Di Kabupaten Lebak, Perkebunan Kopi Diharapkan Dongkrak Perekonomian

Kabupaten Lebak memiliki potensi yang cukup besar sebagai daerah lumbung kopi di Provinsi Banten. Saat ini, Kabupaten Lebak gencar melakukan promosi berbagai sektor salah satunya perkebunan kopi.

“Lebak memiliki lahan perkebunan kopi yang cukup luas. Bahkan, kebun kopi di Kabupaten Lebak hampir merata di semua kecamatan. Sehingga, berpotensi menjadi lumbung kopi di Banten,” kata Plt Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak,  Ade, Senin (10/2/2020).

Ia mengatakan, pada tahun 2019, pemerintah daerah telah mengembangkan perkebunan kopi Arabica seluas 30 hektare di Kecamatan Muncang dan Sobang. Hal itu sebagai upaya percontohan kepada masyarakat pedesaan agar dapat membudidayakan perkebunan kopi jenis kopi Arabica.

“Saat ini, permintaan pasar komoditas kopi Arabica cukup terbuka dan sangat menguntungkan petani,” ujar Ade.

Ia menjelaskan, pengembangan perkebunan kopi untuk mendukung program Lebak Sejahtera yang dicanangkan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya. Dimana, program tersebut dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Selama ini, kata dia, pengelolaan perkebunan kopi di masyarakat masih dikelola secara konvensional atau tradisional. Mereka tanam perkebunan kopi, namun ditinggalkan begitu saja tanpa melakukan perawatan.

“Karena itu, kita bekerja keras memberikan penyuluhan-penyuluhan untuk mendampingi petani agar meningkatkan sumber daya manusia (SDM). SDM yang baik akan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas. Jika produksi dan produktivitas meningkat, dipastikan menguntungkan petani,” ujar Ade.

Saat ini, kata dia, harga kopi cukup baik berkisar antara Rp20-22 ribu per kilogram. Menurut dia, produktivitas kopi di Kabupaten Lebak cukup rendah yakni 944,88 Kg/hektare, karena kurang mendapat perawatan.

Pihaknya menargetkan produktivitas kopi sekitar 1,7 ton per hektare, karena memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran. Keunggulan tanaman kopi arabika (coffea arabica) sangat diminati masyarakat juga jauh lebih baik dibandingkan kopi robusta.

“Kami mengembangkan percontohan perkebunan kopi seluas 30 hektare dengan sistem klaster atau kawasan,” ujar Ade.

Hal senada dikatakan Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Siti Samsiah, untuk saat ini jumlah perajin kopi cukup banyak karena bahan baku di Lebak melimpah.

Hal tersebut tentu dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat dan juga penyerapan lapangan pekerjaan. Selain merek Lebak, kata dia, kopi lokal di Banten lainnya di antaranya merek Baduy dan Kupu-kupu.

“Kami berharap berkembangnya usaha kopi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Siti. (Lugay)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here