan lagi panen jadi booming tukang kopi dari mana mana datang sampai nginap. Jenis di kita itu robusta dan kopi buhun atau lokal. Bahkan yang kata orang Bali kopi buhun itu mantap. Cuma masih alami (pengolahan dan pengembangannya), yang baru dapat silangan itu yang 2.500 batang robusta,” ujarnya.

Sementara, sebelumnya Ketua Komunitas Pecinta Alam Cikolelet Suwanda mengatakan, jenis kopi di daerahnya yakni Robusta buhun atau kecil. Keunggulan dari kopi ini memiliki rasa yang agak asam, tidak terlalu pahit dan ada rasa manis diakhirnya.

“Kalau pemasaran belum besar karena baru produksi dan belum banyak. Biasa saya jual 100 gram Rp 15 ribu bubuk,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk Cikolelet sebenarnya bukan basis perkebunan kopi. Namun lebih pada hutan kopi, dimana kopi disana tumbuh bersama tanaman lain.

“Itu perkiraan 20-30 hektare kopi tapi enggak satu hamparan pisah pisah. Kalau potensi pasar memang lumayan bagus, masalahnya kita cara ambilnya juga masih kaya zaman dulu belum banyak yang matang, yang hijau juga diambil. Kalau saya yang merah saja, petani lain campur, padahal yang bagus itu yang merah. Kedepan mudah mudahan bisa berubah cara ambilnya.  Kita masih butuh pembinaan,” tuturnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here